Dwi Nur Rifatin Oetami, SE
(Tenaga Kependidikan di PTN Jember, Penggiat MTR Chapter Jember Raya)

Mediaoposisi.com-  Lagi-lagi bikin gaduh jagad socmed, Afi Nihayah mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang kasus penggrebekan artis VA yang mengungkap jaringan prostitusi online artis
dengan tarif fantastis 80 juta, bahkan hingga 100 juta rupiah (www.brilio.net).

Pasalnya dia dianggap merendahkan Istri karena membandingkan tarif VA dengan nafkah bagi seorang istri, sehingga menuai hujatan dari netizen dan tanggapan dari beberapa tokoh, salah satunya
Kang Abay. Tak hanya itu, menurutnya keberadaan prostitusi online artis adalah hal yang wajar dalam konteks teori ekonomi, di mana adanya permintaan dan penawaran memungkinkan berkembangnya industri prostitusi.

Dan tarik-menarik permintaan-penawaran memungkinkan dicapainya tarif prostitusi yang tinggi yang mungkin sulit dipahami netizen. Bahkan dia mengungkapkan pujiannya terhadap kemampuan VA meningkatkan value dirinya sehingga mampu mencapai tarif di atas harga pasar.
Apa yang salah dengan komentarnya ini ?

Bukankah dalam konteks ekonomi memang benar bahwa adanya permintaan terhadap suatu barang atau jasa akan memunculkan penawaran ? Dan tarik-menarik permintaan dan penawaran dapat membentuk harga tertentu dari suatu barang dan jasa ? Maka untuk bisa mendapatkan harga di atas harga pasar, maka suatu produk atau jasa harus meningkatkan value (nilai) ?
Ingin tau ? Begini penjelasannya, agar tidak terjadi miss persepsi, simak hingga selesai ya..

Ya! Memang benar! Dalam konteks ekonomi Kapitalisme demikian hukum yang berlaku. Kapitalisme memandang segala sesuatu (barang dan jasa) yang memiliki value dan ada permintaan pasar terhadapnya, maka layak diperjualbelikan dan diproduksi. Kapitalisme berdasarkan pada asas kemanfaatan, maka value barang atau jasa senantiasa diukur dengan nilai kemanfaatannya (utility).

Kemanfaatan (utility) yang dimaksud adalah kemampuan suatu barang atau jasa yang bisa menjadi alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia. Nilai utility value ini pada akhirnya diukur dengan nilai finansial (harga) yang dihasilkan dari tarik-menarik antara permintaan dan penawaran, bukan benar-benar pada kemampuannya memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Semakin tinggi harga maka mencerminkan semakin tinggi value suatu barang atau jasa dalam sudut pandang Kapitalisme. Kapitalisme juga memandang bahwa value bersifat subyektif, sehingga nisbi, tidak mutlak. Artinya, ketika ada seseorang yang menginginkan suatu barang atau jasa, maka barang atau jasa itu tetap dianggap memiliki nilai ekonomis, layak diperjualbelikan/diproduksi, meski
masyarakat memandang barang atau jasa itu membahayakan, merusak, dll.

Dalam Kapitalisme segala sesuatu yang mengandung permintaan, maka dianggap memiliki value (nilai ekonomis), meski hanya satu orang yang menginginkan sementara masyarakat menganggap berbahaya, meski merusak moral dan bertentangan dengan agama.

Lebih dari itu, Kapitalisme dibangun dari aqidah sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Maka Kapitalisme hanya memandang kebutuhan sebatas aspek materialitas belaka, mengabaikan aspek norma-norma (moralitas) dan aspek spiritualitas. Sehingga segala barang dan jasa selama mampu menjadi alat pemuas dan ada permintaan terhadapnya, maka layak beredar di pasar meski itu bertentangan dengan agama.

Tak heran kita temui dalam Kapitalisme, berzina menjadi suatu profesi dan diberinl sebutan Pekerja Seks Komersial. Dengan kata lain, Kapitalisme menjadi pangkal maraknya industri dan peredaran barang dan jasa haram, seperti khamr, babi, prostitusi, perjudian, pembunuh bayaran, dll.

Artinya, kerusakan sosial hari ini adalah buah dari Ideologi Sekulerisme-Kapitalisme. “Kerusakan sosial hari ini adalah buah dari Kapitalisme” Ekonomi Islam: Menyejahterakan dan Memuliakan
Ekonomi Islam memiliki pandangan yang kontras dengan Kapitalisme. Ekonomi Islam memandang bahwa value (nilai) itu bersifat mutlak, bukan subyektif (individual) dan nisbi (relatif).

Maka, ekonomi Islam menilai value barang dan jasa sesuai realitas keberadaannya di tengah-tengah interaksi manusia dan sesuai hakikatnya. Value suatu komoditi ditinjau dari kegunaannya (secara hakiki) bagi masyarakat dan mempertimbangkan aspek kelangkaannya. Semakin ia berguna dan langka, maka semakin tinggi nilainya.

Di samping itu, Ekonomi Islam dibangun dari aqidah Islam, sehingga tidak memisahkan aspek sepiritualitas dan moralitas sebagai bagian dari kebutuhan manusia. Bahkan aspek spiritualitas adalah ruh dalam menentukan interaksi masyarakat, termasuk muamalah (jual-beli) dan ijaroh (ketenagakerjaan).

Hanya barang dan jasa yang secara hakiki berguna dan halal saja yang boleh beredar di pasaran dan diproduksi. Dan dalam transaksinya wajib sesuai syariah pula. Sehingga, Islam tidak hanya memperhatikan aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat, namun mengatur perilaku ekonomi masyarakat, sehingga terbentuk masyarakat ekonomi yang beradab dan diridhoi Allah SWT. Karenanya maka, problem prostitusi hanya bisa diselesaikan secara tuntas dengan menerapkan syariah Islam. Wallahualam bish showwab [MO/ra]

Posting Komentar