Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Dulu, Yusril , salah satu tokoh lurus, melawan ketidakadilan dalam hukum. Suaranya sangat diperhitungkan dan didengar karena kepakarannya di bidang hukum tata negara.

Dia sangat lantang menyuarakan pada penguasa yang saat itu berbuat dzalim pada salah satu ormas Islam yang memperjuangkan diterapkannya Islam secara kaffah.

Bahkan dia berani menjadi pengacaranya walaupun harus melawan penguasa yang otoriter. Sungguh berani dan beresiko saat harus melawan kedzaliman penguasa. Rasa simpati tumbuh dalam hati pada sosok yusril yang cerdas dan lurus dalam membela siapa saja yang tertidas.

Namun, suaranya saat ini jarang terdengar sejak menyatakan secara resmi sebagai pengacara capress dan cawapress no urut 01.

Apakah ini yang namanya profesionalisme sebagai seorang pengacara dengan membela siapa saja yang membayarnya tanpa perduli apakah yang dibela salah atau benar. Memang sangat sulit untuk mempertahankan idealisme saat berada pada tempat yang kotor.

Ibarat kain putih tidak mungkin akan tetap putih bersih saat dicelupkan di air comberan yang kotor. Agar kain itu bisa bersih harus dikeluarkan dari air kotor itu dan dibersihkan. Namun, jika dia bertahan pada keputusannya membela yang salah, dia tidak mungkin akan menjadi bersih. 

Menjaga Idealisme dalam dunia kapitalisme bukan hal mudah. Apalagi jika seseorang sudah mulai mendapat nikmatnya hidup di dunia kapitalis, dia akan lupa menjaga idealismenya untuk membela yang benar.

Dia akan takut kehilangan sesuatu yang menyenangkan. Dia tidak lagi mewarnai dan menjadi agen perubahan, tetapi penjilat agar memperoleh keuntungan yang besar. Berfikir pragmatis dan mulai meninggalkan idealisme agar memperoleh keuntungan yang lebih besar adalah cara berfikir para kapitalis.

Mencari dalil pembenar agar hati tentram untuk sesuatu yang salah itu yang dilakukan oleh para ulama' yang salah atau kaum intekektual yang sudah terjerat oleh ide kapitalisme. Meskipun harus melacur menjadi kutu loncat politik, hanya untuk mendapatkan keuntungan besar didepan mata.

Namun, semakin dia bertahan dengan pemikiran kapitalismenya, semakin seseorang masuk lobang dosa yang sulit baginya untuk keluar karena dia sudah menikmati dosa-dosa yang akan menyeretnya pada kesesatan nyata yang membuatnya lupa kembali ke jalan yang benar.

Orang seperti ini tidak lagi bisa membedakan yang salah dan benar karena akalnya sudah dikuasai oleh nafsu syetan yang selalu mencari pembenar untuk segala perbuatannya yang salah.

Semoga pak Yusril bisa segera keluar dari jeratan penguasa dan kembali menyuarakan kebenaran. Apalagi yang mau dicari di dunia ini. Ketenaran, kesuksesan sudah kau dapat.

Lalu kurang apalagi sehingga bertahan bersama mereka para penjilat yang haus kekuasaan dan materi duniawi yang menipu. kenapa tidak jadi diri sendiri yang selalu berpegang pada idealisme seperti yang dulu engkau lakukan.[MO/ad]

Posting Komentar