Oleh: Hanah Nuraenah

Mediaoposisi.com- Dalam bidang pemerintahan Adagium " Tahun politik" komisi pemerintahan umum (KPU) telah menetapkan partai-partai politik peserta pemilu serta pasangan capres dan cawapres  yang akan bersaing memperebutkan suara rakyat di 2019.

Gonjang ganjing dan polarisasi kekuatan politikpun mulai nampak di tahun ini. Sepanjang 2018 Politik transaksional dan biaya politik yang tinggi di tenggarai menjadi pemicu menjamurnya kasus korupsi yang di lakukan pejabat republik.
Baik di level pusat maupun daerah sampai anggota legislatifpun terjerat.

Adanya pemilihan kepala daerah langsung ternyata tidak secara otomatis menghasilkan kepala daerah pilihan rakyat yang berkualitas dan terbebas dari politik korupsi. Di tahun 2018 ini kasus korupsi paling tinggi. Ini merupakan sejarah kelam bagi negara kita.

Belum lagi kasus di bidang ekonomi, hal yang menjadi sorotan banyak pihak terutama para ekonom adalah masalah utang yang jumlahnya makin menggunung. Kondisi ini di perparah dengan anjloknya nilai rupiah terhadap dollar AS. Di sisi lain Berkenaan dengan serbuan tenaga kerja china ke indonesia mengakibatkan pengangguran tenaga kerja indonesia makin tinggi.

Beralih ke bidang Sosial masyarakat, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat kasus penyelundupan narkoba pada 2018. Belum lagi kasus pembunuhan yang bayak menyita perhatian publik. Di susul dengan kasus pembakaran kalimat tauhid oleh banser yang merupakan tindakan melanggar hukum dan berdampak pada kebencian.

Tapi hukumannya sangat ringan. Belum lagi di lihat dari hubungan Internasional  di akhir 2018 penindasan dan intimidasi terhadap muslim uighur di Xinjiang China. Publik mengecam tindakan biadab tersebut tetapi sikap pemerintah indonesia sebagai negara dan penduduk muslim terbesar di dunia terkesan setengah hati untuk sekedar menyampaikan kecaman keras.

Pemerintah terkesan lambat merespon isu kemanusiaan ini. Selanjutnya kasus bencana alam besar yang terjadi di indonesia selama 2018. Gempa bumi 6,1 sr di lebak, banten. Menyebabkan kerusakan yang cukup besar. Tanah longsor di brebes. Gunung sinabung meletus pada jum'at 6 april 2018. gempa bumi di lombok. Gempa bumi palu dan donggala. Tsunami selat sunda. Status bencana di banten dan lampung selatan.

Selain bencana alam kecelakaan moda transportasi publik yang menewaskan ratusan orang. Yakni tenggelamnya KM sinar Bangun di danau toba. Di susul jatuhnya lion air. Pesawat yang baru beroprasi pada 15 agustus 2018.

Seharusnya semua musibah tersebut mendorong orang yang beriman muhasabah. Semua kejadian ini bukan sekedar kebetulan, tapi ini teguran sang pencipta. Kerusakan di darat dan di lautan di sebabkan kemaksiatan manusia yang di lakukan oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dalam menjalankan aturannya.

Padahal dalam syari'at islam pemerintah bertanggung jawab besar terhadap kesejahtraan rakyatnya dan hak rakyat adalah perhatian penuh dari pemerintah. 

Namanya korupsi Uang negara yang di pajak dari masyarakat itu sendiri hukumnya haram karna uang tersebut sama dengan mencuri yang bukan miliknya. Seharusnya semua kembali pada rakyat pemerintah hanya bertugas megelolanya saja. Pemerintah sendiri punya bagian gaji yang bukan mengqmbil dari hak rakyat.

Dengan demikian kita butuh pemimpin yang selain pintar, cerdas juga bermartabat, mandiri dan disiplin dalam menjalankan amanahnya. Sehingga bisa memberikan perubahan hakiki dengan sistem yang bermaslahat dan itu tentunya hanya bisa di wujudkan dengan pemimpin yang menerapkan aturan Islam secara kaffah. Kita berharap di tahun 2019 kedepannya pemimpin negeri ini bisa lebih adil dan bijak.[MO/sr]

Posting Komentar