ilustrasi kenaikan harga di akhir tahun
Oleh : Tri S, S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Tren kenaikan harga pangan di akhir tahun dinilai berpotensi terjadi di tahun 2018. Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut ada beberapa komponen yang menyebabkan kenaikan harga pangan di akhir tahun (m.kontan.co.id/15/11/2018).

Komponen pertama adalah ancaman inflasi yang kemungkinan terjadi di akhir tahun. 

Menurut Eko Listianto selaku Wakil Direktur Indef menyebut, inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) dan inflasi bergejolak kerap menjadi pemicu lonjakan inflasi di Indonesia. Ketika rata-rata nilai tukar rupiah melonjak pada bulan Juli 2018 lalu Rp 14.414, inflasi turut melonjak hingga 0,41% yang merupakan angka tertinggi sepajang Januari hingga Oktober 2018. 

Tahun 2018 beberapa komoditas yang dinilai menjadi pemicu inflasi adalah berasal dari volatile
food. Misalkan beras, daging ayam ras, telur ayam ras dan bumbu dapur yang diprediksi akan
mendorong inflasi di akhir tahun.

Memasuki November 2018, tren yang diadopsi dari tahun 2017 menunjukkan adanya kenalam negikan harga pangan hingga Januari awal tahun 2019. Oleh sebab itu, pemerintah diimbau melakukan antisipasi.

Pemerintah diminta mewaspadai lonjakan harga beras di akhir tahun. Untuk itu, Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso menyarankan agar Bulog lebih agresif dalam menggulirkan stock beras supaya harga ditingat masyarakat tidak bergejolak (m.liputan6.com/22/11/2018).

Sutarto mengatakan, apabila pemerintah tidak menggelontarkan stok beras, sedangkan permintaan di tingkat masyarakat melonjak maka ini akan membahayakan. Sebab, sering kali ini dimanfaatkan oleh oknum dengan menaikkan harga gabah ditingkat petani. Sebelumnya, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listianto mengatakan penyebab utama inflasi pangan di akhir tahun umumnya terjadi pada momentum Natal dan Tahun Baru. 

Sedangkan yang diperlukan masyarakat adalah kepastian akan stabilnya harga-harga komoditas.
Eko menegaskan, pemerintah maupun para pengambil kebijakan tidak dapat terus berlindung dengan alasan kedua momen tersebut. Pemerintah, kata dia, harus menekan serta menstabilisasikan harga pangan guna menjaga inflasi agar tetap terkendali.

Selanjutnya ada masalah impor yang sejauh ini terus dilakukan pemerintah. Hal ini dinilai tidak berkesudahan untuk menutupi kebutuhan dalam negeri. Padahal, komponen pangan tersebut mampu di berdayakan di tingkat petani dalam negeri. 

Peneliti di Institute for development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus juga membenarkan kecenderungan impor Indonesia ini. Menurutnya hal ini karena kurangnya perhatian pemerintah.

Saat ini ekspor Indonesia dinilai lebih rendah dibandingkan dengan impor, sejak 2007 neraca perdagangan hasil pertanian selalu mengalami defisit, bahkan permintaan valas turut mengguncang stabilitas rupiah. Selain itu, masalah data pangan seperti beras yang tidak akurat di pemerintahan menjadi polemic tersendiri yang menjadi masalah pemerintah menentukan kebijakan ke depannya. Oleh sebab itu, Eko berharap pemerintah bisa bersinergi untuk memastikan data yang lebih valid.

Kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok, seharusnya negara menjamin kestabilan harga untuk rakyat. Kenaikan harga pangan dengan alasan akhir tahun secara berulang, seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Hal ini menjadi bukti bahwa, rezim gagal menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan dengan harga terjangkau. [MOvp]

Posting Komentar