Oleh : Devi Yulianti, ST

Mediaoposisi.com- Ikatan Dai Aceh yang diketuai oleh Tgk Marsyuddin yang mengatakan akan mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Al-quran. Tes membaca Al Quran, Surat Al-Fatihah dan surat pendek lainnya yang akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019.Tes ini bertujuan untuk mengakhiri polemik keislaman Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga.

Selain itu, tes Alquran juga dinilai untuk meminimalkan politik identitas yang sudah terlanjur dilakukan oleh pendukung kedua pasangan calon . Namun, hal ini mendapat beberapa respon dengan berbagai tokoh besar, antara lain ;

Menurut Pak Amien Rais tidak perlu karena tidak relevan, menurutnya tes tersebut relevan bila sedang mencari pemimpin di sebuah organisasi Islam maupun di Pondok Pesantren, sedangkan menurut Arbi Sanit yang merupakan guru besar FISIP Universitas Indonesia mengatakan apabila tes membaca Al-quran dilakukan sama saja dengan menjadikan Indonesia sebagai Negara agama bukan Negara yang berdasarkan Pancasila.

Di sisi yang lain yang setuju beralasan karena kedua kubu Cawapres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam mengetahui kualitas calon presidennya. Ini pun dijadikan peluang emas bagi masing-masing kubu untuk mendapatkan simpati dari kelompok pemilih Islam dan menjadikan umat Islam sebgai lumbung suara mereka.

Tes ini sebenarnya merupakan bagian ukuran dari kriteria yang sedang dilakukan oleh sebagian rakyat ditengah kegamangan terkait bagaimana sosok pemimpin yang akan mereka pilih sebagai pemimpin yang kedepannya akan memimpin bangsa Indonesia, dimana ukuran tersebut secara tidak sadar telah berbingkai pemikiran sekulerisme.

Setidaknya dengan memastikan bacaan Al-quran masing-masing pasangan calon akan memberikan sedikit gambaran kepada bangsa Indonesia, bagaimana tingkat keislaman pemimpin yang akan dipilih sebagai bentuk pertanggungjawaban terkait pilihan mereka. Sebenarnya, dengan menilai dari sisi baik atau tidak baiknya seseorang membaca Al-quran tidak selalu otomatis berkorelasi dengan kepemimpinannya.

Bagaimana sejarah telah membuktikan sebelumnya pada masa Nabi Muhammad ada Abu Jahal yang senantiasa memusuhi Islam, Snouck Hongronje seorang orientalis barat yang mahir membaca al-quran juga memusuhi Islam, begitu juga dengan  Kamal Attarturk yang telah menghancurkan Daulah Utsmani di Turki. Mereka semua dapat membaca alquran justru memusuhi dan menghancurkan Islam itu sendiri.

Tingkat keislaman seseorang dinilai dari kepribadian seseorang yang terkait erat dengan aqidah Islam itu sendiri. Dalam Islam salah satu syarat memilih pemimpin yaitu seorang muslim, dimana seseorang dipilih untuk melaksanakan seluruh syariatnya.

Dimana seluruh syariat telah tertuang didalam al-quran. Dimana al-quran merupakan wahyu Allah atau kalam Allah yang dibawa nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada manusia sebagai pedoman kehidupan, kemudian didalam hadis yang merupakan segala yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan dan perkataannya.

Di sisi yang lain sebenarnya ketika hendak menilai keIslaman seseorang dilihat apakah yang bersangkutan telah memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) Islamiyah. Bila seorang muslim telah menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai landasan berpikirnya berarti dia telah memiliki Aqliyah Islamiyah tanpa diperhitungkan apakah dia bisa membaca atau tidak bisa membaca alquran, telah hapal Alquran 30 juz ataukah sekedar baru bisa hapal surah Al-fatihah dsb.

Juga seorang muslim dikatakan telah memiliki nafsiyah islamiyah manakala ia telah menjadikan aqidah islamiyah sebagai landasan yang mengatur keinginan dan tingkah lakunya ; tanpa diperhitungkan apakah ia gemar shalat tahajud ataukah sekedar sholat lima waktu, apakah ia rajin puasa senin-kamis, ataukah puasa Daud atau baru sebatas puasa ramadhan, dsb.

Semuanya sama disebut memiliki kepribadian islam (Syaksiyah Islamiyah), hanya saja berbeda kualitasnya. Setiap muslim semestinya memiliki keinginan untuk menjadi orang yang berkepribadian Islam, apalagi ketika berbicara kualitas bagi seseorang pemimpin yang akan memimpin kaum muslimin.

Dengan berbekal kepribadian Islam tentunya akan mendorong dan membentuk pemimpin yang mempunyai sifat berkepribadian kuat yaitu kuat pemikiran, cerdas dan paham tentang tatalaksana kenegaraan dan hubungan International, sensitifitas dalam memimpin, berperilaku dan senatiasa terikat dengan aturan Allah.

Pemimpin juga memiliki ketaqwaan dengan kesadaran ruhiyah yang tinggi, tidak egoir, rakus dan tidak zalim dengan taqwa menjadikan pemimpin amanah dan tanggungjawab terhadap kepemimpinannya secara tepat dan benar. Kemudian seorang pemimpin mencintai rakyatnya dengan selalu mengutamakan mereka, tidak menakut-nakuti rakyat dan senantiasa selalu memudahkan urusan rakyat. Oleh karena itu, diperlukan upaya terus-menerus untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian, sehingga makin lama makin sempurna.

Permasalahannya memilih pemimpin tidak hanya sebatas pada kepribadian (ukuran keislaman seseorang), karena dibutuhkan juga suatu sistem yang dapat menaungi pribadi-pribadi yang baik nan shalih ini juga sangat penting.

Sebaik apapun kepribadian seseorang tidak akan bisa sebaik apa yang diharapkan selama seseorang berada pada sistem yang rusak yaitu sistem sekuler. Jadi dengan melakukan sekedar tes membaca alquran tanpa melihat bagaimana penerapannya terhadap Islam adalah bagian dari wacana demokrasi saja sebagai alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi dan keberadaan alquran dianggap tidak penting di sisi yang lain.

Sekiranya tidak demikian, kenapa tidak di tes kesiapan mereka untuk menerapkan isi al-quran secara menyeluruh karena hal itu lebih penting, dimana dalam Alquran  surat Al-baqorah 208 mengatakan: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikutu langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
`
Melihat fakta tersebut sebenarnya sudah saatnya kita mencampakkan hukum sekuler demokrasi yang telah menempatkan hukum Allah secara tidak layak dengan mengembalikan kemulian Islam pada sebuah Negara yang dapat menjaga umat serta keberadaan Islam itu sendiri.[MO/sr]




















Posting Komentar