Oleh: Komariah S.S

Mediaoposisi.com- Tahun politik dimulai, persaingan paslon presiden dan wakil presiden bersiap menjajakan diri ke kantong-kantong masa.

Kini viral perbincangan  rencana tes membaca AlQuran bagi kedua capres. Menanggapi hal ini, Ridlwan Habib,  peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta mengatakan "Tes baca AlQuran bagi seorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya". (www.tribunnews.com)

Sebagian rakyat mungkin saja gembira terkait tes baca AlQuran bagi para capres, karena mereka yakin capres yang mereka usung lebih baik skill membaca AlQuran nya. Sebaliknya mungkin salah satu kubu pendukung capres  memandang "ngeri" jika tes tersebut diujikan kepada capres jagoannya. Tentu saja, dengan logika mereka yang pernah melihat capres jagoannya terjatuh dalam insiden  alpatekah dan  jainudin naciro.

Menilik kedua insiden tersebut, tak pelak insiden tersebut sangat jauh dari segi kefashihan seorang muslim membaca kata-kata di dalam AlQuran yang memang berbahasa Arab. Padahal AlQuran sudah seharusnya dibaca dengan tartil (benar). Sebagaimana Allah firmankan dalam surat al Muzzammil ayat 4, yang berbunyi:

 ...وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا
"Dan bacalah AlQuran dengan tartil"

Tartil pada ayat di atas maksudnya adalah ”Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah). Jikalau kaidah-kaidah tajwid diindahkan, maka kefasihan membaca AlQuran akan diraih. Sebagaimana dalam salah satu bait Matn al-Muqaddimah al-Jazariyyah karya Imam  jazary disebutkan:


 مخارج الحروف والصّفات ليلفظو بأفصح اللغاة 
"(mempelajari tajwid) tempat keluarnya huruf dan sifat-sifatnya, agar mereka bisa melafazhkan AlQuran dengan bahasa yang paling fashih"

Terlepas dari riwayat ketidakfasihan salah satu capres dalam membaca kata dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa AlQuran, maka yang membuat miris bukanlah itu semata. Tetapi lebih besar dari itu, sangat jelas terlihat bahwa di dalam sistem Demokrasi Sekuler saat ini (pen: sistem kehidupan yang memisahkan agama (Islam) dari kehidupan bernegara), Alquran hanya dijadikan pemanis bibir dan dijadikan alat politik demi memenangkan persaingan politik praktis.

Padahal Allah, Sang Pencipta telah memastikan Al Quran sebagai  wahyuNya adalah petunjuk hidup yang WAJIB bagi seluruh muslim mengamalkan isinya secara keseluruhan.

Dalam kapasitas seorang presiden atau pemimpin sebuah negara, dengan kekuasaan yang dimilikinya, maka tantangan yang lebih tepat harusnya adalah tantangan kepada para paslon untuk menggunakan kekuasaan yang dimilikinya kelak untuk menerapkan isi AlQuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena AlQuran tidak lain  berisi seperangkat aturan kehidupan yang dengan penerapannya, Allah jamin sebuah negeri yang aman, sejahtera dan penuh rahmat.[MO/sr]

Posting Komentar