Mediaoposisi.com- Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan bahwa Pemerintah Kota Tangerang tidak  memiliki anggaran yang bersumber dari kas daerah untuk membantu korban tsunami di Selat Sunda asal Kota Tangerang yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

Meskipun Arief menyebutkan, bahwa jumlah korban asal Kota Tangerang terbilang banyak.
"Pemda itu tidak punya anggaran. Kita punya dana tak terduga tapi untuk bencana daerah," ungkapnya usai pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang di Tangerang Live Room, Rabu (26/12/2018).

Bencana yang ditimbulkan dari fenomena alam, yang terjadi berulang, seharusnya dijadikan sebagai peringatan dan pemikiran, bagaimana upaya mencegah dan menangulangi serta mengevakusi korban bencana.

Ada persiapan yang dilakukan ketika saat terjadinya bencana tersebut. Baik hal-hal yang bersifat materi semacam dana penanggulangan bencana, ataupun hal-hal yang bersifat immateri semacam mempersiapkan mental warga masyarakat, jika sewaktu-waktu  terjadi bencana yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, fakta berulang selalu menunjukkan adanya "ketidaksiapan" pemerintah sebagai pihak penanggung jawab yang mengurusi urusan warga masyarakat dibawah kepemimpinannya, dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana.

Sehingga hampir semua proses evakuasi korban bencana, diserahkan kepada bantuan warga masyara-kat saja, tersebab ketiadaan dana untuk melakukan penanggulangan korban bencana.

Beruntungnya, warga masyarakat di Indonesia masih mudah tersentuh hatinya, jika diseru untuk menolong sesama yang kesulitan. Apalagi jika yang menyerunya adalah pihak pemerintah. Akan tetapi, mekanisme penanggulangan bencana seperti ini, tetaplah kurang tepat.

Mengingat kemampuan memberikan bantuan oleh warga masyarakat tentulah sangat terbatas, jika dibandingkan dengan mekanisme penanggulangan bencana oleh pemerintah yang "seharusnya" memiliki kemampuan lebih besar dan kesiapan yang lebih kuat.

Karenanya, bencana yang menimbulkan banyak kerugian materi sebetulnya akan bisa dicegah. Kalaupun terjadi akan mudah untuk ditanggulangi, asal ada kesiapan pemerintah untuk melakukan aksi penanggulangan secara cepat dan tepat.

Akan tetapi, bagaimana mungkin pemerintah dalam kungkungan sistem sekuler kapitalis saat ini,  akan mampu menanggulangi bencana dengan cepat dan tepat, jika tidak ada kesatuan komando dan ketersediaan dana yang memadai.

Urusan warga masyarakat terhalang oleh birokrasi yang menjelimet, tersebab cara pandang mengurusi warga masyarakat yang salah. yaitu cara pandang sekuler kapitalis, yaitu cara pandang untung rugi.

Selain itu, sekuler kapitalis telah membuat negara lumpuh tak berkutik dihadapan korporasi yang mengeruk sumber dana milik pemerintah secara rakus.

Melalui kepemilikan sumber daya alam yang bisa dikuasai secara pribadi oleh koorporasi. Padahal pengelolaan sumber daya alam ini adalah salah satu sumber dana yang bisa dijadikan modal pemerintah dalam mengurusi warga masyarakat.

Wajar saja jika hari ini, penanggulangan korban bencana terkesan lambat, kalaupun dipercepat semuanya disinari selalu untuk kepentingan pencitraan semata, bukan untuk sebenar -benar pengurusan atas rakyatnya.

Bagaimana mungkin, seorang masih bisa melakukan selfie disela-sela sibuknya mengurusi korban bencana yang sedang menanggung kesedihan dan kesakitan.

Alhasil, sungguh  sistem sekuler kapitalis tidak akan pernah bersungguh-sungguh dalam mengurusi urusan warga masyarakat kecuali atas dasar prinsip dagang. Dimana ada keuntungan disitu bisnis berlaku, tak terkecuali ditempat bencana.

Kesedihan dan kesakitan ditanggung sendiri oleh korban bencana. Sungguh kedzoliman dalam sistem sekuler kapitalis kembali dipertontonkan. Rasa empati dan simpati telah tergerus habis terkena badai tsunami sistem sekuler kapitalis dan terpendam jauh tertimbun longsor akibat gempa sistem sekuler kapitalis.

Bencana dan solusinya dalam Islam
Sungguh Islam selalu mengajak manusia untuk berfikir, terkait seluruh aspek kehidupan.  Tidak ada satupun yang luput dari perhatiannya. Islam telah mengajarkan letusan gunung berapi, tsunami, banjir bandang sebagai fenomena alam yang dapat bermakna teguran ataupun penambah keimanan didalam hati.

Islampun mengajarkan bagaimana mencegah dan menanggulangi jika terjadi fenomena alam tersebut. Semua bisa dipelajari secara saintifik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Semua badan dan lembaga yang mengawasi seluruh fenomena alam ini berkerja dengan kesungguhan  hati untuk menjaga hidup dan kehidupan manusia. Karena harga nyawa manusia dalam Islam sungguh sangat teramat tinggi dan mahal harganya.

Karenanya proses evakuasi korban bencana pun akan dilakukan dengan kesungguhan hati, dipimpin langsung oleh seorang Khalifah.

Khalifah sangat memahami, jika ia lalai dalam mengevakuasi korban bencana, hingga ada satu manusia yang merasa terdzolimi karena terlewatkan dari pengurusnya. Akan dicatatkan sebagai dosa dan kelalaian dimata Syariat, kelak pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT sangat berat.

Seorang Khalifah akan mampu melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana hingga evakuasi korban bencana, tersebab Khalifah memiliki modal untuk melakukan semua aktivitas itu. Modal yang Allah swt berikan melalui seperangkat aturan yang disebut sebagai Syariat islam.

Tersebab mengurusi urusan manusia seluruhnya,  baik yang menjadi korban bencana alam ataupun tidak, adalah urusan yang sangat besar dan membutuhkan modal yang juga besar. Karenanya yang mampu melaksanakan hal ini hanyalah seorang Khalifah yang menjalankannya syariat Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah. Bukan yang lain.

Karenanya, cukuplah sudah fenomena alam yang menimbulkan banyak korban baik materi maupun nyawa tanpa penanggulangan yang baik dari penguasa terjadi dalam sistem sekuler kapitalis saat ini, wajiblah kita sudahi.

Saatnya manusia kembali pada aturan yang Allah SWT tetapkan yang semuanya terangkum dalam syariat Islam Kaffah dalam bingkai khilafah dan dilaksanakan oleh seorang Khalifah.

Yang pasti akan benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi fenomena alam yang bisa menimbulkan korban jiwa dan materi, dengan sebenar-benarnya penanggulangan sehingga tak ada satupun korban bencana yang terlewat dari pengurusannya.

Posting Komentar