Oleh : Arinal Haq
(Aktivis Mahasiswa Sidoarjo)

Mediaoposisi.com-Sebentar lagi tahun 2018 akan berakhir. Memasuki tahun 2019 yang merupakan tahun politik bagi Indonesia, masyarakat semakin lama semakin memahami akan persatuan dan kebangkitan Islam. Melalui reuni 212 yang diadakan di Jakarta menunjukkan bahwa spirit umat Islam tak bisa diremehkan.

Jutaan manusia berkumpul dari Sabang sampai Merauke menyerukan satu suara, yaitu persatuan dan kebangkitan Islam. Kesadaran umat ini rupanya yang menjadikan rezim sekuler di negeri ini mengalami kepanikan yang luar biasa. Dimunculkannya isu radikalisme masjid dan penceramah untuk mendeskreditkan Islam karena dianggap mengancam negara.

Seperti pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, yang dilansir dalam cnnindonesia.com, menyebutkan persoalan radikalisme dan terorisme sebagai tantangan utama yang harus dihadapi Indonesia di masa depan. "Tantangan bangsa ini bukan kembali ke masalah sandang, papan, pangan, bukan. Kuncinya adalah satu tantangan radikalisme dan teroris," ujarnya saat memberi sambutan di acara penghargaan Indeks Kota Toleran di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (7/12).

Kepanikan pemerintah tersebut menyebabkan munculnya data beberapa masjid dan penceramah yang terpapar radikalisme di lingkup pemerintahan. Terdapat penelitian yang menyebut adanya 41 masjid di lingkup pemerintahan terpapar radikalisme, yang diungkap pertama kali oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyakarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan.

Dikatakan dari puluhan masjid yang terindikasi radikal itu dibagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, rendah dan sedang. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah seperti ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendeskreditkan Islam dan menjadikan umat kembali mengalami islamophobia.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita tidak boleh terpengaruh oleh isu-isu semisal ini karena Islam bukan ajaran radikalisme melainkan hukum yang justru akan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Kita harus menguatkan keyakinan dan ilmu tentang Islam agar tak mudah terseret oleh opini dan framing media yang sengaja dibuat untuk menghancurkan umat Islam.

Penentangan atas arus kebangkitan Islam merupakan sunnatullah. Justru dengan adanya penentangan seperti ini membuktikan bahwa dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat berhasil. Seperti yang dulu pernah dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat, mereka mendapatkan perlawanan dari kaum kafir Quraisy tatkala cahaya Islam mulai menerangi para penduduk Mekkah. Oleh karena itu, kita harus segera menentukan sikap untuk berada di barisan perjuangan atau tidak.

Kebangkitan Islam adalah sebuah keniscayaan. Islam kembali memimpin dunia adalah janji Allah SWT. Tanpa kita terlibat mewujudkannya, Islam berjaya kembali adalah suatu hal yang pasti. Pertanyaannya, apakah kita tak ingin menjadi bagian dari orang-orang istimewa yang memperjuangkannya?? Wallahu a'lam.[MO/sr]

Posting Komentar