Oleh : Yuni Anshorullah 
anggota komunitas BTS

Mediaoposisi.com-Program sakina Banyuwangi (Stop Angka Kematian  Ibu dan Anak) beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai “The Most Interested Innovation” oleh Forum Open Government Partnership (OGP) Asia-Pacific, yang digelar di seoul, korea selatan.

Program Laskar Sakina berisi beragam program untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Laskar tersebut beranggotakan kader kesehatan, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, hingga aparat kepolisian.

Dalam perjalanannya, program ini kemudian melibatkan para pedagang sayur keliling yang ditugas-kan mencari, menemukan, dan melaporkan ibu hamil baru dengan resiko tinggi di wilayah mereka berjualan (Surya.co.id 07/11/18).

Melibatkan warga yang sejatinya tak memiliki pemahaman yang cukup mumpuni untuk mengemban tugas tersebut bukanlah kebijakan yang arif. Sebab dalam pelaksanaannya, warga yang terlibat tidak hanya melakukan pendataan saja melainkan juga pendampingan kepada para ibu hamil.

Terlebih program ini menyasar para ibu hamil yang beresiko tinggi karena kriteria usia yang kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun, jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, memiliki riwayat hipertensi, dan tinggi badan kurang dari 150 cm.

Meskipun warga yang terlibat telah dibekali fasilitas smartphone dan pulsa untuk dapat mengirim informasi secara online namun mereka tak dapat melakukan tindakan apabila terdapat pasien yang membutuhkan pertolongan mendesak.

Sudah seharusnya pemkab banyuwangi menambah jumlah tenaga medis untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Namun Mengapa banyuwangi yang digadang-gadang sebagai daerah percontohan penyokong devisa tidak mampu menyediakan tenaga medis yang dibutuhkan masyarakat?

Pemkab justru terkesan abai dan berlepas tangan dalam menangani masalah tersebut dengan melimpahkan tugas yang seharusnya dikerjakan tenaga medis kepada masyarakat. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh sistem pemerintahan islam.

Bukan hanya jumlah tenaga medis yang diperhatikan, namun pelayanan kesehatan diberikan secara gratis oleh negara (khilafah) yang dibiayai dari khas baitul mal. Will Durant dalam The Story of Civillization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya.

Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Begitulah idealnya sebuah pemerintahan yang memberikan pelayanan terbaiknya untuk rakyat. Sehingga sangat jauh berbeda dengan kondisi hari ini dimana rakyatlah yang harus mensolusi atas berbagai problem yang menjerat mereka.[MO/ge]

Posting Komentar