Oleh :Dessy Fatmawati, S. T

Mediaoposisi.com-“Saya non muslim, hadir di acara 212 kemarin ingin membuktikan kepercayaan saya bahwa Islam itu damai dan toleran. Saya tidak menyamar dengan peci atau topi tauhid, tapi mereka senyum dan menyapa saya. Islam yang mana yang kalian sebut radikal dan intoleran itu?” tulis David dalam akun media sosialnya @davidfog_.

David hanya satu dari sekian banyak non muslim yang takjub akan toleransi yang diperlihatkan oleh saudara-saudara muslim. Mereka membuktikan sendiri framing intoleransi yang disematkan pada muslim dan Islam hanyalah fitnah belaka.

Bagai angin lalu, banyaknya bukti-bukti betapa tolerannya Islam dan kaum muslimin yang diperton-tonkan, narasi intoleransi Islam tak surut dijual. Baru-baru ini Setara Institute memberikan penghargaan terkait Indeks Kota Toleran atau IKT 2018.

Mereka melakukan kajian dan pemeringkatan terhadap 94 kota. Hasilnya, Singkawang berada di peringkat satu dengan skor 6.513. Disusul Kota Salatiga. Kota Banda Aceh di posisi terendah dengan peringkat 93 dengan skor 2.830.

Berada di bawah Kota Jakarta yang di peringkat 92. Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin pun menolak bukti 212 dengan menyatakan bahwa Aksi 212 bukan merupakan puncak radikalisme, tetapi Aksi 212 membuka keran naiknya intoleransi.

Beragam kasus yang melatarbelakangi pengangkatan isu toleransi, kesimpulan yang terbentuk masih sama atau kurang lebih mirip. Ajaran Islam harus ‘disesuaikan’ demi toleransi. Dan meningkatnya ketaatan muslim terhadap agamanya berbanding lurus dengan intoleransi.

Kesimpulan yang demikian alih-alih mewujudkan toleransi umat beragama, gencarnya wacana menyesuaikan ajaran Islam demi toleransi tak ubahnya menggarami air laut. Tidak menyelesaikan apapun, sebab :

Pertama, motif kekuasaan. Berlarutnya kasus pemicu narasi jualanin toleransi bukan karena tidak pahamnya kaum mayoritas dalam penaungan kaum minoritas. Namun ketidakadilan penguasalah yang member ekses energy arogansi minoritas.

Dan posisi sebagai ‘anakemas’ mengikis prinsip pentingnya minoritas menghormati mayoritas termasuk menista agama. Kasus yang menimpa mantan gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjadi bukti nyata ‘anakemas’.

Kedua, motif ideologis. Kasus toleransi hanyalah salah satu permainan framing issue Barat sarana agenda ‘penyesuaian’ ajaran Islam di alam demokrasi. Mendeskriditkan syariah Islam dengan mengopinikanajaran Islam memiliki kesani ntoleran. Selalu ada standard ganda dalam penyelesaian kasus SARA. Massifnya pemberitaan kasus intoleransi tertuduh muslim disisi lain membisu manakala perlakuan intoleransi yang diterima ummat Islam, sedikitpun tidak pernah diperjuangkan.

Hipokrisi demokrasi sangat terasa dalam kasus pembakaran masjid Tolikara pada saat pelaksanaan sholat Idul Fitri (17/7/2015), penolakan pembangunan menara masjid Al Aqsa Sentani Papua (2018), pengabaian kasu spenganiayaan ulama, statement menyudutkan “hormati yang tidakberpuasa” dan terbaru pemanggilan Kapolda NTB pada Dewi karena mengunggah video dugaan kristenisasi korban gempa Lombok serta kebengisan OPM yang tidak pernah sekalipun dilabeli sikap intoleran apalagi sematan gelar teroris menjadi bukti tak terbantahkan.

Maka kasus-kasus serupa tidak akan pernah berhenti sebab demokrasi meniscayakan cara apapun dalam mempertahankan kepentingan, termasuk melakukan tindakan intoleransi atas nama menjaga toleransi.

Teladan Toleransi tanpa Hipokrisi
Sejak Islam diturunkan kebumi, Islam tidak membatasi ajarannya sekedar rahmat bagi muslim saja tapi meliputi seluruh alam. Allah berfirman

“Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Tata kelola kerukunan ummat dalam Islam merupakan buah oleh kesempurnaan ajaran Islam yang ditopang oleh individu, masyarakat dan negara.

Individu, Islam mengajarkan saling menghargai antar ummat manusia. Dalam perkara keyakinan, Islam menyebarkannya dengan hujjah dan keteladanan tanpa paksaan. Lakum dinukum wa liyadin, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Islam mendidik individu untuk berperilaku yang baik dan tidak saling menyakiti baik lisan maupun perbuatan.

Masyarakat, kehidupan social masyarakat memungkinkan membaurnya ummat Islam dengan ummat yang lain. Lingkungan dipupuk rasa tenggang rasa, saling menghargai, gotong royong dan saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa mengaduk-aduk ranah ibadah.

Negara, banteng terluar untuk memastikan interaksi sehat dalam masyarakat. Negara memastikan setiap warga Negara baik muslim maupun non muslim mendapa tperlakuan yang setara baik hak dan kewajiban. Negara mendudukan diri sebagai hakim yang adil dalam setiap persengketaan yang ada. Hadir dalam pengayoman setiap ummat yang menjadi tanggungjawabnya bukan sekedar regulator. Sekeda rmenengahi sembari mengambil keuntungan.

Kerukunan umat beragama bukanlah utopis. Kisah-kisah yang dituturkan sejarawan baik muslim maupun non muslim membuktikan bahwa hanya Islam sajalah yang mampu mewujudkan toleransi hakiki ummat beragama. Sejarah dengan apik mendokumentasikan parade toleransi luarbiasa yang dinampakkan ketika Islam diposisikan sebagai pengatur kehidupan manusia.

Maria Rosa Menocal, sarjana budaya dan sejarah abad pertengahan dan Sterling Professor of Humanities di Yale University menuturkan dalam salah satu bukunya, Surga di Andalusia; Ketika Muslim, Yahudi, dan Nasrani Hidup dalam Harmoni.

“Selama 150 tahun pemerintahan Umayyah, masyarakat Yahudi Andalusia tampak jelas mengalami kemakmuran. Di pihak lain, posisi kaum Yahudi di bawah pemerintahan Islam, dinilai dari segi apapun, justru mengalami peningkatan seiring dengan perubahan status mereka dari kelompok  yang tadinya tertindas menjadi minoritas yang dilindungi.” (hal. 94-95).

“Selain itu, beberapa orang Kristen terkemuka juga terpilih untu kmengurus kebijakan luar negeri kekhalifahan. Seorang uskup juga dipilih sebagai duta khalifah ke Istana Otto I. Uskup tersebut bertemu dengan seorang biarawati dan memberikan informasi yang akan menjadi bahan bagi paparannya yang akan terus dibaca orang tentang keajaiban Kota Cordoba.” (hal. 99-100).

Sejatinya toleransi berbanding lurus dengan kadar penerapan agama (Islam) dalam kehidupan. Adalah wajar jika konflik mempermainkan toleransi terus bergulir sebab dijauhkannya agama dari kehidupan.‘Penyesuaian’ ajaran Islam demi demokrasi dan sekulerisasi tidaklah membawa hasil apapun dalam penyelesaian konflik antar ummat beragama, yang ada memperparahnya demi mendulang suara saat suksesi kekuasaan.

Posting Komentar