Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Saya perlu memberi jawaban, kepada siapapun yang bertanya kenapa saya tidak mengarahkan umat memilih Jokowi. Perlu diingat, setiap tindakan/perbuatan (amal) itu terikat dalil syara'.
Donasi Save Muslim Uighur

Hukum syara, akan memberikan status hukum apakah tindakan itu wajib, Sunnah, makruh, haram, atau mubah.

Untuk kasus Jokowi, saya tidak menemukan satupun argumen yang menjadi alasan mewajibkan saya untuk merekomendasikan umat memilihnya, tidak juga Sunnah. Bahkan, sulit untuk membenarkan status 'mubah' memilih Jokowi.

Pendapat yang terkuat, justru mengarah pada kesimpulan haram memilih Jokowi. Keharaman memilih Jokowi untuk menjadi pemimpin ini disebabkan beberapa alasan :

Pertama, Jokowi terbukti pemimpin yang ingkar janji, pemimpin khianat, pemimpin yang tidak amanah. Sehingga, haram bagi kaum muslimin memberikan amanat kepada orang yang terbukti khianat.

Adapun janji Jokowi yang tidak akan ingkar janji lagi jika terpilih, tidak menghilangkan status haramnya memilih Jokowi. Karena, bagi seorang yang terbiasa khianat, akan mudah mengumbar janji. Jika satu janji tidak ditepati, akan ditutup dengan janji yang lain. Begitu seterusnya.

Kedua, Jokowi represif dan anti Islam. Represif berarti zalim, lawan katanya adil. Jokowi tidak adil, baik dalam urusan ekonomi, penegakan hukum dan politik.

Secara ekonomi, kebijakan ekonomi Jokowi pro asing dan aseng, para pengusaha dan China. Sementara rakyat jelata, dibiarkan terus mengalami kesulitan hidup.

Secara hukum, proses Penegakan hukum hanya diarahkan kepada lawan politik. Sementara yang pro Jokowi, aman. Contoh saja, sama-sama hoax, Ratna di penjara sementara la nyala mendapat pengampunan dosa karena merapat ke Jokowi.

Secara politik, nyaris semua jabatan politik dan akses kekuasaan dikuasai Jokowi n the gank. Seolah, negara ini milik mereka saja. Yang lain cuma dianggap ngontrak.

Rezim Jokowi anti Islam, terlihat dari maraknya kriminalisasi terhadap ulama, habaib, ormas Islam, bahkan hingga simbol dan ajaran Islam. Bayangkan saja, hanya di era Jokowi khilafah dan bendera tauhid dipersoalkan.

Ketiga, Jokowi tidak cakap mengelola pemerintahan. Prestasi yang paling mudah diindera adalah mrnumpuk hutang. Infrastuktur bukan prestasi, sebab kuli bangunan juga bisa bangun jalan. Firaun juga bisa bikin piramida.

Bahkan, infrastruktur Jokowi dibangun diatas puing bangkai penderitaan rakyat. Uang haji dan BPJS diembat untuk bangun jalan. Ini negara mau menghidupi rakyat apa mau bikin prasasti jalan tol ?

Sudah sudah sudah, saya menulis sampai jari telunjuk pegal pun pasti tidak mungkin ditemukan 'satupun' alasan untuk memilih Jokowi. Bahkan, saya bisa simpulkan -dan agar tulisan ini tidak panjang- bahwa HARAM MEMILIH JOKOWI.

Siapapun yang memilihnya mendapat dosa, siapa saja yang tidak memilihnya mendapat pahala. Dan siapa saja, yang menyebarkan tulisan ini mendapat pahala jariah dari Allah SWT, InsyaAllah, Amien YRA. [MO/ge]

Posting Komentar