Oleh : Ilma Kurnia P, S.P 
(Pemerhati Generasi, Member Revowriter)

Mediaoposisi.com-Ramai diberitakan mengenai kompetisi antar capres dan cawapres mulai panas dengan isu keagamaan. Salah satunya muncul tantangan membaca Al-Quran bagi masing-masing pasangan capres-cawapres yang dilontarkan oleh Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak, di Banda Aceh. Gagasan ini menuai banyak komentar dari kalangan masyarakat. Ada beberapa yang menyampaikan bahwa hendaknya Al-Quran tidak hanya sekedar dibaca tetapi juga diterapkan dalam aplikasi kehidupan.

Selain membaca Al-Quran  juga tidaklah mudah karena ada aturan membaca harus dengan tartil yaitu pelafalan huruf demi hurufnya harus jelas dan penuh dengan kekusyukan. Namun, tentunya semua amalan dalam membaca Al-Quran harus dengan niat ikhlas karena Allah bukan hanya untuk mendompleng popularitas, untuk menaikan elektabilitas dan menjatuhkan orang ain.  Perbuatan menjadikan Al-Quran hanya untuk penarik simpati adalah hasil nyata dari buah  sekulerisasi di negeri yang kebanyakan muslim ini.
Sistem sekuler yang memisahkan kehidupan dunia dengan agama telah sukses menjadikan muslim puas dengan hanya kualitas bisa membaca dan menghafal Al-Quran. Namun pada saat yang bersamaan, banyak yang merasa tidak peduli bahkan acuh ketika akan dijauhkannya penerapan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Seakan Al-Quran masih diambil sebatas yang disenangi layaknya hidangan prasmanan yang bisa diambil sesuka hati.

Bukan Sekedar Bacaan
Kaum Muslim tentu disunnahkan untuk banyak membaca al-Quran. Namun demikian, al-Quran tentu bukan sekadar bacaan. Al-Quran adalah kitab hukum. Al-Quran berisi petunjuk kehidupan dan hukum-hukum yang menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia.

Jika membaca al-Quran adalah sunnah, maka mengamalkan isinya atau berhukum dengan hukum-hukumnya adalah wajib. Selain membahas tema akidah, ayat-ayat al-Quran juga menjelaskan hukum-hukum Allah SWT bagi umat manusia mulai dari hukum-hukum seputar ibadah, akhlak, rumah tangga, ekonomi hingga pemerintahan dan militer.

Hukum-hukum yang dikandung dalam al-Quran adalah hukum terbaik bagi manusia. Tak bisa ditandingi oleh hukum buatan manusia. Kewajiban berhukum dengan al-Quran adalah perkara yang tak bisa ditawar lagi. Banyak ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum dengan al-Quran. Allah SWT berfirman: 

Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu” (TQS Al-Maidah : 49).

Allah SWT pun menegaskan sebagai seorang Muslim, yang telah diberi keputusan hukum oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak seharusnya mencari pilihan yang lain. Seorang muslim wajib tetap mematuhi segala yang telah ditetapan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti firman Allah yang artinya :

Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat secara nyata “ (TQS Al-Ahzab : 36)

Karena itu,  sebagai mayoritas negeri muslim terbanyak penduduknya ini, sangatlah lucu dan aneh jika dalam kehidupan bernegara justru masih mengemban sistem sekularisme dan kapitalisme yang begitu dibanggakan. Tak jarang juga mulai bermunculan opini dariseorang pejabat negara yang menuturkan untuk tidak memasukkan agama ke dalam ranah politik.

Padahal kehidupan politik pun tak bisa lepas dari agama. Terlebih Islam adalah agama yang sempurna didalamnya Al-Quran telah mengatur seluruh aspek kehidupan. Al-Quran juga satu-satunya kitab suci yang membawa hukum-hukum terbaik dari Allah SWT untuk umat manusia.

Hukum-hukum yang akan menjamin keberkahan dan kebaikan hidup bagi manusia di dunia dan akhirat. Untuk itu tujuan Allah SWT amatlah jelas menurunkan al-Quran untuk hambanya tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia, yang didalamnya terdapat hukum-hukum yang harus wajib diterapkan dalam kehidupan.[MO/sr]

Posting Komentar