Oleh: Elis Sondari
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Setiap Muslim tentu di dorong untuk gemar membaca Al-Quran dan menghiasi lisan mereka dengan tilawah yang mulia ini. Nabi saw. juga bersabda :

"Bacalah Al-Quran karena sungguh pada Hari Kiamat ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya (HR Muslim). Namun demikian, tentu semua amalan tilawah Al-Quran dilakukan dengan niat ikhlas mengharap ridha Allah SWT.

Bukan untuk mendapatkan popularitas, dan menjatuhkan orang lain. Bahkan Nabi Saw. menceritakan buruknya nasib orang yang mengajarkan kitabullah karena mengharapkan pujian dari manusia. Al-Quran tentu bukan sekadar bacaan. Al-Quran adalah kitab hukum. Al-Quran berisi petunjuk kehidupan dan hukum-hukum yang menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia.

Jika membaca Al-Quran adalah sunnah, maka mengamalkan isinya atau berhukum dengan hukum-hukumnya adalah wajib. Sebagaimana diketahui, selain membahas tema akidah, ayat-ayat Al-Quran juga menjelaskan hukum-hukum Allah SWT bagi umat manusia mulai dari hukum-hukum seputar ibadah, akhlak, rumah tangga, ekonomi hingga pemerintahan dan militer.

Hukum-hukum yang dikandung dalam Al-Quran adalah hukum terbaik bagi manusia. Kewajiban berhukum dengan Al-Quran adalah perkara yang tak bisa ditawar lagi banyak ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum dengan Al-Quran Alloh SWT berfirman yg artisnya :

"Hendaklah kamu(Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Alloh turunkan kepadamu (TQS Al-Maidah [5] : 49).

Allah SWT pun menegaskan bahwa sikap seorang Muslim, saat telah diberi keputusan hukum oleh Allah dan Rasul-Nya adalah tidak mencari pilihan yang lain.

Karena itu, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, tentu aneh jika dalam kehidupan bernegara hari ini justru semangat sekulerisme begitu dielu-elukan. Berulang muncul seruan dari politisi dan pejabat negara agar tidak memasukan agama ke dalam ranah politik.

Seorang politisi mengatakan agar umat jangan baper membawa agama ke ranah politik. Sebab menurut dia, hari ini rakyat sedang memilih presiden, bukan memilih nabi, apalagi memilih tuhan. Namun ironinya, para politisi sekuler itu justru kerap mengeksploitasi agama untuk kepentingan politik mereka.

Misalnya, meminta dukungan ulama, memamerkan ibadah dan terakhir menantang kefasihan membacakan Al-Quran. Tujuannya bukan untuk memulaikan Islam, apalagi menerapkan hukum Islam, tetapi sekadar demi menaikkan pamor kelompoknya dan untuk menjatuhkan kubu lawan.

Allah SWT jelas menurunkan Al-Quran tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia, yang hukum-hukumnya wajib diterapkan dalam kehidupan.

Lalu mengapa justru kita tidak menjadikan Al-Quran sebagai aturan dalam kehidupan kita? Karena itu, jangan cuma tantangan untuk membaca Al-Quran. Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan bagi penguasa atau calon penguasa adalah :

beranikah mereka menerapkan hukum-hukum Al-Quran?! jika tidak, siap-siap Al-Quran mendakwa mereka di akhirat kelak.[MO/ge]

Posting Komentar