Oleh: Enung Sopiah

Mediaoposisi.com- Belum selesai permasalahan penjajahan dan berbagai macam kedzoliman, pembantaian, genosida yang dihadapi oleh kaum muslim dinegri-negri islam, seperti dipalestina, rohingya, yaman, syuriah dll.

Dunia islam kembali digegerkan dengan kebiadaban-kebiadaban yang dilakukan oleh pemerintahan cina kepada saudara-saudara muslim kita di uighur turkistan yang diklaim oleh cina masih wilayah cina.

Cina menempatkan jutaan muslim uighur di kamp-kamp konsentrasi,  agar mereka meninggalkan islam, pemerintahan cina melakukannya  secara paksa dengan penyiksaan secara biadab. Sungguh sangat ironi dimana masyarakat muslim menjerit karena mendapat penyiksaan yang sangat biadab, tetapi dunia diam, para aktivis HAM yang biasa berkoar-koar tentang hak asasi manusia pun, kini tak terdengar suaranya.

Kekejaman demi kekejaman yang cina lakukan terhadap muslim uighur tidak membukakan mata hati para pemimpin negri-negri muslim, mereka mengklaim bahwa itu urusan dalam negri pemerintahan cina. Begitupun dengan pemerintahan indonesia, yang nota bene adalah mayoritas penduduk muslim terbesar didunia, juga ikut diam, apakah karena kerjasama dibidang ekonomi dengan cina yang sedang hangat-hangatnya yang juga menghasilkan hutang yang sebesar-besarnya dari cina? Sungguh sangat menyedihkan dan memuakkan.

Sebagai seorang pemimpin negara yang beragama islam, tentunya harus sudah faham, bahwa kaum muslim itu bersaudara, bagaikan satu tubuh, hingga ketika ada saudara muslim kita yang teraniaya, tentunya kita akan merasakan penderitaannya dan tergerak untuk segera menolongnya.

Inilah bukti kebobrokan sistem, ditambah dengan tersekat oleh nasionalisme, seolah olah itu hanya urusan mereka, sehingga kita sebagai sesama muslim tidak boleh ikut campur. Padahal di dalam UUD'45 tertulis bahwa, "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan",  itulah kata-kata yang tercantum didalam pembukaan UUD'45, tetapi semua itu tidak berlaku bagi negri-negri muslim yang sekarang masih dijajah oleh kafir-kafir penjajah.

Bahkan PBB pun yang mengklaim sebagai organisasi internasional untuk mendorong kerjasama internasional, agar tidak terjadi konflik dan penjajahan, tidak berpungsi. Inilah bukti bahwa umat islam butuh seorang pemimpin yang bisa melindungi seluruh kaum muslim dari kekejaman kafir penjajah. Rasulullah SAW bersabda, " Nasionalisme yang berbasiska 'ashabiyah, sejatinya adalah ide jahat yang bisa menghancurkan umat". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Itulah pentingnya penegakan syariah didalam bingkai khilafah 'alaa minhajin nubuwwah, semua permasalahan umat akan terselesaikan, umat islam sangat membutuhkan khilafah, karena untuk menolong saudara-saudara se-aqidah tentunya membutuhkan kekuatan dari sebuah negara yang berdaulat. Khilafah adalah junnah atau perisai bagi umat islam, khilafah akan mempersatukan seluruh umat islam didunia tanpa tersekat nasionalisme.[MO/sr]



Posting Komentar