Oleh : Ratih Paradini
(Dokter Muda, Aktivis Dakwah)

Mediaoposisi.com-  (Analisa Mengapa Pemimpin Muslim Diam )

Sakit memang sulit tapi dengan simpati akan buat hati sedikit terobati, bagaimana bila kamu
sakit dan benar-benar butuh perhatian namun sakitmu sengaja diabaikan oleh mereka yang
sebenarnya mampu mengulurkan tangan ?
Begitulah kondisi kaum muslimin Uighur berita mereka seolah tak layak tayang, kondisi
mereka seolah tak perlu dibahas, sekat teritorial negara atau bahkan ketergantungan hutang
telah mengikis kemanusian bahkan hanya untuk bersuara lantang dunia menentang.

Persoalan Uighur mendapat respon masyarakat dunia Internasional, aksi berbagai negara
mengutuk sikap pemerintah China. Disisi lain China berusaha menutup kebobrokannya
dengan berkata kamp konsentrasi adalah upaya re-edukasi masyarakatnya. Pemerintah daerah
Xinjiang menyatakan mereka menerapkan apa yang disebut pusat pelatihan
kejuruan Xinjiang menyebutkan berbagai tempat pelatihan tersebut akan mengatasi
ekstrimisme lewat perubahan pemikiran.(bbc.com 12 okt 2018)
Meski begitu fakta tak terbantahkan datang dari para saksi mata yang berhasil lolos dari
kebiadaban pemerintah China. Pada bulan Juli, seorang bekas guru di salah satu kamp yang
melarikan diri ke Kazakhstan mengatakan di depan pengadilan bahwa di Cina mereka
menyebutnya kamp politik tetapi tempat itu sebenarnya sebuah penjara di pegunungan.
Laporan The World Uighur Congress menyatakan para tahanan dibui untuk waktu tidak
ditentukan, tanpa dakwaan dan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis. Mereka
dilaporkan tidak cukup diberikan makanan dan laporan banyak laporan tentang penyiksaan.
Sebagian besar tahanan tidak pernah didakwa dan tidak mendapatkan bantuan hukum. (bbc.com 12 okt 2018)

Sayangnya respon keras dan suara lantang hadir dari masyarakat bukan dari pemerintah. Di
Indonesia sendiri tak ada respon dari Presiden Jokowi sikap yang berbeda saat kejadian Bom
Paris beberapa waktu lalu ada pernyataan sikap dan kutukan tegas yang disampaikan. Pernyataan pemerintah Indonesia terkait kasus Uighur datang dari pak Jusuf Kalla yang berkata " Kita semua menolak atau mencegah suatu penindasan kepada hak asasi manusia " ujar JK seusai memberikan pidato pada konferensi di Jakarta, Senin (17/12). Jusuf Kalla berkata, " Pemerintah Indonesia tidak bisa ikut campur masalah domestik yang dialami Muslim Uighur. Pasalnya, hal tersebut merupakan kedaulatan Cina " (nasional.republika.co.id 18 des 2018)

Salah satu faktor membuat pemimpin negeri tidak bernyali menanggapi kasus muslim Uighur adalah penguasaan China terhadap Indonesia. Hubungan bilateral Indonesia dengan China terbilang intim bahkan Indonesia menunjukkan ketegantungan dan memberikan keluasan akses terhadap Cina melakukan intervensi disektor-sektor strategis. Seperti kerjasama ikut dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, yang meliputi pembangunan 24 pelabuhan, 15 pelabuhan udara (airport), pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer (km), pembangunan jalan kereta sepanjang 8.700 km, dan pembangunan pembangkit listrik (powerplan) berkapasitas 35 ribu megawatt. Peneliti Jepang Masako Kuranishi dari Universitas Tsurumi dan Universitas Seigakuin Jepang, mengingatkan Indonesia agar sangat hati-hati terhadap gerakan China di Asia terutama di Indonesia, China punya rencana atau konsep besar sejak Oktober 2013 terhadap Asia, yaitu Maritime Silk Road atau sering dijuluki One Belt One Road, yang dilemparkan ide ini oleh Xi Jinping.
" Secara kasar bisa dikatakan munculnya hegemoni China terhadap negara-negara di Asia " ujarnya. " Di Indonesia, menurutnya dimulai dari penguasaan Shinkansen, Bukan hanya soal Shinkansen, tetapi daerah yang dilewati dan sekitarnya akan dan harus dikuasai pihak China walaupun perusahaan patungan 60% Indonesia dan 40% China. Tapi Chinayakin Indonesia akan kesusahan bayar sehingga penguasaan mayoritas perusahaan nanti akan dilakukan China. Demikian pula tenaga kerja yang dikerahkan semua akan diturunkan dari China. Tenaga kerja Indonesia hanya sedikit dan yang tak penting yang terlibat dalam proyek kereta api cepat itu itu " katanya. (tribunnews.com/ 25 nov 2015)

Sistem ekonomi yang dibangun atas dasar ideologi Kapitalisme menciptakan kondisi ini lumrah
terjadi, imperialisme lewat kerjasama dan utang berujung pada ketergantungan dan akhirnya
membuat negara tak punya nyali

Padahal persoalan kaum muslim tak bisa dikatakan urusan rumah tangga orang lain sebab
dalam pandangan Islam kaum muslim terhadap muslim lainnya ibarat satu Tubuh. Rasulullah
SAW bersabda “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi,
dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit,
maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R.
Bukhari dan Muslim)

Bertutur untuk Uighur bukan sekedar aksi pengisi waktu luang, melainkan dorongan aqidah
dan ketaatan kepada Allah. Sayangnya lisan akan kelu, kekuasaan akan bisu dan argumentasi
jadi lumpuh ketika dunia yang dituju dan materi yang diburu. Beda halnya dengan sejarah gemilang Islam saat masih tegak Khilafah Islamiyah, meski dimasa jabatan Khalifah Abdul Hamid II adalah fase-fase kritis menghampiri keruntuhan Khilafah tapi beliau masih memiliki nyali untuk menentang Inggris saat akan mementaskan drama yang menghina Rasulullah. Begitulah yang terjadi bila pemimpin mengadopsi Islam menjadi landasan bernegara, berkuasa tak membuat jumawa dan jadikan ia bertanggung jawab terhadap sesama, takkan biarkan ummat merasa apalagi sampai digenosida. (MO/ra)

Posting Komentar