Trisnawaty A 
(Revowriter, Makassar)

Mediaoposisi.com-Tak terasa kini kita telah memasuki tahun 2019, tahun politik.  Perhelatan besar pesta demokrasi  akan diadakan, dua kubu akan bertarung.

Kubu petahana dari pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin,  kubu kedua  Prabowo  Subianto dan Sandiaga Uno. Sesuai jadwal, pesta demokrasi (pemilu) akan berlangsung tanggal 17 April 2019, pemungutan dan penghitungan suara (Pileg dan Pilpres dijadwalkan di hari yang sama), rekapitulasi dan penetapan hasil pemilu tingkat nasiona berlangsung  tanggal 25 April 2019 sampai 22 Mei 2019.

Sumpah dan janji pelantikan presiden dan wakil presiden yang terpilih diadakan 20 Oktober 2019. Masa kampanye sendiri telah berlangsung dari tanggal 23 September 2018-13 April 2019 kampanye calon anggota DPR/DPD/DPRD dan capres/cawapres .

Ada yang menarik dari tantangan kepada mereka yaitu usulan tes baca alquran untuk capres, sontak ini menjadi pembicaraan hangat di publik khususnya netizen.

Dilansir dari detik.com,  wacana ini mengemuka pertama kali ketika Da'i Aceh mengundang para capres untuk mengikuti tes baca Al-Quran.

Saatnya Ganti sistem
Menanggapi wacana tes bacaan alquran kepada capres-cawapres, K.H Rokhmat S, Labieb berkomentar :

mengapa tidak ditantang sekalian siapa yang mau dan berani menerapkan alquran secara sempurna?. Masih menurut beliau sebagai pedoman hidup, alquran tidak hanya dibaca, namun juga wajib diterapkan dalam kehidupan dan kewajiban itu hanya bisa dijalankan secara sempurna oleh seorang pemimpin negara.

mestinya, komitmen inilah yang lebih wajib ditanyakan kepada mereka. Alquran yang mulia adalah firman Allah swt, alquran diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw, melalui wahyu yang dibawa oleh jibril, baik lafazh maupun maknanya.

Sejatinya baik pemimpin negeri ini maupun masyarakat, lebih khususnya yang mengaku muslim menjadikan alquran sebagai pedoman hidup tidak hanya sekedar dibaca, dihafal atau bahkan hanya dijadikan sebagai alat sumpah pada saat pelantikan para pejabat, tapi lebih dari itu adalah dengan mengamalkan baik dalam lingkup individu, masyarakat maupun negara.

Alquran sebagai salah satu dari empat sumber hukum yang lainnya yaitu Assunnah, ijma dan Qiyas. Alquran sebagai pedoman hidup sehingga kita harus beriman kepada semua aturan yang ada dalam alquran.

Tidak boleh memilih sebagian dan menolak sebagian yang lain. Karena semua adalah satu kesatuan yang harus diimani secara total (kaffah). Dan untuk mewujudkan itu hanya dengan adanya seorang pemimpin yang siap menerapkan isi alquran dalam sebuah institusi negara yaitu khilafah. Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu. (TQS Al Baqarah : 208).

Kita tunggu apakah ada pasangan capres-cawapres yang siap menerapkan seluruh  isi alquran? Jawabannya tidak, karena demokrasi telah menyandera kita termasuk yang akan mmemipin negeri ini, sehingga saatnya kita  mengganti sistem demokrasi kapitalisme dengan sistem yang bersumber dari alquran. Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ

Artinya :  Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya) (TQS: Al-Maidah : 50).[MO/ge]

Posting Komentar