Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Pilpres tahun 2019 ini adalah Pilpres dengan segudang kontroversi, diantaranya :

1.  untuk yang pertama kalinya, ada hak ekseklusif bagi ODGJ (baca: gila) untuk ikut nyoblos. Kalau dahulu semboyannya suara rakyat suara Tuhan, sekarang suara 'gila' suara 'tuhan'. Luar biasa, Pilpres tahun 2019 telah memberikan predikat kepada 'orang gila' sama dengan Tuhan.

Bahkan, jumlah pemilih orang gila bukan hanya seratus dua ratus biji. Datanya hingga 14 juta pemilih. Saya tidak tahu data ini direkap darimana ? Logis Ga sich ?

Jumlah RSJ se Indonesia dari 34 provinsi di Indonesia, hanya terdapat 26 provinsi yang memiliki RSJ yakni satu Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan 33 RSJ Pemerintah dan 14 RSJ Swasta (15/10/2016). Jumlah orang gila yang ngalong dijalanan tidak diketahui secara pasti. Lantas, darimana sumber angka 14 juta pemilih gila ? Benar-benar gila Republik ini !

2. ada 31 juta DPT tambahan. Ini tambahan dari mana ? Datanya tidak dapat diakses, partai telah meminta tetapi KPU enggan membuka. Ini ada apa ?

DPT tambahan 31 juta itu ditambah dengan data orgil, bisa menyebabkan pemenang dengan 'curang' bisa melewati batas ambang 'psikologi kasus' jika persoalannya dibawa ke MK. Artinya, biarpun menang curang, biarpun digugat ke MK, tetap saja menang. Judulnya 'yang penting menang'.

3. Pilpres 2019 ini dibarengi beberapa kehebohan yang tidak terjadi sebelumnya, termasuk tetapi tidak terbatas pada : ditemukannya E KTP tercecer, Kotak Kardus, 7 Kontainer 'Hoax', TKA China, saling lapor polisi, dll, yang peristiwa-peristiwa ini digoreng oleh kedua kubu baik secara politik maupun hukum.

4. terjadi keterbelahan publik yang terbuka serta gesekan yang panas dan meluas. Tidak saja ditingkat akar rumput, bahkan hingga elit partai. Seolah, 2019 itu perjuangan antara 'hidup dan mati'.

Semua kubu mati-matian untuk menang, dan tak ada yang mau dan siap kalah. Kedua kubu bertarung begitu hebat, dan diprediksi Pilpres berujung kasus di MK bahkan lebih jauh Pilpres bisa berujung chaos !

Siapapun yang menang, fakta politik yang ada saat ini, dapat menjadi argumen untuk mendakwa kemenangan. Siapapun yang kalah, sejak saat ini telah menginventarisasi kesalahan lawan. Pada saat yang dibutuhkan, semua saling mengeluarkan amunisi untuk mempersoalkan hasil Pilpres.

Jadi boleh jadi pemenangnya bukan yang menang suara, tapi kuat-kuantan. Apalagi kemenangan kubu penantang, akan berimbas 'bedol deso' besar-besaran pada semua lini dan posisi jabatan strategis, baik jabatan politik maupun adminstratif.

Kondisinya, adu kuat ini bisa berujung chaos jika nalar nantinya kalah dengan nafsu berkuasa. Padahal, sejumlah problem akut yang menimpa negeri ini nyaris tak tersentuh secara subtantif oleh para petualang politik yang sibuk pilih-pilihan. Lantas, kita mau apa ?

Sementara Silahkan Anda terus membaca, dan saya akan menulis berkala untuk membaca situasi yang selanjutnya. Yang jelas negeri ini sedang dalam keadaan 'tegang', jika hasil Pilpres tak sesuai harapan saya khawatir ketegangan itu mencari saluran pelampiasan. [MO/ge]

Posting Komentar