Oleh:Iis Purwanti

Mediaoposisi.com- Mungkin di tahun 2018 kemarin akan terkenang sebagai tahun duka dan nestapa bagi bangsa ini, akibat musiba yang bertubi-tubi. Selain itu pun mengingat banyaknya bencana massif mencakup kecelakaan transportasi udara dan laut yang menjadi catatan kelam sekaligus peristiwa yang sangat mematikan.

Pada 5 Agustus, gempa berkekuatan 6,9 SK menghantam Pulau Lombok. Gempa ini didahului dengan gempa berkekuatan 6,4 SK, pada akhir Juli wilayah ini juga terus dilanda sejumlah gempa susulan. Gempa bumi di Lombok telah menelan 468 korban jiwa. Selanjutnya, gempa bumi berkekuatan 7,7 SK dan tsunami setinggi 1,5-3 meter di Donggala, Palu yang membawa kehancuran pada akhir September.

Bencana ini meratakan seluruh kota dan membuat lebih dari 330 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Menjelang tutup tahun, kembali lagi terjadi rob-tsunami pada 22 Desember. Jumlah korban tsunami yang menerjang daerah Banten dan Lampung sebanyak 222 meninggal dunia, 843 luka, dan 28 orang hilang (BNPB, 23/12). Akibat tsunami tersebut, sebanyak 558 unit rumah rusak, 9 hotel rusak berat, 60 warung kuliner, dan 350 perahu rusak. (https://makassar.terkini.id)

Tentu sebagai umat muslim, kita harus dapat menyikapi berbagai musibah secara benar sesuai dengan tuntunan syariah. Secara umum musibah terdapat dua macam. Yaitu, pertama musibah karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunatullah atau qada dari Allah yang tidak dapat ditolak. Kedua, musibah yang merupakan akibat dari berbagai kemaksiatan dan pelanggaran manusia terhadap syariah Allah SWT. terutama yang dilakukan oleh para rezim penguasa dalam wujud berbagai tindakan zalim yang mereka lakukan. Allah SWT  berfirman:

"Telah nampak kerusakan didaratan dan dilautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya)." (TQS. Ar-rum [30]:41).

Musibah banjir misalnya, bisa jadi karena banyak manusia yang melakukan maksiat dan pelanggaran. Salah satunya mencemari sungai. Adapun musibah kemiskinan yang dialami bangsa ini, di tengah-tengah kekayaan  negeri ini yang melimpah ruah justru, kemiskinan dinegeri ini bisa jadi merupakan akibat rezim ini menyerahkan sebagian besar kekayaan alam milik rakyat kepada pihak swasta bahkan asing.

Tidak luput dari itu, kemiskinan dinegeri ini juga diakibatkan oleh negeri ini terjerat utang ribawi,  dengan bunga yang harus dibayar setiap  tahun lebih dari 100 triliun. Ada pula musibah lain dalam bentuk bencana moral seperti maraknya perzinahan, LGBT, dll. Musibah itu pun melahirkan ragam bencana lain berupa penyakit yang sulit diobati.

Berbagai musibah/bencana diatas sebetulnya bisa dihentikan, bahkan dicegah. Dengan melakukan amar ma'ruf nahi mungkar terhadap pelaku kemaksiatan/kezaliman. Menerapkan hukuman yang tegas terhadap pelaku kemaksiatan/kezaliman tersebut. Selayak nya umat dapat fokus dan lebih giat berjuang mewujudkan perubahan hakiki, dengan mencampakkan sistem sekuler demokrasi dan menerapkan hukum Allah dalam naungan khilafah yang  tentu sudah dijamin akan mengundang kebaikan dan keberkahan hidup.[MO/sr]

Posting Komentar