Oleh : Reni Tresnawati 
( Pemerhati Generasi)

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini Setara Institute melakuka survey seputar toleransi, Setara Institute memberikan penghargaan kepada 10 kota yang menduduki peringkat tertinggi dalam indeks Kota Toleran (IKT) 2018.

Mereka melakukan kajian dan pemeringkatan terhadap 94 kota di Indonesia untuk mengukur praktek toleransi yang dilakukan oleh pemerintah kota. Kota yang berhasil meraih penghargaan adalah Singkawang, Bekasi dan Surabaya. Seperti yang dilansir Kompas.com 7/12/2018.

Mentri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengapresiasi penghargaan yang diberikan Setara Institute kepada 10 kota di Indonesia dengan nilai tertinggi, yang sudah berkomunikasi selama 3 tahun lalu, dengan yang sudah memiliki ide ini, sehingga menambah wawasan kepada Kepala Daerah terpilih agar menyadari bahwa warganya yang beragam.

Mereka kini dapat menduduki posisi penting dan ini bukan karena suku dan agama tapi memang karena masyarakat di daerah itu yang beragam dengan toleransinya, ungkap Tjahjo seusai acara di Hotel Ashley,Jakarta Pusat Jumat 7/12/2018.

Wacana toleransi terus dihembuskan tanpa henti, seolah negeri ini darurat intoleransi. Seakan di negeri ini umat Islam tidak toleransi. Faktanya, isu intoleransi selalu menyasar umat Islam.

Anggota DPR Kota Banda Aceh, Irwansyah menilai hasil kajian Setara Institute tidak memiliki dasar lantaran menuding Banda Aceh tidak toleran, dan itu tidak sesuai fakta, menurut dia ada upaya Setara Institute mengkerdilkan pemberlakuan syariat Islam di Banda Aceh. Seperti yang dilansir Jejaknasional.com.

Sebelumnya Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga meliris hasil survei soal trend persepsi publik tentang  demokrasi, korupsi, dan inteloransi. Hasilnya, ada peningkatan soal inteloransi sejak 2016 sampai 2018.

Dengan provokatif penelitian LSI, Burhanuddin mengatakan bahwa ada kaitan Aksi 212 dengan praktek inteloransi. Ia menyebut Aksi 212 bukan merupakan puncak radikalisme, tetapi Aksi 212 membuka keran naiknya inteloransi.

Ungkapan provokatif tersebut  dibantah oleh Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin, menurut Novel justru aksi Bela Islam adalah puncak toleransi yang real dan keajaiban yang memecahkan teori apapun. Pasalnya jutaan orang hadir, namun aksi berjalan super tertib, super toleran. Seperti di kutip Detik.com.

Dewasa ini kaum Muslim memadankan kata toleransi pada kata tasamud. Tasamud artinya membiar-kan (menghargai), lapang dada (kamus Al-Munawir, hlm 702. Pustaka Progresif.cet.14). Toleransi secara bahasa berasal dari kata tolerance.

Maknanya adalah "to endure with Out protest", yang berarti menahan perasaan tanpa protes. Menurut webster's New Amerika Dictionary, arti toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Kata tolerance kemudian diadopsi kedalam bahasa Indonesia menjadi toleransi. Berasal dari kata toleran. Mengandung arti bersikap/bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Intoleransi (ketidak toleranan) kadang dikaitkan dengan tindakan kekerasan yang melibatkan umat Islam. Tindakan ini sering dijadikan alasan untuk menuding kaum Muslim sebagai kelompok yang paling tidak toleran dengan penganut keyakinan lain.

Oleh kelompok lain tudingan ini sejatinya untuk membenarkan pandangan keliru kaum liberal yang menyatakan bahwa munculnya kekerasan di Dunia Islam disebabkan adanya "truth claim"(klaim kebenaran) dan "fanatisme".

Untuk itu menurut mereka, agar umat Islam bisa bersikap toleransi terhadap penganut keyakinan lain. Truth claim harus dihapuskan. Caranya dengan "meyakini kebenaran agama lain". Denga cara inilah menurut mereka kekerasan di dunia Islam bisa dihilangkan.

Pandangan seperti di atas jelas keliru dan menyesatkan. Alasannya, ide penghapusan truth claim dan toleransi tanpa batas, lahir dari paham liberalisme. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam. Gagasan tersebut bertentangan dengan nash-nash qath'i (tegas) yang menyatakan bahwa agama yang Allah SWT ridlo'i hanyalah Islam.

Selain Islam adalah kekufuran dan kesesatan.Allah SWT berfirman:
" Sungguh agama yang diakui disisi Allah hanyalah Islam. TQS Ali Imran (3):19.

Allah SWT juga berfirman:
" Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di Akhirat dia termasuk kedalam kelompok orang-orang yang rugi. TQS Ali Imran (3):85.

Berhubungan dengan toleransi, Islam menggariskan sejumlah ketentuan diantaranya:
Pertama, Islam tidak akan pernah mengakui keberadaan agama dan keyakinan selain Islam. Seluruh agama dan keyakinan yang bukan Islam adalah kekufuran.

Demokrasi, pluralisme, sekularisme, liberalisme dan semua paham yang lahir dari paham-paham tersebut adalah kufur. Agama Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, kebatilan dan yang lainnya adalah kufur.

Siapa saja yang meyakini agama atau paham tersebut, baik sebagian maupun keseluruhan adalah kafir. Jika pelakunya seorang muslim maka ia telah keluar dari Islam (murtad) tidak ada toleransi dalam perkara semacam ini.

Kedua, tidak ada toleransi dalam perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath'i, baik menyangkut akidah maupun hukum syariah.

Dalam perkara akidah Islam tidak pernah mentoleransi keyakinan yang bertentangan dengan pokok-pokok akidah Islam seperti ateisme, politheisme, keyakinan bahwa Al Quran tidak lengkap, keyakin-an adanya nabi dan rasul baru setelah wafatnya nabi Muhammad saw, pengingkaran terhadap hari akhir dan lain-lain.

Adapun dalam persoalan hukum syariah. Islam, misalnya, tidak mentoleransi orang yang menolak kewajiban shalat, zakat, puasa dan berbagai kewajiban yang telah di tetapkan berdasarkan dalil qath'i.

Ketiga, Islam tidak melarang kaum Muslim berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara mubah seperti jual-beli, kerjasama, bisnis dan lain-lain.

Larangan berinteraksi dengan orang kafir terbatas pada perkara yang dilarang oleh syariah, seperti menikahi wanita musyrik (kecuali ahlul kitab), menikahkan wanita muslim dengan orang kafir, menikah mut'ah (kawin kontrak) dll. Ketentuan ini tidak bisa diubah dengan alasan lain.

Keempat, adanya ketentuan-ketentuan diatas tidak menapikkan kewajiban kaum Muslim untuk berdakwah dan berjihad melawan orang-orang kafir di manapun mereka berada.

Hanya saja pelaksanaan dakwah dan jihad harus sejalan dengan syariah. Orang kafir dzimmi yang hidup di negara Islam dan tunduk pada kekuasaan Islam, diperlakukan sebagaimana kaum Muslim, akan tetapi ada batas-batas tertentu dalam perlakuannya.

Hak dan kewajiban kafir dzimmi sebagai warga  Daulah Islam sama dengan kaum muslimin. Harta dan jiwa mereka dilindungi. Sedangkan terhadap kafir harbi diperlakukan sebagai musuh yang akan di perangi.

Seorang muslim dilarang berinteraksi dalam bentuk apapun dengan kafir harbi fi'lan. Islam telah mengajarkan dan mempraktekkan toleransi dengan begitu apik sejak masa Rasulullah saw, Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Tidak memaksa non muslim untuk masuk Islam.

Rasulullah pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non muslim, menghargai tetengga non muslim, menyuapi orang kafir yang buta dan banyak lain yang beliau ajarkan kepada umat-Nya. Negara Islam perdana di Madinah yang Rasulullah saw pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola kemajemukan.

Umat Islam, Nasrani, Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naung-an pemerintahan Islam, namun masyarakat non muslim mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Perlakuan adil Negara Khilafah terhadap non muslim bukan sekedar konsep, namun benar-benar diaplikasikan semata-mata karena menjalankan hukum syariah Islam.

Jadi jika masih ada yang mempermasalahkan inteloransi dalam Islam, sungguh merekalah yang tidak toleran. Mereka adalah musuh Allah SWT. Merekalah yang tidak menghendaki Islam hadir sebagai Rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta.[MO/ge]

Posting Komentar