Oleh : Winda Sari 
(Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com- Indonesia, negara kaya, di dalamnya terdapat banyak mutiara-mutiara berharga yang menguntungkan negara. Bila negara untung, rakyat makmur.

Betapa banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Pendidikan di Indonesia berkebang pesat, sehingga banyak mencetak lulusan yang kompeten. Lulusan-lulusan inilah yang dapat turut membangun masa depan bangsa. Namun, akhir-akhir ini kiprah mereka, anak bangsa, sebagai lulusan yang kompeten justru tergeser oleh banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. akhirnya, posisi mereka, anak bangsa yang kompeten, akan tergeserkan bagai anak tiri, sebab sepertinya memang pemerintah lebih menyayangi tenaga kerja asing dibandingkan anak sendiri.

Tidak hanya itu, dalam negara ini yang turut menerapkan ideology Barat, yaitu kapitalisme sekuler, kaum perempuan banyak yang dieksploitasi. Bentuk eksploitasi ini berupa dengan menggunakan mereka sebagai alat untuk mencetak uang dan kemajuan ekonomi. Perempuan yang seharusnya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, pendidik dan penjaga harta suami, kini posisi tersebut seolah-olah berganti dan bergeser bahkan dianggap memalukan terlebih lagi jika ada perempuan yang tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Itulah akibat yang ditimbulkan seiring berjalannya waktu di mana negara tidak menerapkan sistem Islam, sehingga perempuan pun menjadi alat untuk kemajuan ekonomi.

Saat ini, perempuan diperlakukan dan dipandang sebagai komoditas dan "mesin pencetak" uang. Oleh karena itu, tidak heran kini kasus trafficking serta pelecehan perempuan kian marak (Republika.co.id). dalam mata kapitalisme, perempuan yang dijadikan mesin pencetak uang ini akan didengungkan kepadanya bahwa ia harus mempunyai uang. Tak heran jika strandar kebahagiaan dalam kapitalisme yaitu apabila mempunyai banyak uang, jabatan, dan yang lainnya yang berstandar pada materi.

Di zaman sekarang, perempuan yang bekerja atau wanita karier dipandang hal yang biasa sedangkan ibu rumah tangga dan pendidik anak dipandang sebelah mata. Padahal, ibulah pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Jika sang ibu tak mendidik anak-anaknya dan mensubkontrakkan pendidikan dan pengasuhan kepada yang lainnya, lalu apa gunanya punya anak?

Jadi jelas, bahwa ketika bukan isslam yang diterapkan, semua akan dipandang bahwa apa-apa harus menguntungkan dan menghasilkan uang, tak terkecuali perempuan. Hal ini dapat mengakibatkan renggangnya kedekatan antara ibu dan anak. Jika demikian, jangan salahkan anak apabila anak tumbuh menjadi anak yang nakal sehingga timbul kenakalan anak-anak atau remaja dari mulai berbohong hingga terjerumus dalam kriminalitas serta pergaulan bebas.

Angka perceraian pun semakin meningkat karena timbulnya konflik, salah satunya penghasilan istri yang lebih besar dibandingkan suaminya (Republika.co.id). dalam sistem yang berkembang tidak bisa dipungkiri bahwa sistem saat ini akan membawa wanita untuk menjadi wanita yang sibuk, sehingga terkadang lebih sibuk dari suaminya dan lebih sering meninggalkan rumah.

Namun, apakah pemerintah akan membiarkan hal ini terjadi? Ternyata tidak. Indonesia yang juga telah tererang kapitalisme, justru menganggap hal-hal tersebut wajar dan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Boleh dimaklumi, sebab standar kebahagiaan dalam kapitalisme adalah apabila punya materi baik uang, jabatan, kekuasaan atau yang lainnya. Sebagaimana yang disampaikan dalam Republika.co.id bahwa pemerintah di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia justru terkesan mengabaikan fenomena yang menimpa perempuan di dunia ini.

Pemerintah bahkan mendukung kondisi yang mendzalimi perempuan ini dengan membiarkan perusahaan-perusahaan mengeksploitasi pekerjanya, melegalisasi prostitusi sebagai jalan untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. Tidak hanya itu, dalam Kompasiana.com, disebutkan bahwa kapitalis telah berhasil mendidik kaum perempuan menjadi hamba uang. Kapitalis telah sukses mendidik perempuan menjadi liberal, permisif dan hedonis. Sehingga kaum perempuan ini rela meninggalkan anak-anaknya berjam-jam bahkan berhari-hari demi mendapatkan 'posisi terhormat' ala kapitalis.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi sekarang ini, maka perlu adanya negara yang mempertahan peran keibuan yang seharusnya tersematkan pada perempuan. Hal ini tentu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di ahampir seluruh dunia. Dunia saat ini berada dalam genggaman Barat dan Barat telah menyebarluarkan pemiikirannya yaitu pemikiran kapitalis sekuler. Oleh karena itu, inilah sebab perlunya diterapkan sistem Islam dalam sebuah negara. Bukan hanya di Indonesia, tetapi dunia di seluruh dunia.[MO/sr]

Posting Komentar