Oleh: Bunbun Lely
(Praktisi Pendidikan)

Mediaoposisi.com-Bencana tsunami terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya di Negeri ini. Tepatnya sabtu (22/12/2018) gelombang tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung. Penyebab tsunami di Selat Sunda itu masih diselidiki oleh BMKG untuk mengetahui secara pasti.

Donasi Save Muslim Uighur

kemungkinan disebabkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaharui jumlah korban meninggal dunia akibat tsunami di pesisir Banten. Ada 62 korban meninggal dunia.

Data dampak tsunami sampai dengan 23 Desember 2018 sampai dengan pukul 10.00 WIB, data sementara jumlah korban meninggal, 62 orang meninggal dunia, luka-luka 584 orang, hilang 20 orang, 430 unit rumah rusak berat, 9 unit hotel rusak berat, 10 kapal rusak berat. Dan data ini akan terus bergerak naik.(m.detik.com,23/12/2018).

Sebelum terjadi tsunami di Selat Sunda ini, tsunami juga pernah menerjang beberapa daerah lain di Indonesia, seperti tsunami Kepulauan Mentawai, Aceh, Bengkulu, dan yang belum lama terjadi di Donggala-Palu pada bulan September 2018.

Tsunami  berasal dari bahasa Jepang yaitu tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba.(Wikipedia)

Dilihat dari sudut pandang Sains Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi.

Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.

Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya.

Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami.

Menurut  Dr. Walter C. Dudley, profesor oseanografi dan salah satu pendiri Museum Tsunami Pasifik, tak menjadi soal seberapa besar kekuatan gempa bumi, pergerakan lantai dasar samudra merupakan syarat terjadinya tsunami.

Dengan kata lain, semakin besar perpindahan lempeng kerak bumi di lantai dasar samudra, semakin besar jumlah air yang digerakkannya, dan hal ini akan menambah kedahsyatan tsunami.

Dalam pandangan islam tsunami sendiri ada dalam Al-Qur’an surah Al-Infitar ayat 2 “Dan apabila lautan dijadikan meluap”  dan surah At-Takwir ayat 6 “Dan apabila lautan dipanaskan”. Dari kedua surah tersebut jelas laut akan meluap karena adanya proses pemanasan di dasar bumi.

Fenomena terjadinya patahan, dan terbentuknya gunung-gunung akibat pergerakan kerak bumi ini dapat ditemui dalam Al Quran pada Surah Ar Ra’du ayat 41 :

“dan apakah mereka tidak melihat bahawa sesungguhnya Kami mendatangkan daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya), tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisabNya”

Ada apa dengan bumi kita? Apakah Allah sedang marah kerena dosa-dosa kita? Ataukah memang ini akibat kerusakan alam? Hujan yang tadinya sebagai rahmat menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan kehidupan.

Gunung sebagai pasak bumi tiba-tiba memuntahkan debu,lahar panas dan gas beracun. Angin sebagai penyerbukan terhadap tumbuhan tiba-tiba begitu ganas memporak porandakan segala sesuatu yang dilewatinya. Laut sebagai mobilitas manusia tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya.

Azab, musibah,dan bala dalam Al-Qur’an memang ada. Azab yang merupakan siksaan yang ditujukan pada umat terdahulu yang melampaui batas, seperti umat Nabi Nuh, umat Nabi Syu’aib, umat Nabi Shaleh dan umat Nabi Luth.

Peristiwa tsunami memang  pernah ada sejak dahulu, peristiwa ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai kemungkaran yang dilakukan manusia itu sendiri sehingga mendapat azab/hukuman, atau bisa jadi karena sebuah musibah/bala yang sengaja ditakdirkan Allah SWT.

Banyaknya bencana di berbagai tempat dibelahan bumi ini bisa kita jadikan sebagai muhasabah diri agar selalu mengingat dan melaksanakan segala perintah serta larangan Allah SWT.

Pada akhirnya teriring doa  untuk para korban musibah Tsunami Selat Sunda, Innalillahi wa inna ilayhi raji’un. Sejatinya kita semua yang hidup sedang mengantri untuk menjemput kematian kita masing-masing,semuanya sudah tercatat sejak ruh ditiupkan di rahim ibu kita, hanya saja kita tidak tahu kapan antrian itu akan tiba.

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya,ia pasti menemui kamu,kemudian kamu akan dikembalikan kepada(Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata,lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.Al-Jumu’ah : 8).[MO/ge]

Posting Komentar