Oleh: Farah Sari

Mediaoposisi.com- Setara Institute merilis hasil penelitian yang mengukur soal promosi dan praktek toleransi di 94 kota di Indonesia pada tahun 2018. Pada penelitian ini, terdapat empat variabel yang diukur, yaitu regulasi pemerintah kota, tindakan pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama.
Berikut daftar lengkap peraih penghargaan: Singkawang (skor: 6,513) Salatiga (skor: 6,477) Pematang Siantar (skor: 6,280) Manado (skor: 6,030) Ambon (skor: 5,960) Bekasi (skor: 5,890) Kupang (skor: 5,857) Tomohon (skor: 5,833)  Binjai (skor: 5,830) Surabaya (skor: 5,823)(kompas.com,7/12/18)

Kata toleransi menjadi menarik untuk didiskusikan. Kata ini menjadi topik pembicaraan beberapa waktu terakhir. Pentingnya kata ini terbukti dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh setara institute. Penelitian ini menunjukkan kota mana saja yang terkategori kota toleransi.
Mengacu pada variabel yang digunakan oleh setara institute  yaitu regulasi pemerintah kota, tindakan pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama. Tentu muncul pertanyaan, apa yang menjadi standar kebenaran dari 4 variabel di atas?mampukah cap sebagai kota toleransi menjamin kesejahteraan masyarakat?

Poin pertama, apa yang menjadi standar kebenaran dari 4 variabel tidak tergambar jelas. Padahal untuk menilai secara tepat tentu kita harus punya standar penilaian. Jika dikembalikan pada pihak yang mengadakan penelitian yaitu setara institute maka kemungkinan standar baik buruk atau benar salah ditentukan oleh pihak setara institute.

Sebagai seorang manusia yang punya kelemahan maka manusia tidak  mampu menetapkan dengan benar maksud kota dengan standar toleransi. Hal ini disebabkan karena akal manusia terbatas. Jika standar ini diserahkan pada manusia maka akan terjadi perselisihan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Nah, bagaimana mungkin konsep yang belum pasti seperti ini kita gunakan untuk menilai sesuatu?

Pola fikir dan pola sikap seseorang akan dipengaruhi oleh aturan hidup yang ia gunakan. Hari ini kita mendapati negeri kita dengan mayoritas muslim tapi sulit menemukan wujud islam dalam fikiran dan sikap muslim itu sendiri. Karena memang islam tidak diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Islam dipisahkan dari kehidupan (sekuler). Hal ini diperparah dengan adanya konsep kebebasan (liberal).

Setiap orang bebas memutuskan apa yang dia inginkan, apa yang dia anggap benar. Inilah permasalahan pokok kita hari ini. Muslim meninggalkan ajaran islam dengan sadar atau tanpa sadar.
Pada poin dua, apakah cap kota toleransi menjamin masyarakatnya sejahtera? Maka kita perlu mengkaji dulu apa indikasi masyarakat sejahtera. Beberapa indikasinya adalah masyarakat ada pada kondisi terpenuhi kebutuhan pokok dasar individu (pangan,sandang,papan). Dan kebutuhan pokok dasar masyarakat (pendidikan,kesehatan,keamanan dll). Selain itu masyarakat juga mendapat jaminan untuk melaksanakan aktivitas yang berhubungaan dengan keyakinannya (akidah, ibadah, syariat lainnya seperti dakwah)

Melihat pada hasil penelitian setara institute ada 10 kota yang dinobatkan sebagai kota toleransi dan akan dijadikan percontohan untuk kota lainnya di Indonesia. Maka apakah 10 kota tersebut sudah terpenuhi kebutuhannya dengan baik? Tentu belum. Bahkan hari ini kita masih dicekik oleh mahalnya harga barang kebutuhan. Sulitnya akses pendidikan dan kesehatan yang baik, langkanya bahan bakar.Darurat narkoba dan seks bebas dll.

Secara umum, kita mendapati ketidak adilan dalam mewujudkan keimanannya. Padahal agama mayoritas masyarakatnya muslim tapi pemerintahannya tidak menerapkan islam secara totalitas. Beberapa kasus terakhir yang menyakiti muslim adalah pengaturan suara azan, pencekalan dan pelarangan dakwah, pemberian label ustad denyan istilah tadikal, pembakaran bendera berlafas kalimat tauhid. Saat ini semua terjadi tidak ada pihak atau media yang teriak ini toleransi pada islam dan muslim. Jadi kata toleransi dimainkan sesuai keinginan musuh islam lewat perpanjangan tangan kekuasaan yang tidak berpihak pada kebenaran (islam).

Bukaankah saat muslim ingin syariat total  ini adalah kewajiban pada Allah. Sehingga wajar hari ini kita ingin pemimpin yang mampu menjamin kita untuk taat. Nah,lucunya  hari ini yang menggunakan hak pilihnya dengan tidak memilih, karena tidak disediakannya calon pemimpin taat syariat total malah dicap intoleran,radikal dsb.

Dengan demikian seharusnya kita menjadi muslim yang cerdas. Cerdas dengan tsaqofah islam dan kuat aqidah islam. Sehingga kita tidak terjebak oleh kafir barat yang menciptakan opini dalam kamuflase kata toleransi. Defenisinya tidak dikembalikan pada makna yang tepat/islam, standar ganda sesuai kepentingan dan tidak ada hubungan kesejahteraan dengan cap kota toleransi versi setara institute(kaca mata kafir barat).

Jadi istilah ini sesungguhnya digunakan untuk menjauhkan muslim dari syariat islam yang totalitas. Hanya mengambil islam sebagai akidah dan ibadah. Coba kita lihat apa yang terjadi pada kaum muslim hari ini. Shalat boleh tapi ekonomi tetap riba. Menutup aurat silahkan tapi pergaulan bebas juga jalan. Dakwah perkara ibadah boleh tapi masalah pemerintahan jangan. Jika bandel dipersekusi. Dicap  ustadz radikal dll.

 Saat kehidupan dunia diatur oleh syariat islam maka tidak akan ada masalah dengan non muslim. Bukankah Rasulullah SAW juga hidup bersama dengan non muslim di sebuah negara/daulah madinah? Apa yang kita inginkan tentang tegaknya syariat dalam negara bukan perkara baru, hanya mengulang sejarah.Lantas apa yang dikhawatirkan jika islam diterapkan?

Inilah kekuatan syariat islam. Ia bersumber dari zat sempurna dan memiliki seperangkat aturan komprehensif pemecah masalah manusia. Dalam pandangan islam standar benar dan salah dikembalikan pada syariat islam. Artinya jika sesuatu tadi sesuai dengan dalil-dalil syara berarti ia benar. Dan sebaliknya. Terkait dengan toleransi maka islam juga memiliki pandangan yang utuh dan khas. Seperti kita lihat dalam beberapa ayat Al Quran sebagai berikut:
Allah SWT berfirman:

Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (2) Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. (5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (6)” (QS. Al Kafirun: 1-6)

Yang dimaksud dengan toleransi dalam pandangan islam adalah tidak memaksakan suatu agama. Membiarkan seseorang beragama sesuai keyakinanya. Saat dilakukan dakwah islam kepada non muslimpun tidak dengan jalan kekerasan tapi melalui dakwah pemikiran. Seperti inilah syariat menggariskan dan Rasulullah SAW mencontohkan pada kaum muslim.

Dakwah kepada islam adalah bukti cinta pada saudara. Saat kita meyakini islam adalah agama yang benar maka sudah seharusnya kita juga mengajak saudara kita pada kebenaran tersebut.
Dan hari ini kata toleransi tadi di arahkan kepada islam dan muslim.  Seolah agama diluar islam akan mengalami kezaliman jika islam diterapkan. Padahal ini sudah terbantahkan oleh firman Allah SWT bahwa islam adalah rahmatan lil alamin. Juga terbantahkan oleh fakta sejarah bahwa Rasulullah menerapkan islam dalam kondisi masyarakat madinah yang beragam.

Buah dari keberhasilan penerapan islam kita rasakan dengan nyata hari ini. Islam akhirnya samapai ke Indonesia. Bukankah ini nikmat terbesar dalam hidup kita? Bayangkan jika Rasululullah SAW tidak memperjuangkan penerapan islam total di Madinah dan tidak mengemban dakwah keluar madinah maka mustahil kita merasakan manisnya islam dan iman hari ini?

Tugas kita melanjutkan perjuangan ini. Mengikuti metode dakwah Rasul. Meski upaya penyesatan dari musuh islam tetap akan datang dalam berbagai rupa. Fisik atau non fisik berupa penyesatan dibalik kata toleransi. Jangan pernah mnndur terus berupaya sunguh-sungguh agar islam kembali bisa diterapkan secara total dan dakwah bisa diemban keseluruh dunia. [MO/sr]













Posting Komentar