Oleh: Sunarti

Mediaoposisi.com- Kompetisi antar capres-cawapres mulai panas dengan isu keagamaan. Setelah persoalan shalat, kali ini muncul tantangan membaca al-quran bagi masing-masing pasangan capre-cawapres.

Setiap muslim tentu didorong untuk gemar membaca al-quran dan menghiasi lisan mereka dengan tilawah yang mulia ini. Tentu semua amalan tilawahal-quran dilakukan dengan niat ikhlas mengharap ridha Allah SWT. Bukan untuk mendapatkan popularitas, menaikkan elektabilitas dan menjatuhkan orang lain.

Kaum muslim tentu disunnahkan untuk banyak membaca al-quran. Namun demikian, al-quran bukan sekedar bacaan. Al-quran berisi petunjuk kehidupan dan hukum-hukum yang menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia. Jika membaca al-quran adalah sunnah, maka mengamalkan isinya atau berhukum dengan hukum-hukumnya adalah wajib.

Selain diketahui, selain membahas tema akidah, ayat-ayat al-quran juga menjelaskan hukum-hukum Allah SWT bagi umat manusia mulai dari hukum-hukum  seputar ibadah, akhlak, rumah tangga, ekonomi hingga pemerintahan dan militer.

Hukum-hukum yang dikandung dalam al-quran adalah hukum terbaik bagi manusia. Tidak bisa di tandingi oleh hukum buatan manusia.

firmanNya :
"Apakah hokum Jahiliah yang mereka kehendaki ? (Hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? " (TQS al-Maidah [5]:50)

Kewajiban berhukum dengan al-quran adalah perkara yang tidak bisa ditawar lagi. Banyak ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum dengan al-quran.

Allah SWT juga mengingatkan kaum muslim agar tidak jatuh menjadi kelompok manusia yang fasik, zalim bahkan kufur karena tidak berhukum pada hokum-hukum al-quran

"Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang kafir" (TQS al-Maidah [5]:44).

Allah SWT pun menegaskan bahwa sikap seorang muslim, saat telah diberi keputusan hukum oleh Allah dan Rasul-Nya, adalah tidak mencari pilihan yang lain. Ia wajib tetap mematuhi ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, tentu aneh jika dalam kehidupan bernegara hari ini justru semangat sekularisme dielu-elukan. Berulang muncul seruan dari politisi dan pejabat Negara agar tidak memasukkan agama kedalam ranah politik.

Misalnya, meminta dukungan ulama, memamerkan ibadah dan terakhir menentang kefasihan membaca al-quran. Tujuannya bukan untuk memuliakan Islam, tetapi sekedar demi menaikkan pamor kelompoknya dan untuk menjatuhkan kubu lawan. Demikianlah tabiat politik kaum sekuler. Menjauhkan agama dari kehidupan berpolitik dan bernegara.

Allah SWT jelas menurunkan al-quran tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia, yang hukum-hukumnya wajib diterapkan dalam kehidupan. Lalu mengapa justru kita tidak menjadikan al-quran sebagai aturan dalam hidup kita?

Karena itu, jangan Cuma tantangan untuk membaca al-quran. Yang layak untuk dijadikan tantangan bagi penguasa atau calon penguasa adalah: beranikah mereka menerapkan hukum-hukum al-quran?! Jika tidak, siap-siaplah al-quran mendakwa mereka di akhirat kelak.[MO/sr]


Posting Komentar