Oleh: Dwi Aida Rachmawati
(Anggota BMI Community)

Mediaoposisi.com- Awal tahun baru sudah mulai dijalani, banyak resolusi yang mulai direalisasi tapi tak bisa dipungkiri bahwa nasib generasi sedang ditentukan oleh kesungguhan dan ketegasan suatu negeri menjunjung kebaikan.

Kabar duka pun mulai tersiar satu per satu mengabarkan keterpurukan nasib generasi bangsa akibat moral impor dari negeri anta brantah yaitu hedonisme. Budaya itu menyerebak dengan cepat hingga terlalu sering menimbulkan kegundahan ibu pertiwi dan butuh solusi tepat dalam penangannya.

Budaya hedonisme ini baru saja menggerakkan tangan bocah berusia 11 tahun untuk meneguk miras oplosan. Mirisnya, bocah tersebut bisa membeli miras oplosan dengan jerih payahnya sendiri yaitu dari hasil mengamen di jalanan.

(Merdeka.com  15/01/19) Ditahun sebelumnya, banyak juga media yang memberitakan aksi generasi bangsa terutama anak dibawah umur. Pada awal tahun lalu, Okezone.com (22/01/18) melansir berita mengenai pesta miras yang dilakukan oleh 25 orang dan 8 diantara merupakan anak dibawah umur. Ironinya, anak berjenis kelamin perempuan pun turut menjadi korban maraknya budaya minum miras oplosan ini. Gadis belia berumur 15 tahun tewas akibat meneguk spirtus. (Detik.com, 28/04/18)

Hingga CIPS (Center for Indonesian Policy Studies) memaparkan hasil monitoring korban tewas akibat miras sejak 2014 - 2018 naik drastis menjadi lebih dari 500 orang. (BBC.com, 11/04/18)

Harga miras oplosan memang tergolong murah sehingga bisa dibeli oleh semua kalangan sehingga bisa dijadikan sebagai lifestyle untuk melepas dahaga layaknya softdrink. Berbagai dampak negatif mulai dari kehilangan kesadaran, rusaknya fisik dan psikis, zina, hingga tewas yang diakibatkan oleh miras seolah tidak bisa menggambarkan betapa ruginya hidup manusia jika berteman dengan minuman ini.

Karena Di Pekanbaru, Minuman ini justru menjadi ladang rejeki haram. Produsen egois ini sangat tergiur dengan omzet yang bisa menembus 1 milyar dalam 1 bulan. (Kompas.com, 14/01/19) Padahal, resiko buruk jelas terlihat didepan mata yang tidak hanya didapatkan oleh dirinya saja tapi juga masyarakat luas dan bangsanya.

Lebih mengherankan lagi, ternyata Gatra.com mengabarkan bahwa Gubernur NTT pernah berpesan “Saya minta semua Kepala Daerah mencabut izin larangan produksi miras lokal. Kita izinkan dan berupaya membina mereka agar produksinya bagus dan pemasarannya teratur, berkualitas. Saya juga minta polisi jangan tangkap mereka, prosuksi dan penjual miras lokal.” Ujar Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. (30/11/2018)

 Kabar tersebut justru membuat hati ibu pertiwi teriris karena akan ada payung hukum yang melindungi kemaksiatan. Apalagi, RUU minol (minuman beralkohol) masih belum disahkan oleh pemerintah sejak penggodokannya di tahun 2015 (Detik.com, 14/05/18) Hal ini justru menambah beban ibu pertiwi dalam menjaga generasi muda dari menjamurnya miras.

Jelas, butuh sinergitas yang solid dari berbagai pihak mulai dari individu dalam menjaga dirinya dari keburukan, keluarga dalam mendidik, masyarakat dalam mensuasanakan pribadi terpuji dan peduli, para intelektual dalam mencerdaskan, juga pemerintah dalam memutuskan kebijakan tegas nan solutif untuk menumpas tradisi oplosan.

Karena, miras tidak hanya akan merenggut nyawa manusia tapi juga bisa merenggut nyawa suatu bangsa. Bagaimana tidak, jika pelaku utamanya adalah generasi penerus bangsa dan yang mendukung keberadaanya justru malah dari pihak pemerintahan. Tidakkah kita ingat bahwa generasi mudalah yang akan meneruskan perjuangan bangsa menjadi hebat.

Maka, jangalah kalian rusak permata bangsa kita dan mari buka mata bersama – sama untuk melihat dampak buruk dalam jangka pendek dan juga jangka panjang yang akan terjadi jika kita masih saja abai dan hanya mementingkan urusan pribadi. Kencangkan sinergitas dalam mensolusi miras oplosan yang sudah mendarah daging ini dengan bijak.[MO/sr]


Posting Komentar