Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Keliru besar, jika ada yang menganggap penampilan paslon saat debat Pilpres mampu meningkatkan elektabilitas. Jika benar, paling tinggi hanya 2 %, itupun harus dengan usaha berkeringat dan berdarah-darah. Apa yang mau dijanjikan, bicara dalam waktu terbatas dan dengan fokus diskusi yang beragam ?

Pemaparan visi misi dan penjabaran program itu forumnya bukan pada debat Pilpres, harus dalam forum yang lain atau lebih komprehensif melalui manifestasi politik paslon yang tersusun dalam bentuk buku.

Karena forum yang terbuka dengan waktu yang luas, termasuk menulis rinci visi misi paslon dalam bentuk buku, lebih menggambarkan arah yang jelas masa depan bangsa yang dijanjikan.

Adapun debat Pilpres itu hanya kontestasi dan selebrasi, senda gurau politik, apalagi setelah diketahui paslon mendapat bocoran soal dari KPU. Ini hiburan prime time di agenda politik lima tahunan.

Posisi krusial debat Pilpres adalah untuk memenangkan pertarungan, tapi bukan dengan meningkatkan elektabilitas namun fokus untuk merontokkan elektabilitas lawan. TKN paslon harus berfokus pada isu apa yang kontraproduktif dari lawan, hal teknis apa yang bisa dikapitalisasi untuk merontokkan suara lawan. Ini fokus untuk menjatuhkan suara lawan.

Angka yang bisa dicapai untuk mendowngrade lawan bisa mencapai 20 %, sementara untuk meningkatkan elektabilitas hanya 2 %. Karena itu, fokus TKN adalah untuk menyerang sisi negatif lawan untuk merontokkan elektabilitas lawan.

Serangan kepada lawan ini akan berimplikasi pada peningkatan dukungan pada pasangan yang didukung. Ini bukan soal visi misi atau apapun, tapi ini soal memenangkan pertarungan.

Karena itu jika ingin menang, paslon dan TKN jangan sungkan untuk mengkritik secara tajam program atau kebijakan lawan politik. Jangan kasih kendor, jangan ewuh pakewuh, ini demi masa depan bangsa.

Tidak perlu untuk merasa malu menelanjangi lawan politik dan membuka borok dan aibnya, karena itu juga cara untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari pemimpin yang tidak amanah.

Dan lagi, sikap politik yang mengkritik secara tajam, menelanjangi hingga ruang yang paling privat, akan membuka pradigma dan mengkonfirmasi berbagai isu-isu yang beredar. Paslon memang tidak boleh menyerang pribadi, tetapi paslon wajib menyerang kebijakan lawan yang zalim.

Dalam hal ini, kubu Jokowi memiliki banyak borok kekuasaan yang bisa dikritik secara tajam dan ditelanjangi hingga ruang yang paling privat. Tidak perlu tedeng aling-aling, tidak perlu sungkan, tidak perlu ewuh pakewuh, ini politik Bung !

Masih tersisa empat sesi debat Pilpres, saya kira ini sangat lebih dari cukup untuk merontokkan elektabilitas lawan dengan serangan politik atas kebijakan lawan yang zalim. Jika opini publik hingga masa pencoblosan dapat dipertahankan, suasana keemohan pada rezim yang represif dan anti Islam terus ditingkatkan, pasti rezim ini tumbang tanpa perlawanan.

Ini nasehat saya, setuju Silahkan diambil, tidak setuju tetap harus diambil. Sebab, jika Anda hanya berfokus pada peningkatan elektabilitas, pada paruh waktu yang sangat terbatas, percayalah : Anda bisa kalah. [MO/ge]

Posting Komentar