Oleh: Yuni Damayanti
(Muslimah Media Konawe)

Mediaoposisi.com-Tahun 2018 adalah tahun kesedihan bagi negeri tercinta ini. Kezaliman demi kezaliman terjadi di depan mata.

Persekusi terhadap  ulama kian marak terjadi. Kriminalisasi terhadap simbol-simbol agama juga tak ketinggalan.

Ustad Abdul Somad mengaku mengalami ancaman dan intimidasi sehingga harus membatalkan jadwal ceramahnya  disejumlah daerah. Politikus PAN Faldo Maldani mengungkapkan kejadian tersebut mencederai demokrasi dan harus dilawan.”

Kita siap dukung dan membela dia dan melawan orang-orang yang melakukan persekusi. Negara kita sudah lama sekali memperjuangkan kebebasan demokrasi,” kata Faldo yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral PAN (Republika.co.id, 03/09/2018).

Kejadian serupa juga menimpa Habib Bahar Bin Smith dan Habib Hanif Alatas. Diketahui suasana di Bandara Sam Ratulangi Manado pada senin (15/10/2018) sangat mencekam.

Pasalnya puluhan preman bersenjata pedang yang menghadang kedatangan Habib Hanif Alatas (mantu Habib Rizieq Shihab) dan Habib Bahar Bin Smith, yang ingin menghadiri acara zikir Akbar dan Haul Habib Ali Bin Abdurahman Bin Smith di Manado.

Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 KH Slamet Ma’arif menegaskan pihaknya akan menggerakkan umat Islam melakukan perlawanan jika dikemudian hari terjadi pembiaran oleh aparat adanya aksi persekusi terhadap ulama di dalam bandara.

UU mengatur Bandara harus steril dari aksi dan unjukrasa dan sejenisnya. UU telah dengan tegas menyatakan hal ini, dan hukum harus ditegakkan, bukan malah takut dengan preman bayaran (Indopos.co.id, 16/11/2018).

Peristiwa yang tak kalah mengagetkan umat Islam juga terjadi pada Hari Santri Nasional dengan adanya aksi pembakaran bendera yang menuai kontroversi.

Rabhitah Alawiyah mengecam tindakan tidak patut yang dilakukan oknum Banser GP Anshor terhadap bendera bertuliskan kalimat tauhid. Tindakan pembakaran menurut Ketua Umum Rabhitah Alawiyah, Habib Zen Bin Smith telah menodai perayaan Hari Santri Nasional.

DPP Rabhitah Alawiyah mengutuk aksi oknum tersebut dengan menghimbau kepada GP Anshor untuk menempatkan persoalan dengan jernih dan proporsional serta tidak perlu menyibukkan diri dengan membuat alasan yang terkesan membenarkan tindakan tidak beradab tersebut ucap dia dalam siaran pers (Republika.co.id, 23/10/2108).

Dari berbagai peristiwa di atas, tidak heran jika melihat kaum mayor di negeri ini yang seolah terpinggirkan.

Pasalnya Indonesia menganut sistem sekuler yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya boleh mengurus ranah personal namun tidak untuk menguruh ranah publik. Kebebasan berpendapat pun hanya sebatas slogan saja.

Faktanya dapat dilihat ketika umat Islam atau ulama menyampaikan pendapat atau mengkritik kebijakan-kebijakan penguasa, maka stempel radikal akan segera disematkan pada mereka.

Ulama hanya boleh membicarakan aturan-aturan ibadah ritual saja di mimbar-mimbarnya, jika  mulai menyinggung pembahasan ekonomi dan politik Islam persekusi mulai digencarkan untuk membidik  mereka.

Inilah yang sedang terjadi di negeri yang konon menjunjung tinggi toleransi. Umat Islam yang jumlahnya mayoritas, namun tak sedikit mengalami kezaliman.

Berbagai cara dilakukan oleh rezim untuk membungkam suara ulama,mulai dari cara halus dengan iming-iming harta dan kekuasaan, sampai pada cara kasar seperti pencabutan paksa badan hukum perkumpulan (BHP) seperti yang dialami oleh beberapa ormas Islam yang lantang menyerukan kebenaran.

Pun Pemboikotan dan ancaman hukum alias pidana dilakukan dengan dalih membahayakan keutuhan negara dan eksistensi dasar pancasila.

Semua itu terjadi karena buah dari penerapan sistem sekuler demokrasi yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan.Para ulama dikriminalisasi ketika bersikukuh dengan kebenaran yang diyakini sesuai dengan landasan agama.

Padahal memisahkan agama dari kehidupan menimbulkan berbagai persoalan dalam kehidupan. Sebab manusia tidak mau menerapkan aturan Allah dalam kehidupannya, dengan anggapan bahwa mereka lebih mampu mengatur urusan kehidupannya sendiri.

Alhasil hukum-hukum buatan manusia akan cenderung mengikuti hawa nafsunya dan menimbulkan kerusakan dimuka bumi.

Padahal Islam bukan hanya sekedar agama, melainkan sebuah pandangan hidup yang mengatur urusan kehidupan secara keseluruhan. Inilah yang membuat rezim panik ketika ulama mulai bersuara. Karena ulama adalah pewaris nabi sehingga ulama memiliki kedudukan yang tinggi di mata umat. Mereka memperbaiki kerusakan ditengah umat manusia.

Para ulama mengemban tugas dakwah sepeninggalan Rasulullah SAW sebagaimana beliau bersabda yang artinya, "Sungguh para ulama adalah pewaris nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu maka dia telah mendapatkan bagian terbanyak dari warisan Para Nabi (HR. Tirmidzi no 2682)".

Maka wajar ketika berbagai bencana datang, karena telah banyak perintah Allah SWT mulai diabaikan oleh hambanya, maka hal ini mengundang berbagai peringatan dari-Nya. Tengok saja, pada 5 Agustus gempa berkekuatan 6,9 menghantam pulau lombok.

Selanjutnya gempa bumi berkekuatan 7,7 dan tsunami setinggi 1,5-3 meter di Donggala Palu yang membawa kehancuran pada akhir September. Menjelang tutup tahun pun, kembali terjadi rob-tsunami pada 22 Desember.

Datangnya bencana  silih berganti menyapa negeri, mestinya cukup membuat kita sadar untuk kembali pada aturan-aturan Allah SWT. Menjadikan bencana ini sebagai bahan muhasabah. Sebagaimana gempa juga pernah terjadi di masa kekhilafahan Umar Bin Khattab.

Disampaikan  dalam riwayat Ibnu Abid Dunya dalam manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tanganya ke tanah dan berkata kepada bumi. “Ada apa denganmu?”

Inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi kaum muslim kepada masyarakat pasca gempa. “Wahai masyarakat, tidakkah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukaan dosa.

Demi yang jiwaku ada di tangaNya, jika terjadi gempa susulan aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Sesungguhnya sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah SAW telah berhasil membawa masyarakat Arab jahiliyah yang terbelakang dan tidak diperhitungkan menjadi umat Islam yang  mampu mengalahkan Persia dan Romawi.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk membangkitkan umat dari keterpurukanya adalah membentuk kesadaran diterapkanya syariah yaitu dengan memahamkan kepada umat bahwa mereka adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Menyampaikan tujuan hidup di dunia adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Maka hidup harus sesuai dengan tuntunan Allah SWT sebagai konsekuensi keimanan mereka dan wujud ketakwaan kepada-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al-Ahzab ayat 36 yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang beriman dan tidak pula perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rosulnya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Umat  hendaknnya disadarkan bahwa keselamatan hidup akan diperoleh ketika mau mengikuti aturan-Nya. Kemudian ditanamkan pada diri umat bahwa mereka juga diseru untuk segera melaksanakan perintah-Nya dan memperjuangkan tegaknya syariah baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat mupun bernegara.

Setelah terbentuk kesadaran akan kewajiban penerapan syariah secara keseluruhan dalam diri umat. Tahun 2019 saatnya umat untuk fokus dan lebih giat berjuang mewujudkan perubahan hakiki.

Yakni dengan mengajak umat mencampakkan sistem sekuler demokrasi yang telah berhasil menjauhkan umat dari agamanya, dan menjauhkan umat dari persatuan kaum muslimin karena sekat-sekat nasionalisme.

Mengajak umat untuk menerapkan hukum Allah SWT dalam naungan institusi Islam yang dijamin akan mengundang kebaikan dan keberkahan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Posting Komentar