Oleh: Indah S Firdausa 
(Lembaga Bahasa Arab dan Tahfidz Al qur'an - L BATA " Taman Firdaus")

Mediaoposisi.com- Hati akan berlabuh kemana? itulah yang dipikirkan masyarakat Indonesia di tahun politik kali ini. Pilihan akan menentukan kemana arah kebijakan 5 tahun kedepan, yang pasti akan berpengaruh pada kondisi masyarakat dan negara Indonesia. Pengetahuan terhadap Visi, misi calon pemimpin pilihan sangatlah dibutuhkan.

Namun sayang, masyarakat tidak mudah mendapatkannya, terlebih KPU sendiri tidak menfasilitasi penyampaian visi, misi pasangan capres, ternyata hal ini banyak yang menyanyangkan. Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut (IPI), Karyono Wibowo, mengatakan:

"Saya sangat menyayangkan sikap KPU yang tidak menfasilitasi penyampaian visi misi pasangan capres. Justru penyampaian capres yang seharusnya dikedepankan agar masyarakat mengetahui arah pembangunan yang akan dilaksanakan pada 5 tahun kedepan"(http://m.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/01/06).

Memilih pemimpin tak sesederhana hanya melubangi kertas, tinggal coblos, beres. Terutama bagi umat Islam, akan ada pertanggungjawaban setiap aktifitas yang dilakukan sekecil apapun , termasuk memilih pemimpin,(QS. Al Zalzalah 7-8). Pemimpin akan menetapkan kebijakan, membuat UU yang akan diberlakukan di Negaranya.

Bagaimana jika pemimpin yang dipilihnya, menghalalkan apa yang diharamkan Allah, melindungi pelaku perzinahan, membolehkan LGBT, membuka kran investor Asing untuk menguasai Sumber Daya Alam negaranya. pastilah ia menyesal  dan rugi dunia akhirat karena telah salah menjatuhkan pilihannya. Terlebih, kebijakan yang bertentangan dengan hukum - hukum Allah, pasti akan menjadi problematika disetiap sendi kehidupan.

Masyarakat terutama umat Islam harus cerdas  dalam memilih pemimpin, untuk masa depan negaranya. Sangatlah penting bagi masyarakat mengetahui  syarat dan karakter calon pemimpin yang  sesuai dengan harapan dan Aqidahnya, agar Ia tidak terkelabui dengan janji -janji manis, dan masyarakat tidak akan  jatuh pada lubang yang sama,karena telah salah memilih pemimpin. Umat Islam harus memiliki standart yang benar sesuai dengan agamanya.

Pemimpin itu harus beraqidah Islam,   pemimpim yang berkepribadian kuat, kuat secara pemikiran, cerdas dan paham tentang tata laksana kenegaraan dan hubungan internasional. Pemimpin yang memiliki spiritual yang tinggi, tidak egois, rakus serta dholim, mampu menjalankan amanah dan tanggung jawab kepemimpinan dengan tepat dan benar.

Pemimpin yang menyadari bahwa ia adalah penganyom, pengurus serta penjaga rakyat, dan Ia akan mem pertanggung jawabkan atas kepemimpinannya dihadapan Allah SWT. Sehingga Ia akan selalu terikat dengan hukum - hukum Allah, yang dengan itu Allah akan menjadikan negaranya penuh keberkahan, menjadi Baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Sebagaimana hadist Rosululloh SAW :
"... فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ....(رواه المسلم).

Artinya: "...Maka Penguasa manusia adalah pemimpin dan Ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya." (HR Muslim)[MO/sr]

Posting Komentar