Oleh : Azizah Nur Hidayah
(Pelajar, member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Berita-berita akurat, terkini dan terpercaya wajib ditayangkan kepada masyarakat. Namun apa jadinya jika berita-berita yang ada saat ini adalah berita-berita bohong? Berita-berita yang menggiring masyarakat pada kesalah pahaman.

Faktanya, berita-berita bohong atau hoax kini semakin marak di media sosial. Bahkan hoax lebih cepat menyebar dibandingkan berita aslinya. Hoax seakan menjadi wabah di media sosial yang tidak bisa dikendalikan sedikit pun.

Seperti kejadian baru-baru ini. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin melaporkan Wasekjen Demokrat Andi Arief ke Bareskrim Polri karena diduga menyebar berita bohong soal isu adanya tujuh kontainer yang membawa surat suara tercoblos. Apa tanggapan Andi?
"KPU Tidak melaporkan saya ke Bareskrim. Berbekal ini saya sebenarnya bisa saja melapor balik Guntur Romli, Ali ngabalin, dan Arya Sinulinga dan sejumlah orang di TKN," ujar Andi, kepada wartawan, Jumat (4/1/2019). (DetikNews/04012019)

Diketahui, Andi Arief membuat cuitan di akun Twitternya yang dianggap mencemarkan nama baik serta menghina paslon nomor urut 1. Cuitan yang dimaksud adalah cuitan Andi Arief yang meminta agar kabar 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos untuk pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dicek kebenarannya. Cuitan itu kemudian dihapus dari Twitter Andi.(DetikNews/04012019).

Beginilah faktanya apabila demokrasi dijadikan sumber pemberitaan. Berita-berita bohong dengan cepat diterima masyarakat. Bahkan lebih cepat dibandingkan pemberitaan di radio ataupun televisi.
Demokrasi secara tidak langsung telah merenggut kepercayaan masyarakat terhadap berita-berita yang bermunculan. Baik itu di dunia maya ataupun dunia nyata.

Masyarakat akhirnya mengalami kebingungan dalam menentukan manakah berita yang asli dan mana berita bohong. Faktanya, berita bohong sangat cepat untuk diakses. Sedangkan berita kebenaran atau berita asli sangat lambat diterima oleh masyarakat.

Demokrasi merupakan sumber hoax. Slogan “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” yang ada pada dirinya saja merupakan kebohongan dan omong kosong untuk pencitraan belaka. Tidak ada kebenaran satu pun di dalamnya.

Dijadikannya demokrasi sebagai pengatur kehidupan sama halnya pertempuran saudara melalui pemberitaan-pemberitaan yang muncul. Pemerintah tidak memiliki filter dalam menangani berita-berita yang bermunculan. Walhasil, berita-berita hoax dengan mudah diakses dan diterima masyarakat tanpa adanya kejelasan.

Satu-satunya solusi adalah diterapkannya Islam secara menyeluruh. Dimana Negara mengadopsi penuh hukum-hukum Allah. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikan pedoman dalam bernegara, dan Syari’at-syari’at Allah dijadikan pegangan untuk memimpin Negara.

Dengan begini, pemerintah mempunyai filter dan kendali penuh dalam bidang pemberitaan Negara. Pemerintah juga akan memiliki kendali penuh dalam menayangkan berita-berita akurat kepada masyarakat, bukan berita-berita bohong yang akan menyesatkan masyarakat.[MO/sr]

Posting Komentar