Oleh :Rusdah 
(Mahasisiwi FEB Universitas Lambung Mangkurat)
 
Mediaoposisi.com- Suasana politik semakin panas, kampanye kotor tak terhindarkan. Saling beradu visi misi, namun disatu sisi juga saling menjatuhkan. Terutama ketika mendekati waktu pemilu, berbagai cara dilakukan oleh kedua koalisi untuk menarik simpati masyarakat. Mulai dari mendatangi pasar, pesantren, keraton- keraton, mendekati para Ulama hingga mengucapkan hari raya umat nonislam dengan toleransi yang kebablasan.

Berbagai polemik muncul ditengah-tengah masyarakat mengenai kedua pasangan calon, bahkan dengan guyonan yang dianggap kurang pantas, seperti halnya genderuwo, pemimpin yang berpihak pada asing-aseng, dan istilah-istilah lainnya yang erat dengan kedua koalisi.

Persaingan yang sengit tak terbendung, hal ini menjadi perhatian Ikatan Dai Aceh untuk mengadakan tes baca dan tulis Al Qur'an bagi kedua pasangan calon presiden. Tes ini dilakukan karena melihat kedua Capres beragama Islam serta agar masyarakat dapat menilai kualitas dari kedua calon. Selain itu, mereka meyakini bahwa dengan diadakannya tes tersebut, masing-masing pendukung koalisi semakin yakin bahwa pilihan mereka adalah tepat.

Namun nampaknya rencana ini mendapat ketidaksetujuaan dari kedua kubu Capres. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berpendapat bahwa tes tersebut tidak perlu dilakukan sebab yang terpenting ialah menjalankan isi Al Qur’an di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai-nilai demokratis dan konstitusional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (okezonenews).

Sementara dari kubu Jokowi-Ma’ruf, Hariyanto Thohari sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) menanggapi hal tersebut dengan menyatakan bahwa syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah cukup untuk calon presiden dan wakil presiden di dalam UUD 1945 dan UU tentang Pemilu. Namun, Hariyanto tidak ingin membatasi syarat per individu seperti halnya usulan dari Ikatan Dai Aceh untuk melakukan tes baca dan tulis Al Qur’an (merdeka.com).

Di tahun politik seperti sekarang, hal-hal yang berbau agama menjadi incaran utama untuk mendulang suara. Adanya tes baca dan tulis Al Qur’an menjadi salah satu bukti bahwa Islam hanya dijadikan alat politik untuk memenangi persaingan. Pada dasarnya, Islam memang tak lepas dari politik. Namun, bukan politik kotor yang hanya memanfaatkan agama sebagai strategi mendapatkan kekuasaan.

Ketika mereka telah mendapatkan apa yang diinginkan, agama justru ditinggalkan bahkan dikriminalisasi. Penolakan terhadap perda syariah disuarakan dengan lantang dan percaya diri, seolah hukum manusialah yang paling baik dan mampu menyejahterakan masyarakat di negeri ini. Para Ulama dipersekusi, suara mahasiswa dibatasi, ceramah dan kultum di masjid yang berbau politik dikriminalisasi, muslim yang taat dicap sebagai teroris yang membahayakan negeri.

Bukankah telah banyak fakta yang ditemui akan rusaknya sistem ini akibat penerapan aturan manusia. Masyarakat begitu sulit mencukupi hidupnya, pengangguran tak pernah terselesaikan, anak-anak tak mendapatkan haknya untuk menyicipi indahnya menuntut ilmu, harga-harga selalu naik, sementara lapangan pekerjaan serta uang yang didapatkan masyarakat dari hasil bekerja tidak cukup untuk hanya sekedar mengisi perut, di sisi lain kemaksiatan terus merajalela.

Inilah kondisi negeri ini, ketika dunia berada dihatinya bukan hanya ditangannya, tak ada sedikit pun ruang untuk orang-orang menyuarakan kebenaran. Begitu banyak kerusakan yang nampak dari sistem ini, hingga bumi pun menunjukkan kemurkaannya. Menjadi masyarakat yang cerdas tentulah penting, tidak tergoda dengan visi misi dan kebaikan orang-orang yang hanya ingin mendulang suara. Sebab, apapun pilihan kita, kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Penerapan Al Qur’an tidak bisa hanya sebagian, dipilih ayat mana yang sesuai dengan kepentingan. Al Qur’an haruslah diterapkan secara kaffah di dalam kehidupan. Seperti yang telah Allah jelaskan dalam Al Qur’an yang berbunyi :

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Baqarah : 85)

 Al Qur’an bukan hanya mengatur masalah hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia lainnya. Allah telah menurunkan aturan yang sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan serta relevan dengan zaman. Lalu, mengapa kita masih mengambil hukum manusia yang penuh dengan nafsu dan mengedepankan kepentingannya?

Tidak ada satupun aturan dimuka bumi ini yang mampu mencetak sejarah selama 13 abad lamanya, dengan mengusai 2/3 dunia mampu mensejahterakan rakyatnya kecuali Islam. pemimpin yang adil hanya akan terwujud jika aturan Allah ditegakkan, masyarakat tentu merasakan kedamaian, serta kemakmuran bagi setiap kalangan.[MO/sr]

Posting Komentar