Oleh: Fitriani,S.Hi
(Forum Silaturahmi Muslimah Deli Serdang)

Mediaoposisi.com-Pemilihan Presidan dan wakil presiden  yang akan berlangsung april 2019 terus menjadi perbincangan hangat masyarakat di negeri ini.

Salah satu topik perbincangan menarik saat ini ialah munculnya ide perlunya tes khusus bagi bakal calon (balon) capres-wapres yaitu KPU diminta agar menguji kemampuan baca Alquran para capres-cawapres.

Ide tes baca Alquran bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden ini pertama kali dilontarkan oleh Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh Tgk Marsyuddin Ishak di Banda Aceh

“Untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca al-Quran kepada kedua pasangan calon,” kata Tgk Marsyuddin Ishak di penghujung bulan Desember 2018 lalu.

Bagi seorang muslim membaca Alqur`an adalah sesuatu yang mulia untuk dilakukan. Karena  membaca Alquran adalah Ibadah yang besar pahalanya. Setiap huruf akan diganjar dengan sepuluh kebaikan ketika dibaca dengan benar dan penuh keikhlasan.

Namun tidak cukup hanya dibaca, sejatinya Alquran wajib diterapkan didalam kehidupan. Karena Alquran adalah petunjuk bagi manusia yang akan membawa manusia pada jalan keselamatan.

Allah SWT juga memerintahkan untuk menerapkan isi Alquran, karena didalam Alquran terdapat seperangkat aturan yang mampu memberikan penyelesaian terhadap seluruh permasalahan yang dihadapi oleh manusia.

Maka apa jadinya jika membaca Alquran hanya untuk sekedar gaya-gayaan dan pencitraan. Padahal Allah SWT memerintahkan untuk beramal termasuk tilawah al-Quran dilakukan dengan niat ikhlas mengharap ridha Allah SWT.

Bahkan Nabi saw. menceritakan buruknya nasib orang yang mengajarkan Kitabullah karena mengharapkan pujian dari manusia.

وَ رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَ عَلَّمَهُ وَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ.

 قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ: ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

Dihadapkanlah seseorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca al-Quran. Lalu diperlihatkan kepada dia kenikmatannya (saat di dunia). Ia pun mengakuinya. Lalu ditanyakan kepada dia,

“Apa amalmu?” Ia menjawab, “Aku mempelajari dan mengajarkan ilmu dan aku pun membaca al-Quran karena-Mu.”

Allah berkata, “Engkau berdusta! Akan tetapi, engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai orang alim dan engkau membaca al-Quran supaya engkau disebut sebagai qari’!” Kemudian ia diperintahkan untuk diseret. Ia lalu diseret di atas wajahnya dan disungkurkan ke neraka (HR Muslim).

Rasulullah saw. juga mengkhawatirkan datangnya satu kaum yang hanya gemar membagus-baguskan bacaan al-Quran, juga datangnya para pemimpin yang bodoh (imârah sufahâ’) dan para aparat yang zalim. Sabda beliau:

ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺳِﺘًّﺎ: ﺇِﻣَﺎﺭَﺓَ ﺍﻟﺴُّﻔَﻬَﺎﺀِ ﻭَ ﺳَﻔْﻚَ ﺍﻟﺪَّﻡِ ﻭَ ﺑَﻴْﻊَ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢِ ﻭَ ﻗَﻄِﻴْﻌَﺔَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻢِ ﻭَ ﻧَﺸْﻮًﺍ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭْﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﺰَﺍﻣِﻴْﺮَ ﻭَ ﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﺸُّﺮَﻁِ

Aku mengkhawatirkan atas kalian enam perkara: kepemimpinan orang-orang bodoh, pertumpahan darah, jual-beli hukum, pemutusan silaturahmi, anak-anak muda yang menjadikan al-Quran sebagai seruling-seruling (musik) dan banyaknya algojo (yang zalim) (Shahîh al-Jâmi’, hlm. 216).

Untuk itu jangan cuma tantangan untuk membaca al-Quran. Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan bagi penguasa atau calon penguasa adalah:

beranikah mereka menerapkan hukum-hukum al-Quran? Karena selain dibaca Alquran juga wajib diterapkan isinya dan kewajiban ini hanya dilakukan secara sempurna oleh pemimpin negara.[Mo/ge]

Posting Komentar