Oleh: Nani Hazkia
(Alumni UIN Antasari Banjarmasin, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan)

Mediaoposisi.com- Dimana di Jakarta, tepatnya di monas pada tanggal 2 Desember sebagian rakyat negeri ini kemungkinan besar merasa bahagia, semangat begitu membara, ataupun terharu oleh persatuan umat Islam. Sebab, mereka menghadiri acara reuni akbar 212 yang diikuti oleh jutaan umat muslim lainnya.

Namun, meninggalkan reuni 212 yang begitu menakjubkan. Maka, ternyata ada sebuah peristiwa yang menakjubkan pula, sekaligus menakutkan. Dan peristiwa ini juga tepat terjadi pada Minggu, (2/12/2018). Peristiwa tersebut ialah pembantaian para perkerja trans Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Yang tentunya dinamakan pembantaian karena memang korbannya tak hanya satu tapi sudah mencapai 31 orang. (detiknews.com)

Sepertinya negeri ini sudah mengalami krisis keamanan. Yang mana sebelum terjadi pembantaian di papua ini pun, beberapa waktu yang lalu telah terjadi pembunuhan di Kalimantan dengan cara yang sangat sadis. Ada yang digorok  lehernya, bahkan ada yang dipenggal kepalanya. (http://www.tribunnews.com/regional/2018/11/22/pelaku-pembunuhan-mayat-tanpa-kepala-di-banjar-berusia-19-tahun-buang-bagian-tubuh-ke-sungai-barito), (http://www.tribunnews.com/regional/2018/11/23/penemuan-mayat-wanita-di-mobil-swift-biru-kagetkan-warga-banjar-korban-disebut-alami-luka-di-leher),

Meski ada perbedaan antara pembunuhan di Kalimantan dengan pembantaian para pekerja trans Papua yakni kalau pembunuhan itu dilakukan oleh individu. Sedangkan, pembantaian dilakukan oleh sekelompok orang besenjata. Dan jika pembunuhan dengan senjata yang mungkin berupa pisau, sedangakan pembantaian dengan cara ditembak menggunakan senjata api. (hetanews.com, 4/12/18)
Apapun, dan bagaimanapun orang-orang itu kehilangan nyawa mereka tetap saja mengerikkan. Dan seakan-akan nyawa itu tak berharga lagi.

Apalagi, Menurut Kamal, KKB Papua awalnya membunuh 24 pekerja proyek. Sedangkan 8 pekerja proyek lainnya melarikan diri dan bersembunyi di rumah salah satu anggota DPRD setempat. "Delapan orang yang selamatkan diri di rumah anggota DPRD dijemput dan dibunuh. Tujuh orang meninggal dunia dan 1 orang belum ditemukan atau melarikan diri," katanya. (detiknews.com, 4/12/18)

Hal ini tentu saja sangat kejam. Dan alasannya pun terbilang sangat sepele yakni kelompok bersenjata Papua marah saat mengetahui ada pekerja yang mengabadikan gambar upacara HUT OPM 1 Desember tak jauh dari lokasi kejadian. Dan akhirnya diduga mengamuk serta membantai para pekerja. (viva.co.id/4/12/18).

Tentunya sekarang ini korban semakin bertambah, bahkan seorang tentara juga ikut tewas ditembak oleh KKB. Dan yang mengerikkan lagi, helikopter TNI yang akan melakukan evakuasi jenazah Serda Handoko pun ikut juga diserang oleh KKB di Pos TNI PAM Rawan/755 Yalet di Distrik Tuba (tribunnews.com, 5/12/18). Seakan mereka mengindikasikan tak kenal takut apapun meski harus berhadapan dengan TNI.

Padahal kelompok seperti ini sudah lama ada. Namun, sayang justru belum ada tindak tegas dari pemerintah. Mereka dibiarkan, bebas malang melintang melakukan kejahatan. Dan jika ada kasus barulah bertindak. “Memang sudah lama mereka (KKB) memberikan ancaman akan membunuh orang lewat jalan tersebut,” kata Kalpores Jayawijaya, AKBP Piter Reba saat dihubungi melalui telepon selularnya  (hetanews.com, 4/12/18). Padahal, sejumlah tokoh elite politik pun ikut berkomentar mengenai tragedi ini (tribunwow.com, 4/12/18).

Perlakuan ini tentu sangat berbeda dengan orang-orang muslim atau Islam. Ketika umat muslim menyerukan  menghormati orang yang berpuasa dan lainnya, mereka justru dicap intoleran. Ketika ada umat muslim yang memperjuangkan penerapan syariah secara kaffah dengan dakwah khilafah mereka dituding radikal, memecah belah dan mengancam  NKRI.

Bahkan ketika para ulama yang mendakwahkan mengenai kewajiban jihad fi sabillalah mereka akan dicap menuai benih cikal bakal teroris.  Dan masih banyak tuduhan lainnya misalnya ekstrimis, tradisionalis, garis keras, fanatik dan sebagainya
Padahal, individu maupun kelompok yang menyeruakan Islam tak pernah sedikitpun menyakiti orang lain,  semua dilakukan dengan damai dan tanpa kekerasan. Ataupun melakukan kejahatan yang merugikan negara seperti korupsi, suap, dan lain-lain. Tapi kelompok seperti ini yang bahkan membunuh puluhan orang hanya dicap sebagai kelompok kriminal bersenjata.

Dan yang lebih mengherankan lagi, mana sistem keamanan negeri ini, terutama di kejadian lokasi tersebut. Apalagi para pekerja yang menjadi korban sedang membangun infastruktur di sana. Maka sudah seharusnya mereka diberikan perlindungan. Begitu pula yang dikatakan Fahri Hamzah yang dikutip dari kompas.com. “Ini harus ada penjelesan, pemerintah harus memberi penegasan dan perlindungan. Sebab, di tengah kita katanya sedang membangun infrasturktur, tiba-tiba tidak ada perlindungan yang bekerja di daerah remote itu.” (tribunwow.com, 4/12/18)

Masih membahas soal sistem keamanan, bukankah negeri ini punya sistem keamanan yang lengkap dan bagus. Tapi, entah kemana mereka disaat kasus seperti ini. Bagai hilang ditelan bumi.
Tragedi pembantaian seperti ini tidak akan selesai jika hanya dengan mengirimkan para aparat TNI saja. Karena, pada faktanya salah seorang dari mereka malah justru menjadi korban.

Akibatnya jumlah korban semakin bertambah. Tapi, memang sudah seharusnya semua kelompok kriminal bersenjata seperti ini, yang ada di negeri ini harus ditindak dengan tegas, diberantas habis hingga ke akar-akarnya. Juga,  perbuatan keji membantai orang, mestinya dihukum dengan hukuman yang berat dan menjerakan.

Dalam Islam, jika seseorang membunuh orang lain dengan sengaja. Maka nyawa akan dibalas dengan nyawa (Qisahsh). Tapi, bila keluarga korban memaafkan maka akan dikenakan diat. Diat itu berupa tebusan yang diberikan kepada keluarga korban, yakni memerdekan budak atau hamba sahaya atau seharga beberapa ekor bahkan sampai ratusan ekor unta (https://al-badar.net).

Karena sekarang tidak ada lagi budak dan perbudakan. Maka berarti seharga dengan beberapa bahkan ratusan ekor unta tadi. Yang tidak murah harganya bahkan mungkin mencapai milyaran. Semua ini jelas termaktub di Surah Al Baqaah ayat 178-179. Apalagi, Islam bersifat jawabir (penebus) dan jawazir (pencegah).

Bayangkan jika individu  yang berani membunuh saja diberikan hukuman seperti ini. Apalagi, jika itu kelompok, terutama kelompok yang jelas berbahaya, dan ingin memisahkan sebuah wilayah dari negeri ini. Maka sudah pasti ditindak dengan tegas dan dihukum dengan hukuman yang menjerakan pula. Namun, dalam Islam tidak langsung diadili tetapi harus diusut dulu kenapa si pelaku tersebut membunuh.

Jika tidak sengaja seperti mempertahankan kesucian maka akan berbeda hukumannya.
Hanya sistem Islam yang mampu mengurai tuntas dan mejadi solusi bagi permasalah seperti ini dan lainnya. Sistem Islam ini tak akan bisa kecuali jika Islam diterapkan kaffah dalam seluruh lini kehidupan. Wallahu’alam bis shawab.[MO/sr]

Posting Komentar