Mediaoposisi.com-Mantan Komisaris PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Muhammad Said Didu buka suara terkait pemberhentian dirinya dari jabatan komisaris pada perusahaan BUMN itu. Perombakan jajaran dewan komisaris diputusakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

"Alasannya sangat jelas, bukan karena kinerja tapi karena tidak sejalan dengan Menteri. Artinya jika mau jadi pejabat BUMN sekarang harus siap jadi penjilat? Saya tidak punya bakat jadi penjilat," tulis Said Didu (CNN Indonesia 28/12/18)

Melihat berbagai fakta yang terjadi di negeri ini sungguh miris dan menyesakkan. Berbagai kasus mencuat kepermukaan dan membuat masyarakat tercengang. Apa yang muncul dibenak kita saat disuguhkan fakta ada ketidak adilan kepada seseorang yang kritis atas kebijakan penguasa?

Inilah yang dirasakan dan diungkapkan oleh seseorang warga negara, dia adalah said didu. Mantan komisaris PT Bukit Asam Tbk itu menegaskan pemecatannya tidak disebabkan oleh buruknya kinerja tapi karena tidak sejalan dengan penguasa.

Menarik untuk dilihat bagaimana respon penguasa mendapati sikap yang yang ditunjukan Said Didu. Apakah penguasa akan menjadikan pernyataan kritis ini sebagai nasehat atau koreksi atas kebijakan yang diberlakukan?

Ataukah menganggap sebagai ancaman bagi rezim yang sedang berkuasa?
Memposisikan kritis Said Didu sebagai bahan koreksi atas kebijakan bisa diartikan dengan mengkaji ulang kebijakan yang berjalan di PT Bukit Asam Tbk.

Disini harus dilihat apakah aturan mengelola usaha sudah menggunakan standar yang benar. Apakah pemberlakuan sanksi dengan tahapan sudah dijalankan. Ataukah said didu langsung dipecat seketika saat dia tak sejalan dengan rezim.

Maka dari sini kita melihat bagaimana ketidak adilan terhadap orang yang kritis disebabkan oleh sistem kehidupan yang bersumber dari akal manusia. 

Sistem yang menjadikan kepentingan sebagai pemutus suatu perkara. Yang terjadi adalah baik dan buruk diartikan sesuai hawa nafsu. Jika sejalan dengan penguasa lanjut, jika tak sejalan tenggelam saja.

Inilah akar masalah kita di negeri ini. Kita merasakan bahwa penguasa hanya memikirkan kepentingannya saja. Tanpa mengutamakan kepentingan masyarakat.

Bahkan anti saat masyarakat bersikap kritis. Semua ini disebabkan karena dijalankannya konsep memisahkan agama dari kehidupan serta asas kebebasan.

Sehingga penguasa tak khawatir saat kebijakan dan tindakan mereka bertentangan dengan syariat. Mereka tak merasa takut saat kelak akan berhadapan dengan Allah SWT. Mereka akan dihisab atas semua kebijakan yang mereka buat.

Bukankah kritik itu bukti kecintaan? Sudah seharusnya dikarenakan sayang kita tak membiarkan yang disayangi terjebak ke dalam jurang kehancuran. Begitu juga yang dilakukan Said Didu, saat kebijan penguasa keliru, membahayakan negara dan mengancam kesejahteraan rakyat maka penguasa harus dinasehati alias dikritik.

SISTEM ISLAM RAMAH KRITIKAN
Mengkritik dapat juga diartikan mengoreksi. Di dalam islam di kenal dengan aktivitas dakwah kepada kebenaran/islam. Ada banyak hukum syara yang memuliakan aktivitas tersebut.

Mengoreksi penguasa yang lalai, salah dan keliru, termasuk perkara bagian dari islam. Salah satu hadits yang mendorong untuk mengoreksi penguasa, menasihati mereka, adalah hadits dari Tamim al-Dari bahwa Nabi Muhammad SAW  bersabda:
“Agama itu adalah nasihat”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad. Lafal Muslim)

Di sisi lain, Rasulullah SAW  secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zhalim, untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepadanya:\

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang zhalim.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Nasa’i, al-Hakim dan lainnya)

“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath)

Inilah hal mendasar yang membedakan antara sistem hidup yang dibangun atas asas demokrasi dan atas asas islam. Demokrasi menjadikan akal manusia sebagai pembuat hukum. Sehingga benar/salah tidak baku, tapi dikembalikan kepada pandangan individu tsb. Melahirkan orang-Orang anti kritik. Karena kritikan sering tidak sejalan dengan kepentingannya.

Berbeda dengan islam. Aktivitas mengkritik/dakwah pada islam menjadi sesuatu yang diharapkan oleh penguasa. Hal ini disebakan karena penguasa memahami dia hanya manusia biasa yang berpotensi salah.

Kemudian memahami jika amanah kepemimpinannya akan dihisab oleh Allah SWT. Alangkah indahnya jika yang menjadi motivasi orang yang mengkritik dan penguasa yang dikritik adalah keimanan kepada Allah. Maka  tidak ada pihak yang merasakan ketidak adilan seperti hari ini.

KISAH TELADAN KHALIFAH UMAR BIN KHATAB
Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?

seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar. Umar membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Seraya menyatakan,

“Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.”

Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah:
“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS: an-Nisa’ [4]:20)

Khalifah Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya. “Wanita ini benar dan Umar salah,” ucapnya di depan banyak orang.

Sepertinilah pemimpin yang kita harapkan. Dan pemimpin dengan kapasitas seperti ini hanya mungkin saat syariat islam diterapkan secara kaffah.[MO/ge]

Posting Komentar