Oleh : Ghea Rdyanda
Aktivis Mahasiswa BKLDK Jember Raya

Mediaoposisi.com-Golput atau golongan putih distigmakan sebagai suatu tindakan yang apatis. Stigma yang diberikan pun tak tanggung-tanggung, dengan alasan kalau tidak memilih itu artinya sama dengan melegalkan orang yang tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin misalkan.

Atau membiarkan orang kafir menjadi pemimpin padahal sebelumnya gencar menolak pemimpin kafir.

Tentunya, ini menjadi sikap yang menimbulkan tanda tanya bagi yang belum punya ma’lumat (informasi). “Sudah bersusah payah untuk menolak pemimpin kafir, atau anti Islam, represif, atau atau yang lain, pada akhirnya malah golput. Terus maunya bagaimana ?” kurang lebih pertanyaan seperti itu yang muncul dalam benak seseorang.

Sejatinya, pilihan kami bukanlah golput. Namun tidak bukan kami hanya mengikuti thariqah atau metode Rasulullah saw saja. Beliau tak pernah ikut berkumpul dengan kafir Quraisy di Daarun Nadwah.

Jika beliau diperintahkan untuk ikut berkumpul dan menentang dari dalam atau dalam istilah kita dalam parlemen, tentu beliau saw akan melakukannya. Namun faktanya beliau menentang mereka dari luar parlemen.

Beliau saw memilih untuk tetap berjuang menegakkan kalimat Allah SWT. Menjelaskan kesalahan ide-ide yang dianut, rusaknya perbuatan yang mereka lakukan, dan beliau saw tetap istiqomah memegang ajaran Islam yang beliau saw bawa.

Beliau juga tak berkompromi, seperti saat kaum kafir Quraisy menawarkan harta, tahta, bahkan wanita yang beliau inginkan asalkan beliau berhenti berdakwah.

Beliau saw tak tergoda pula ketika ditawarkan untuk bergantian menyembah tuhan. Satu hari untuk kafir Quraisy, satu hari untuk islam dan beliau menolaknya.  Hingga turunlah surat al-Kafirun. Beliau saw juga tak memilih dua hal yang sama-sama bathil, atau memilih dua hal yang ahsan tapi keduanya diliputi sesuatu yang bathil. Pun beliau tak berkompromi dengan hal yang seperti itu.

Jika dikaitkan dengan konteks sekarang, hal ini juga berlaku. Dua capres saling berebut kursi kekuasaan. Pilihan terbaiknya adalah tidak memilih selama sistem yang ada bukanlah sistem islam.

Sistem demokrasi yang saat ini diterapkan adalah sebuah hadlarah yang mengharuskan untuk ditolak kesemuanya. Sekalipun ada kesamaan dengan islam, atau tidak bertentangan dengan islam namun wajib untuk ditolak. Karena demokrasi adalah produk yang asasnya bukan Islam dan merupakan representasi dari ideologi  kapitalisme.

Seorang pemimpin tidak akan mampu membawa perubahan revolusioner jika tidak ditunjang dengan sistem Islam. Al-Quran telah menjelaskan bahwasanya jika tak berhukum dengan hukum Allah SWT maka berarti berhukum dengan hukum jahiliah.

Disini, kami berusaha untuk tetap tsiqah berjuang menegakkan kembali hukum Allah, melanjutkan kehidupan islam dan mendakwahkan islam ke seluruh alam. Itulah pilihan kami.[MO/ge]

Posting Komentar