Oleh: Dhiya Fadhilah
(Guru Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Purwakarta)

Mediaoposisi.com- Belum kering air mata ini. Menyaksikan kondisi pembantaian terhadap kaum Muslim di Rohingya, Suriah dan Palestina. Kini air mata itu kian mengalir deras. Melihat Muslim Uighur ditindas dan disiksa oleh pemerintah Komunis China. Karena keislaman mereka, dengan biadabnya para bengis itu melancarkan berbagai siksaan demi siksaan.

Kaum Muslim Uighur dimasukkan ke kamp-kamp  konsentrasi untuk dicuci otaknya. Agar meninggalkan aqidahnya. Pemerintah China menutup banyak masjid di Xinjiang. Melarang Muslim Uighur menjalankan agamanya. Dipaksa meminum dan memperjual-belikan alkohol. Juga memaksa memakan daging babi. Tak sedikit pula dari kalangan Muslim Uighur yang disiksa secara fisik.

Lalu bagaimana dengan sikap kaum Muslim di belahan bumi yang lain? Melihat saudara seimannya menderita. Sungguh tak perlu menjadi Muslim dahulu untuk merasa terganggu dengan penyiksaan yang dilakukan oleh pemerintah Komunis China. Hanya dengan menjadi seorang manusia saja, seharusnya kita tak tega bahkan marah menyaksikannya.

Namun sungguh teriris hati ini. Mendapati pemerintah negara Muslim terbesar di dunia yang diam membisu.  Menutup mata dengan adanya kasus Uighur. Tak sedikitpun terlontar pengecaman terhadap pemerintahan China. Ada apakah gerangan?

Jika kita mengamati kondisi pemerintahan Indonesia belakangan ini. Semakin tampak jelas kedekatan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah China. Terlebih dalam hal perekonomian. Hutang Indonesia kepada China diduga menjadi salahsatu alasan pemerintah tidak mau menyuarakan tentang pelanggaran HAM yang terjadi pada Kaum Muslim Uighur di Xinjiang, China. Dengan jumlah hutang yang besar inilah akhirnya membuat pemerintah enggan melakukan protes. Karena khawatir kedepannya akan sulit unuk berhutang lagi kepada China. (eramuslim.com)

Belum lagi, banyak Tenaga Kerja Asing (TKA) yang diambil dari China. Semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Mereka dengan mudah mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Bahkan baru-baru ini ada pula yang menyalonkan diri sebagai anggota legislatif. Tak ada yang tak mungkin jika ini semua sengaja difasilitasi oleh pemerintah Indonesia. Demi kepentingan politik dan ekonomi, saudara se-aqidahpun tak dikasihi.

Berbeda dengan Islam. Islam memandang bahwa kaum Muslim bagaikan satu tubuh. Apabila salahsatu anggota tubuhnya merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasa sakit pula. Dengan demikian, Islam tak mungkin tinggal diam menyaksikan umatnya disakiti.

Memang hanya Islam lah satu-satunya solusi. Untuk menyelamatkan Muslim Uighur dan Muslim-muslim yang dibantai di belahan bumi yang lain. Tentu bukan Islam yang mencukupkan pada ibadah spritual saja. Apalagi Islam yang dikhususkan untuk Nusantara. Tetapi Islam kaffah yang diterapkan dalam sebuah negara lah yang bisa menyelesaikannya. Yakni Khilafah.

Khilafah akan memastikan keamanan warganya. Tidak hanya warga nya saja, melainkan warga di luar wilayah Khilafah pun, ketika terjadi pembantaian –apalagi yang terimpa adalah Muslim- dengan segera Khilafah mengambil tindakan. Menolong dan menyelamatkan kaum Muslim tersebut. Membebaskannya dari kedzaliman. Bukan hanya dengan pengecaman. Tetapi dengan menurunkan kekuatan militernya.

Meski hari ini Khilafah belum terwujud. Tetapi keberadaannya adalah janji Allah. Maka demi menegakkan syari’at-Nya yang akan mampu menyelatmakan Muslim Uighur dan Muslim yang lainnya. Kita harus berjuang untuk mewujudkan janji Allah tersebut. Yaitu dengan mendakwahkan Islam di tengah-tengah ummat. Sehingga saudara Muslim yang menderita tidak lagi merasakan penderitaannya. Wallahu a’lam.[MO/sr]

Posting Komentar