Oleh: Afni Anisa Azizah
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung) 

Mediaoposisi.com-Kekecewaan besar ditunjukkan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman atas perjanjian gencatan senjata Israel-Gaza Palestina 13 November 2018 lalu. Dalam pengumuman pengunduran dirinya, Lieberman terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap genjatan senjata itu dengan mengatakan bahwa “genjatan senjata dengan pejuang Gaza itu sama saja meyerah pada teror”

Sungguh mengesankan apa yang dikatakan oleh Lieberman bahwa genjatan senjata berarti menyerah pada teror, siapakah teror sebenarnya yang Ia bicarakan, dan apa sebenarnya makna teror baginya ? manusia manapaun yang masih memiliki akal sehat tentunya akan menemukan fakta yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh Lieberman.

Karena Israel sendirilah yang telah menciptakan teror ditengah-tengah masyarakatnya. Tidak berhenti pada masyarakatnya, mereka pun secara terang-terangan menciptakan teror berkepanjangan bagi rakyat Palestina.

Kesepakatan genjatan senjata antara  militer zionis Israel dan para pejuang Gaza yang baru berusia 1 hari itupun kandas. Militer Israel melanggar kesepakatan tersebut dengan melakukan serangan yang mengakibatkan gugurnya seorang warga sipil Gaza. Nawaf Alattar, nelayan Gaza berusia 23 tahun setelah terkena tembakan di bagian perut oleh patroli militer laut Israel di perairan pantai Baitlahiya, Jalur gaza Utara, pada hari Rabu 14 November 2018.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit utama Gaza, Assyifa untuk dirawat. Namun parahnya pendarahan akibat luka tembakan menyebabkan nyawanya tak bisa tertolong.

Benarlah apa yang difirmankan Allah dalam QS al-Baqarah ayat 100 yang artinya : “Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya ? sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman". (TQS al-Baqarah :100)

Mediasi bukanlah solusi, rakyat Palestina akan tetap menjadi target intimidasi. Janji hanya untuk diingkari itulah watak Yahudi: Watak Hipokrit. Para pemimpin dunia telah dengan nyata menunjukan  keberpihakannya kepada Yahudi, sedang rakyat palestina yang tanah kelahirannya terus digerogoti hanya mampu melawan dengan sisa-sisa peradaban yang mereka miliki. Jumlah korban nyawa rakyat palestina yang terus bertambah seolah bukanlah sesuatu yang harus dianggap salah, dunia sudah mengangapnya hal yang lumrah.

 Sangat berbeda dengan Rosulullah, sosok yang sangat tegas dalam menghadapi dan menyikapi orang-orang Yahudi, seperti halnya ketika Yahudi melanggar isi perjanjian  piagam Madinah, sejak saat itu Rosul selalu berhati-hati terhadap tindak-tanduk orang-orang Yahudi.

Kematian pemimpin Yahudi  Ka'ab bin  al-Asyraf di tangan Muhammad bin Maslamah atas arahan dari Rosulullah SAW menunjukan ketegasan Rosulullah terhadap orang-orang yang sudah tidak lagi mengindahkan nasihat dan peringatan yang justru mengacau keamanan, menimbulkan keresahan dan tidak menghormati perjanjian.

Umat Islam hanya akan terjaga kehormatan, keamanan, kesejahteraan serta kedamaiannya ketika ada sosok pemimpin yang memipin umat Islam dengan ketaqwaan dan keadilam, dan itu semua hanya terwujud ketika seorang pemimpin menerapkan syariat Islam secara kaffah.

sehingga tidak ada pilihan lain selain memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah Islamiyyah untuk menyelamatkan bumi Palestina dari cengkraman Israel Yahudi, karena hanya di bawah naungan Kholifah yang menerapkan syariat secara kaffah lah bumi Palestina bisa dibebaskan dengan kekuatan umat dan seruan jihad yang diikat landasan aqidah Islam, Palestina amanah kita semua.[MO/ge]




Posting Komentar