Oleh: Trisnawaty A 
(Revowriter, Makassar)

Mediaoposisi.com- Ditengah carut marutnya  persolaan yang menimpa negeri ini,  publik kembali  dikejutkan terkait terciduknya publik figur (artis) inisial VA yang  sedang melayani penikmat syahwat di sebuah hotel di Surabaya. Selain VA, ada  45 artis yang disebut berada dalam jaringan prostitusi online yang sama denganVA, polisi mengatakan untuk sementara ada 5 artis yang sudah terbukti kuat keterlibatannya. Hal ini disampaikan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan terkait pengembangan penyidikan yang dilakukan oleh pihaknya kepada wartawan di Mapolda Jatim, Kamis (10/1/2019). Luki menambahkan kelima artis ini juga terkait dengan dua muncikari yang telah ditetapkan sebagai tersangka sebelumnya, yaitu ES alias Endang Siska dan TN alias Tentri.(https://news.detik.com/jawatimur/4378922/ini-inisial-5-artis-yang-disebut-polisi-terlibat-prostitusi-online).

Sebelumnya publik dihebohkan dengan pernyataan ketua umum Partai Solidaritas Islam (PSI)  Grace Natalie, yang secara terbuka menolak poligami dengan alasan poligami merupkan wujud penindasan terhadap kaum perempuan, disusul oleh kadernya Giring dalam kampanyenya melalui youtube menolak poligami.

Demokrasi: Halal Jadi Haram, Haram Jadi Halal
Sugguh demokrasi yang lahir dari ideologi kapitalisme  yang menjunjung tinggi kebebasan atas nama HAM telah melahirkan ide permisivisme (keserbabolehan). Menjadikan manfaat atau materi sebagai tolak ukur, tanpa melihat halal atau haram. Disisi lain telah  memutarbalikkan pemikiran, yang boleh (halal) diharamkan sedangkan yang haram dianggap boleh (halal) bahkan dilegitimasi oleh negara dengan dalih untuk pemasukan bagi negara, miris!.

Inilah fakta yang terjadi pada poligami yang jelas halal(boleh) tapi justru diserang dengan berbagai opini negatif, padahal sangat jelas, poligami merupakan kobolehan yang telah ditetapkan syariat sehingga tidak sepantasnya seorangpun berhak mengharamkan. Adapan terkait prostitusi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah di negeri ini bahkan mereka dilabeli sebagai “pekerja” dan “penyedia jasa”.

Adalah wajar jika dalam demokrasi prostitusi kian menjamur, ibarat jamur di musim hujan. Bahkan banyak tempat lokalisasi prostitusi terkenal dan cukup besar yang tersebar di penjuru indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Buang Demokrasi Terapkan Islam
Maka sungguh pemutarbalikan ini akan terus terjadi yang halal jadi haram dan sebaliknya yang haram jadi halal selama kita menjadikan demokrasi sebagai sumber hukum. Saatnyalah kita buang demokrasi pada tempanya, menguburnya dalam- dalam hingga ia mati untuk selamanya.

Menggantinya dengan syariat yang telah dibawa oleh manusia mulia Rasulullah saw, yaitu dengan menerapkan islam secara kaffah dalam bingkai negara khilafah islamiyah, sehingga akan tampak yang hak itu hak dan bathil itu bathil. Dengan pertolongan Allah, masa itu tidak akan lama lagi. Allah swt berfirman:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang  telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa tetap kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (TQS An-Nuur[24] : 55).

Rasulullah saw bersabda :  Kemudian akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian  (HR.Ahmad). Mari kita songsong janji Allah swt dan kabar gembira dari Rasulullah saw dengan menjadi pejuang syariah dan khilafah.[MO/sr]


Posting Komentar