Oleh : Meyla Asyifa Hanna

Mediaoposisi.com- Taubat adalah aktifitas memperbaiki diri dan berjanji tidak mengulangi kesalahan lagi. Begitulah kira-kira makna sederhana dari kata taubat. Bagaimana dengan praktiknya? Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, tidak pula sesulit membalikkan sebuah mobil seorang diri. Jelas! Perkaranya bukan adu otot. Tapi adu kemauan. Mau ataukah tidak seseorang bersegera untuk bertaubat. Ini soal pilihan.

Massal artinya bersama sama. Bisa juga diartikan keseluruhan, semuanya. Pada intinya arti massal adalah berjama’ah, banyak orang. To the point, maka judul diatas adalah seruan bagi siapapun yang merasa menjadi bagian dari pejuang khilafah, mari kita bersegera memperbaiki kualitas dakwah sebagai bentuk keseriusan kita menjemput pertolongan Allah untuk tegaknya Khilafah sesegera mungkin.

Mari kita simak salah satu surat cinta dari Allah berikut ini :
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat : 33).

Ayat diatas menjadi salah satu keistimewaan para pengemban dakwah, khususnya pejuang khilafah. Kata “siapakah” menjadi bukti Allah menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada dakwah, kemudian tidak ada aktifitas yang lebih baik daripada amal shalih dan tidak ada sikap yang lebih baik daripada tawakkal setelah melakukan usaha yang terbaik.

Apabila kita perhatikan dengan baik firman Allah tersebut, semestinya tidak ada keraguan sedikitpun tentang mengerahkan segala yang Allah titipkan kepada kita mulai dari waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa sekalipun dalam ikut andil menjadi bagian menyambut bisyarah Rasul dan Janji Allah tentang kembalinya kekhilafahan. Sebagaimana sabda Rasulullah :

"Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan 'ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah 'ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam". [HR. Imam Ahmad]

Maka berikut beberapa point yang semoga menjadi pelecut kita bersama agar optimal dalam dakwah sehingga tak menyesal di yaumil hisab kelak.

Pertama, atur waktu sebaik mungkin dan jaga kesehatan. Sungguh dua hal yang banyak membuat lalai manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang. Berkenaan tentang waktu, ada seseorang yang hanya dalam hitungan jam mampu menyelesaikan suatu hal, namun seseorang yang lain membutuhkan waktu berhari hari.

Kenapa hal seperti ini bisa berbeda? Tentu akan ada banyak faktornya, bisa dari kemampuan yang berbeda, tenaga yang berbeda atau sesuatu yang mendukung dalam menyelesaikan suatu hal tersebut kualitasnya berbeda. Dari sini ada satu kesimpulan yang bisa kita pahami bahwa faktor terbesarnya adalah kebiasaan dalam mengelola waktulah yang berbeda.

Tak dapat dipungkiri, kebiasaan yang hebat akan menghasilkan sesuatu yang hebat pula, begitupun sebaliknya. Kebiasaan yang biasa-biasa saja maka akan menghasilkan sesuatu yang biasa pula. Kuncinya adalah hasil tidak akan menghianati proses. Dan Allah sebaik baik pemberi balasan. Kemudian, bicara tentang kesehatan, harus disadari jika kesehatan menurun, seseorang akan kurang maksimal dalam melakukan apapun.

Maka islam mengharamkan mendzalimi diri sendiri, karena tubuh juga mempunyai hak untuk dijaga dan mempunyai hak untuk terus dimanfa’atkan dalam kebaikan. Setiap mulut berhak mengucapkan kebaikan, tangan berbuat kebaikan, kaki dilangkahkan dalam kebaikan, karena seluruh anggota tubuh akan ditanya telah dipergunakan untuk apa.

Maka dari point pertama ini, semoga 24 jam yang Allah titipkan konsisten kita gunakan untuk maksimal dalam menambah tsaqafah, menyampaikan dakwah pentingnya khilafah, optimal melaksanakan yang wajib, bersemangat melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, serius menjaga kesehatan agar optimal dalam dakwah sehingga tiada kata malas, tiada kata nanti, yang ada hanyalah bersegera, bersegera dan bersegera semata mata karena Allah.

Kedua, sering-seringlah mengingat kematian dan hari kebangkitan. Sungguh dua hal yang disadari atau tidak seringkali tak mendapat perhatian serius adalah kepastian ajal dan detilnya Allah meminta pertanggung jawaban atas setiap amal. Berkenaan tentang ajal, siapa yang tidak tahu setiap yang bernyawa pasti akan mati? siapa pula yang tidak tahu setiap ajal datang tiba-tiba? Tetapi nampaknya tahu saja tidak cukup.

Bahkan fatal. Karena tingkat pengetahuan seseorang tentang kematian menentukan cara hidupnya. Jika sekedar mengira bahwa mati memutuskan semua keinginan dan cita-cita serta memisahkan dari orang-orang yang dikasihi, sungguh ini pengetahuan yang dangkal.

Karena seorang muslim yang memahami hakikat kematian justru akan bervisi akhirat dan bermisi mengumpulkan kembali orang-orang yang dikasihi agar bersama sama melanjutkan kehidupan selamanya di Surga Allah yang Maha Indah Penuh Kenikmatan Tak Terhingga. Kemudian, bicara tentang  hari kebangkitan, maka dibutuhkan pula pengetahuan yang terus menerus kita upgrade agar tak sekedar tahu akan ada yaumil hisab, tapi tak tahu betapa sulitnya sa’at hari itu tiba.

Karena tiada yang luput dari keMahaTahuan Allah tentang segala sesuatu sebagaimana firmanNya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”.(Q.S. Al Zalzalah: 7 – 8).

Maka dari point kedua ini, semoga dari setiap yang kita persembahkan adalah sudah yang terbaik. Dakwah lisan ataupun tulisan yang terbaik, menuntut ilmu serius dan beramal terbaik, shalat terbaik, membaca qur’an dengan bacaan terbaik dan banyaknya waktu memahami isinya sehingga setiap sikap dan tutur kata semuanya dalam kondisi terbaik. Dan sampailah kita menemui ajal juga dalam keadaan terbaik.

Terakhir, mari kita mulai “taubat massal” ini dengan produktif massal karya-karya terbaik yang bisa kita persembahkan untuk ikut andil menyongsong abad khilafah yang tegaknya in syaa Allah tahun ini. Aamiin.[MO/sr]


Posting Komentar