Oleh: Ifa Mufida

Mediaoposisi.com-Isu Toleransi kembali banyak dibicarakan di penghujung tahun ini,  setelah adanya kajian dan indexing yang dilakukan oleh SETARA institute terhadap 94 kota yang ada di Indonesia. Tujuan pengindeks-an ini antara lain untuk mempromosikan kota-kota yang dianggap berhasil membangun dan mengembangkan toleransi di wilayahnya masing-masing, sehingga dapat menjadi pemicu bagi kota-kota lain untuk turut bergegas mengikuti, membangun dan mengembangkan toleransi di wilayahnya (http://setara-institute.org). 

Dari survei tersebut, kota Singkawang, Salatiga dan Pematang Siantar dinobatkan menjadi kota yang paling toleran. Sedangkan Jakarta, Banda Aceh dan Tanjung Balai dinobatkan menjadi kota yang paling tidak toleran. Penilaian ini pun menuai pro dan kontra. Bahkan banyak yang mempertanyakan instrumen dan validitas realibilitas kajian ini.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia dikatakan memiliki toleransi ke tiga paling rendah. Hal ini pun menuai pertanyaan. Pada acara yang disiarkan oleh kompas TV dengan menghadirkan direktur SETARA institute menyatakan bahwa penilaian ini dikarenakan masih adanya efek pilkada tahun lalu yang menyebabkan Ahok kalah dengan serangkaian isu intoleran sebelumnya.

Selain itu, penilaian Jakarta dikatakan rendah dikarenakan pemerintah Jakarta tidak merespon surat polling yang diberikan oleh SETARA yang isinya berkenaan dengan sejauh mana kebijakan dari pemerintah terhadap pengaturan toleransi bagi warganya. Dengan demikian SETARA mengaku tidak bisa menilai variabel kebijakan pemerintah.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

SETARA intitute juga menilai bahwa adanya acara 411, 212 tahun 2016 dan reuni 212 tahun 2018 yang dihadiri oleh Anis Baswedan justru menunjukkan bahwa betapa tidak tolerannya pemerintah Jakarta. Menurut direktur SETARA justru aksi ini menunjukkan politik identitas dan dirasa menteror kelompok yang berbada.

Hal ini sangat bertentangan dengan fakta dimana reuni 212 berjalan dengan penuh damai. Reuni 212 juga menunjukkan betapa besarnya kontrol yang terjadi di antara peserta dimana mereka  saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk tidak menginjak rumput, bahkan mengingatkan untuk bersabar karena harus berjalan beriringan dengan peserta aksi yang hitungannya 10 juta jiwa lebih. Pada aksi 212 tahun 2018 pun dihadiri oleh banyak pihak dari kalangan non muslim yang mereka sendiri merasakan bahwa ternyata umat islam itu sangat toleran. Dari acara inipun,  banyak dari mereka pun menilai bahwa islam adalah agama yang damai.

Di sini sudah nampak, sudut pandang sangat menentukan akan penilaian terhadap sesuatu, termasuk berkenaan dengan nilai toleransi ini. Menurut Pengamat Kebijakan Publik  Pratma Julia Sunjandari terkait rilis SETARA, Rabu (12/12/2018) “Ini pesanan Barat, mereka hanya mengulang kasus-kasus lama yang menurutnya tidak diselesaikan oleh Pemda. Karena itu mereka tidak bakal meninjaunya dari realitas kehidupan riil yang terjadi antara Muslim dan non Muslim yang sebenarnya berjalan cukup normal”.

Selain Jakarta, jika kita telusuri semua kota yang level toleransinya rendah adalah kota yang dianggap tidak toleran pada praktik beragama yang menyimpang dari ajaran Islam, seperti Ahmadiyah dan Syiah. Padahal sikap kaum muslimin terhadap ahmadiah dan syiah adalah bentuk penjagaannya terhadap Akidah Islam.

Sebagaimana Bogor yang dianggap rendah nilai toleransinya dikarenakan  kasus Gereja Yasmin yang perizinan pendirian gerejanya bermasalah. Begitu juga Tanjung Balai dianggap tidak toleran karena memperkarakan  warga yang keberatan dengan seruan adzan, yang jelas -jelas sebagai bagian dari syariat Islam.

Begitu juga Aceh yang menerapkan perda syariah yang sebenarnya tidak mengganggu warga non-Muslim ketika pemberlakuan jinayah di sana. Demikianlah Pengamat Kebijakan Publik Pratma juga menilai bahwa  kajian toleran dan intoleran adalah kajian basi yang diulang-ulang setiap tahun untuk menggiring opini masyarakat dalam meragukan ajaran Islam, dimana parameternya adalah sekulerisme.

Kita dapati disini toleransi ala kapitalisme justru menunjukkan ketidaktolerannya. Penilaian ala SETARA institute ini sebagai salah satu bukti saja. Kapitalisme dengan ide-ide cabangnya berupa nasionalisme, hak asasi manusia, pluralisme selalu mendeskritkan Islam. Islam selalu dinampakkan sebagai agama yang tidak toleran bahkan dikatakan sebagai agama yang radikal dan teroris, padahal sejatinya Islam hanya mengupayakan agar bisa menerapkan syariat Islam sebagai aturan dalam kehidupan.

Selain itu, kalau kita melihat sejatinya kaum muslimin saat ini telah menjadi korban intolerannya aturan pemerintah dan internasional. Islamofobia di Eropa misalnya yang melarang kaum perempuan untuk memakai hijab. Pun juga perlakuan yang tidak manusiawi terhadap kamp kaum muslim di Uyghur, di Xinjiang hingga Myanmar.  Belum lagi kasus kaum muslim palestina yang terus terusir dan hukum internasional justru memihak pada yahudi laknatullah. Sungguh kaum muslimin di bawah aturan kapitalisme sekuler terus mendapatkan serangan-serangan yang tidak manusiawi.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam ketika memperlakukan kaum non-muslim di bawah kepemimpinannya. Sejak Islam tumbuh dan berkembang, Rasulullah telah memberikan teladan bahwa toleransi adalah keharusan. Jauh sebelum Declaration of Human Rights, Islam telah mengajarkan jaminan kebebasan beragama melalui Piagam Madinah 622 M. Rasul telah meletakkan dasar-dasar bagi keragaman hidup umat beragama, mengakui eksistensi non-muslim sekaligus menghormati peribadatan mereka. Di antara butir-butir toleransi itu adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada, tidak saling menyakiti, dan saling melindungi anggota yang terikat dengan  piagam madinah.
         
Selain itu, Islam juga mengajarkan toleransi dengan membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam. Dalam masalah muamalah, Rasul Shallallahu‘alaihi Wassallam pernah berbisnis dengan non-Muslim secara adil dan jujur, selama bukan jual-beli barang haram. An-Nawawi mengatakan, “Kaum Muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non Muslim.” (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim, 10/218).

Rasulullah juga menjenguk tetangga non-Muslim beliau yang sakit (HR. Bukhari no. 2363 & Muslim no. 2244). Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non-Muslim. Rasul Shallallhu ‘alaihi Wassallam bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti kafir Dzimmi, maka aku berperkara dengannya, dan barangsiapa berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada hari kiamat.” (HR. As-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 8270).

Demikianlah Islam menjamin kehidupan kafir dzimmi ( kafir yang tunduk di bawah kekuasaan islam) dengan perlakuan yang sama sebagai warga negara.
Sikap toleransi Islam kepada non-Muslim juga dipraktikkan oleh para Sahabat saat mereka mendapatkan amanah kepemimpinan sebagai para khalifah, menggantikan kepemimpinan Rasul saw. atas umat Islam. Di antara contoh paling mengemuka adalah saat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. membebaskan Baitul Maqdis (Yerussalem), Palestina.

Saat itu Khalifah Umar menandatangani perjanjian damai dengan Pendeta Sofranius yang merupakan pemimpin umat Nasrani di Yerussalem. Perjanjian yang dinamai Ihdat Umariyah itu memberikan jaminan kepada warga non-Muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. Khalifah Umar tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam dan tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai keyakinannya.

Mereka hanya diharuskan membayar jizyah sebagai bentuk ketundukan pada pemerintahan Islam. Bahkan Khalifah memberikan keleluasaan kepada mereka untuk tetap memasang salib-salibnya di Gereja al-Qiyamah. Khalifah Umar ra. juga memberikan kebebasan dan hak-hak hukum dan perlindungan kepada seluruh penduduk Yerussalem.

Toleransi yang dijalankan Islam ini, menjadi contoh bagi masyarakat peradaban lain. Bahkan toleransi Islam, langgeng terasa hingga era akhir Khilafah Utsmaniyah. Seorang Orientalis Inggris, TW Arnold berkata: “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors -at least for two centuries after their conquest of Greece- exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe…”

[Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…] (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hal. 134). Toleransi dalam Islam telah diakui bukan hanya dari kalangan muslim tetapi banyak oleh kalangan non-muslim juga.

Demikianlah, Islam benar-benar memberikan contoh toleransi yang patut diimpikan dan diupayakan bisa hadir kembali di tengah kita. Namun, hal itu tidak akan terwujud jika sistem saat ini masih mengemban kapitalisme-sekuler. Maka terwujudnya toleransi Islam yang memanusiakan manusia di seluruh Alam akan terwujud hanya dengan tegaknya kembali kehidupan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah, Insya Allah.[MO]

Posting Komentar