Oleh: Bravdhi
(Jurnalis Media Oposisi)

Mediaoposisi.com-Setelah kalah telak dari debat Capres edisi pertama, Jokowi langsung banting stir untuk mengangkat ekstabitasnya yang telah porak-poranda setelah pembubaran ormas.

Berbagaicarapun dilakukannya untuk menghilangkan stikma anti islam yang melekatnya pada dirinya. Bagaimanapun, ia tau bahwa aset terbesar pemilu 2019 adalah umat muslim

Di awali dengan pemilihan ulama sebagai pendamping di pemilu 2019 rupanya hanya berkedok alat politik untuk mengangkat ekstabitasinya yang ia rusak sendiri

Citra yang dibangun mulai ansur membaik dengan menarik Ma’ruf Amin sebagai calon pendampingnya. Ia pun berhasil menarik perhatian NU sebagai aset suara ormas yang paling banyak di Indonesia

Ternyata permainan cantik Jokowi tidak hanya sampai disitu. Baru-baru ini kabar yang mengemparkan publik adalah pembabasan Abu Bakar Ba'asyir dimasa kampanye capres.

Siapa Yang Diuntungkan?

Lihat saja opini yang berkembang diruang-ruang media hari ini. Menurut Kuasa hukum pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra menjelaskan bahwa “pembebasan ulama yang dilakukan Presiden Joko Widodo merupakan bukti, yang menunjukan bahwa Kepala Negara itu tak melakukan kriminalisasi terhadap ulama”

Padahal Pak Yusril adalah kuasa hukum ormas yang dibubarkan. Bagaimana mungkin orang telah matian-matian berteriak bahwa mengeluarkan perpu ormas adalah bentuk kezhaliman nyata yang bertentangan dengan konsitusi kebebasan dalam demokrasi tiba-tiba menjadi kuasa hukum yang dilawan sebelumnya

Sama halnya dengan pembebasan Abu Bakar Ba'asyir tidak lain dan tidak bukan untuk memperbaiki citranya di mata masyarakat. Seolah-olah ia peduli dengan ulama, berpihak pada Islam dan tudingan pada dirinya itu tidak benar

Maka pihak yang paling diutungkan pada momen ini ialah pasangan no 1 karena selain posisinya memegang bangku kekuasaan mereka juga sedang membangun kepercayaan kepada kaum muslim agar dapat dipilih kembali pada Pilpres 2019 mendatang

Inilah realita politik: hari ini teman, besok adalah lawan. Siapapun yang masuk didalamnya maka ia akan ikut dengan arus sebagaimana dengan kotornya realita politik itu sendiri.[MO/ad]



Posting Komentar