Oleh Julia Amrih 
(Blogger sekaligus penulis buku)

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini dunia politik kembali ramai. Ranah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan ini kembali gaduh. Lantaran dari salah satu kubu calon presiden mengusulkan untuk tes uji baca qur’an sebagai salah satu syarat uji kelayakan seorang presiden. (news.okezone.com 30/12/18)

Sebenarnya, lucu juga bila sekelas presiden saja uji kelayakannya adalah baca qur’an. Untuk sekelas pemimpin sholat, dengan minimal 1 orang yang dipimpin,  seorang imam haruslah yang paling baik bacaan qur’annya, tahu gerakan sholat, dan lainnya.

Maka apakah sekelas presiden yang cakupannya lebih luas dan terkait masa depan jutaan rakyat selama lima tahun ke depan cukup diuji dengan uji baca qur’an? Jika begitu, lantas apa bedanya pemimpin negara dengan anak TK atau SD yang mau masuk madrasah? Yang kadang juga diuji bacaan qur’annya untuk tahu sejauh mana ia bisa mengaji.

Tapi begitulah demokrasi. Mereka melakukan segala cara agar calon yang ia dukung mendapat tempat di hati pemilih.

Dalam demokrasi, mungkin sekali seorang koruptor terpilih  menjadi pemimpin, asalkan ia bisa menutupi keburukannya. Lihatlah bagaimana kasus korupsi pemimpin daerah semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Dari Januari hingga Juli 2018 saja sudah ada 19 kepala daerah yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. (Sumber: nasional.kompas.com 19/7/18)

Karena memang dalam demokrasi, kadang seorang calon dipoles sedemikian rupa sehingga ia menarik untuk dipilih. Perkara apakah mereka para calon benar-benar jujur, berintegritas, dan mampu adalah perkara belakangan.

Selain itu segala cara dihalalkan agar dirinya terpilih menjadi pemimpin atau legislatif pada pemilihan tersebut. Kita tentu tak asing lagi dengan istilah “serangan fajar” setiap musim pemilu. Sehingga ketika terpilih, mereka fokus untuk memikirkan bagaimana caranya “balik modal” ketimbang mengurusi rakyat. Sebaliknya, bila tak terpilih, ada banyak yang stres karenanya.

Dalam Islam, seharusnya kriteria pemimpin yang baik adalah pemimpin yang amanah, kuat, jujur dan mau menerapkan hukum sesuai dengan yang Allah perintahkan.

Sebagaimana yang tertulis di dalam Alqur’an yang artinya "Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". (QS. Al-Maidah: 44)

Jadi perkara tentang siap atau tidaknya seorang pemimpin untuk bisa menerapkan hukum Allah sesuai dengan yang tertulis di Alqur’an sebenarnya jauh lebih penting dibanding hanya sebatas bisa membacanya.

Karena Alqur’an bukan hanya sebuah bacaan, melainkan sebuah pedoman hidup bagi seorang muslim. Bahkan seorang muslim yang hanya membaca tanpa mau menerapkan apa yang tertulis di dalam Alqur’an dikatakan sebagai seorang yang fasik.

“...Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Ma’idah : 47]

Sudah saatnya negara ini butuh sistem Islam yakni khilafah dalam memilih pemimpin. Bila dalam demokrasi ukuran fokusnya adalah materi, dalam Islam, seseorang akan menilai bahwa semua tugas adalah amanah, yang harus dipertanggung jawabkan di hari akhir nanti.

Selain itu, ada hukum-hukum tegas yang dapat diterapkan dan membuat jera bagi yang melakukan kesalahan atau kecurangan.

Jadi, mana yang lebih penting bagi calon presiden, uji bacaan Qur’annya atau uji kesiapannya memimpin dengan Qur’an?

Posting Komentar