Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Jokowi semakin gusar mendekati pilpres 2019 karena dia merasa sudah banyak mendzalimi umat Islam sehingga dia takut akan kehilangan mayoritas pemilih. Berbagai carapun dilakukan agar dia terlihat Islami dan terkesan dekat dan membela umat Islam setelah apa yang dilakukan, menyakiti umat.

Dia tidak merasa berdosa telah melakukan banyak kesalahan mulai dari persekusi pengajian, menkriminalkan ulama' sampai dengan memonsterisasi ajaran Islam yang mulia.

Apa saja dosa Jokowi terhadap umat Islam, sehingga dia tidak layak untuk dipilih kembali meskipun berbagai cara pencitraan dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif yang terlanjur menempel pada sosok Jokowi yakni anti Islam.

Dosa Pertama, dia menipu umat dengan janji-janji manis yang terlontar dulu sebelum dia menjadi presiden. Jokowi yang terkesan merakyat dengan pencitraan model blusukan, tiba-tiba menaikkan harga BBM meskipun harga minyak dunia saat itu sedang turun.

Jokowi juga terus menambah utang luar negeri yang semakin menggunung dan menjerat negeri ini semakin kehilangan kemandiriannya. Dia juga tidak berbuat apa-apa saat harga produk pertanian dalam negeri anjlok, sehingga banyak petani rugi.

Ditambah lagi kebijakan import produk pertanian, seperti gula dan beras, semakin menyengsarakan petani lokal. Walaupun berbagai cara dilakukan untuk mengembalikan stigma negatif,  Jokowi tidak pro- rakyat tapi pro-konglomerat.

Kedua, dia tidak peduli saat simbol pemersatu Islam, bendera tauhid dinistakan. Bahkan, penista lebih dibela daripada aspirasi umat Islam yang tersakiti atas aksi pembakaran bendara tauhid oleh oknum banser.  Bahkan, pelaku terkesan dilindungi dengan mencari kambing hitam yang bisa disalahkan.

Setelah desakan umat dengan aksi reuni 212 pelaku diamankan dengan hukuman yang sangat ringan. Kita juga masih ingat, saat surat al-Maidah dinistakan.

Pemerintah Jokowi juga sangat lambat merespon aspirasi umat Islam. Namun, persatuan  umat dalam aksi 212 di Monas Jakarta menjadi satu kekuatan yang mengalahkan makar jahat para penista agama.

Dua kejadian itu menunjukkan bahwa Jokowi anti Islam. Ditambah lagi sikap mesra dia dengan pemerintah China disaat umat Islam mengecam kekejian yang dilakukan penerintahan China terhadap Muslim Uighur.

Ketiga, banyak pengajian  dipersekusi dan ulama' dikriminalkan. Pengajian yang mengajarkan Islam kaffah dibubarkan paksa oleh sekelompok orang yang tidak mau berfikir sehingga mudah diperalat untuk memusuhi saudaranya sendiri.

Mereka berani menghalang-halangi umat untuk mengikuti kajian keislaman dan bahkan membubarkan kajian keilmuan, sebuah forum yang sangat dicintai oleh Allah.

Sementara ulama' yang lurus, berani dan kritis dikriminalisasi bahkan ada yang dipenjarakan hanya karena tuduhan yang tidak jelas, ujaran kebencian, pasal karet yang mudah ditafsirkan sekehendak hati oleh penguasa untuk menjerat orang yang dianggap musuh.

Ini adalah bukti bahwa jokowi penguasa otoriter yang anti kritik. Menggunakan hukum sebagai alat untuk menggebuk musuh politiknya.

Keempat, lebih menyakitkan lagi dia sudah berani menkriminalkan ajaran Islam yang mulia. Khilafah dianggap ajaran sesat yang bertentangan dengan pancasila. Karena alasan itu HTI yang merupakan ormas Islam yang lurus memperjuangkan ide khilafah dicabut BAPnya tanpa melalui proses hukum yang tidak memenuhi prinsip berkeadilan.

Sungguh Jokowi telah melakukan pelanggaran HAM, yakni hak rakyat untuk berserikat dan menjalankan perintah agama sesuai dengan keyakinannya.

Menjelang pilpress 2019 dia melakukan banyak pencitraan agar terkesan Islami. Dia juga tiba-tiba membebaska Abu Bakar Baasyir dengan tujuan dapat simpati dari umat Islam.

Mengunggah foto saat menjenguk Ustadz Arifin Ilham dengan tujuan dapat dukungan dari umat Islam. Pencitraan model lama juga masih dilakukan dengan blusukan mendekati rakyat kecil agar terkesan merakyat dan peduli dengan mereka.

Padahal semua itu adalah pencitraan yang menipu untuk mengambil hati rakyat agar memilihnya kembali saat pilpres 2019 nanti. Hanya orang-orang yang bodoh yang mau ditipu yang kedua kalinya. Dengan empat dosa diatas sudah cukup alasan untuk tidak memilih dia lagi.[MO/ad]

Posting Komentar