Oleh : Riyanti 
(Aktivis BMI Banten)

Mediaoposisi.com-  Sudah bukan rahasia umum lagi dalam setiap tahun politik para calon akan membuat framing cantik bagi diri mereka agar membuat rakyat jatuh hati. Hal ini bisa kita sebut juga sebagai pencitraan. Guna merebut suara rakyat, mereka buat desain spanduk yang menarik, iklan sana sini, blusukan kesana kemari tak lepas dari janji-janji manis yang mampu menarik hati.

Janji-janji itu sering mereka kampanyekan seperti perbaikan sarana umum, sarana transportasi, penggratisan pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Janji manis itu mampu membius relung hati rakyat yang mendengarkan apalagi ditambah dengan amplop putih yang diberikan. 2019 menjadi tahun sorotan, sebab pesta demokrasi sebentar lagi akan dilaksanakan.

Calon presiden dan wakil presiden sudah ditetapkan. Kedua capres dan cawapres pun sudah mulai menampakkan citranya di khalayak ramai. Sudah ada yang mulai blusukan, tempel iklan, bahkan sudah ada yang memberi janji untuk masa depan.

Namun apalah arti sebuah janji jika tak ditepati. Suara indah yang dulu digaungkan, kini nyaring kerontang ketika suara rakyat sudah didapatkan. Begitulah ilusi politik dalam demokrasi. Tak bisa
dipungkiri, sistem yang negara kita pakai saat ini menjadi jalan mulus bagi hidup para pemimpin yang ingkar janji.

Sebab dalam demokrasi segala cara halal untuk ditempuh, termasuk pembohongan publik
dengan menyampaikan janji-janji serta visi misi. Mahalnya biaya demokrasi menjadi salahsatu penyebab tidak tertunaikannya janji kampanye para pemimpin negeri. Mereka akan terlebih dahulu memuaskan kepentingan pribadi dan para penyokong dana kampanye dibandingkan rakyat sendiri.

Inilah yang dimaksud ‘politik balas budi’, tak memandang rakyat menderita dan tersakiti. Seorang calon yang beridentitas muslim pun tak bisa lari dari sistem politik seperti ini. Padahal Islam sendiri sudah menegaskan bahwa menepati janji hukumnya wajib.
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji” ( Q.S. Al-Maidah : 1)

Menjadi seorang pemimpin adalah amanah terbesar bagi seorang muslim. Sebab hal itu akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
Dari Ibnu Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah saw.berkata : Kalian adalah pemimpin, yang akan
dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjwaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhori dan Muslim)

Seorang muslim yang mengingkari janji akan mendapat laknat dari Allah, sebagaimana dalam sebuah
hadist Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia
mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan” (HR.Bukhori dan Muslim)

Sungguh berat laknat yang diberikan kepada seseorang yang tidak menepati janji apalagi seorang
pemimpin negeri. Maka dalam sistem Islam, hal yang diutamakan dalam memilih seorang pemimpin
bukanlah janji-janji, tapi mereka yang mampu mengurusi urusan rakyat serta terpenuhinya syarat-
syarat: Laki-laki, Islam, Baligh, berakal, merdeka, mampu, dan adil.

Islam menempatkan politik bukan sekedar alat menipu rakyat, tapi mengurusi urusan rakyat. Memenuhi kebutuhan rakyat. Menjamin pendidikan, kesehatan ketenagakerjaan dan lain sebaginya. Serta menerapkan syari’at islam agar tercipta rahmat bagi seluruh alam. Inilah yang membedakan sistem demokrasi dengan sistem Islam. [MO/ra]

Posting Komentar