Oleh : Lita Lestiani 
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Gerakan Jaga Indonesia (GJI) menolak rencana penyelenggaraan Reuni Aksi 212 di bilangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Minggu (2/12) mendatang. Sekretaris Jenderal Nasional GJI Boedi Djarot menilai Reuni Aksi 212 hanya akan menjadi tempat menyiarkan dakwah khilafah yang diusung organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan bertentangan dengan Pancasila.

Menurutnya pula HTI adalah sebuah gerakan partai politik internasional yang hanya menggunakan agama sebagai tujuan politiknya.
Komentar :

1. Sepertinya sudah menjadi kelumrahan. Dalam rezim sekuler, di negeri mayoritas muslim ini umat selalu menemui hambatan bahkan untuk sekedar melakukan pembelaan.

Kita tentu masih ingat bagaimana kecewanya umat Islam berkaitan dengan kasus penistaan Alqur'an yang dilakukan oleh mantan gubernur DKI ahok. Dan penolakan dari berbagai pihak pada saat aksi protes digelar dialami pada saat itu. Kasus yang serupa tapi tak sama berulang.  Simbol umat Islam kembali dilecehkan. Bendera bertuliskan kalimat tauhid dibakar. Meski peradilan telah digelar tapi vonis yang dijatuhkan telah melukai perasaan mayoritas kaum muslim di negeri ini.

Dan aksi 212 bukanlah reuni biasa. Bukan pula gerakan sebuah elemen tertentu. Tetapi merupakan momentum kebangkitan seluruh kaum muslim di negara ini,  sebagai bentuk pembelaan umat terhadap Islam.

2. Siapa HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) mengapa GJI begitu paranoid dengan dakwah Khilafah yang diusungnya?

HTI adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam.  Yang istiqomah berjuang untuk mengubah keadaan masyarakat yang penuh kerusakaan kembali pada kehidupan Islam. Dengan menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya landasan untuk menyelesaikan persoalan manusia.

Mari kita cermati, dalam perjalananannya selama gerakan dakwah ini hadir membersamai umat Islam di Indonesia,  pernahkah ada catatan yang menunjukan dakwahnya mengancam keutuhan negara. Bahkan setelah perppu pembubaran ormas dikeluarkan dimana banyak pihak melihatnya sebagai keputusan yang zalim  kita tidak melihat tindakan anarkis sedikitpun dari para pendukungnya.

Ketika PTUN memutuskan untuk menolak gugatan, sujud syukur justru menjadi potret keihlasan dan kesabaran dari para pengemban dakwahnya. Kita seyogyanya tidak salah paham dengan HTI yang begitu gigih berdakwah untuk kebaikan negeri dengan ide khilafahnya.

Karena khilafah merupakan model kepemimpinan umum bagi kaum muslim.  Yang telah dicontohkan dan diterapkan oleh Rosulullah sejak mendirikan sebuah negara di Madinah dimana beliau bertindak sebagai kepala negara/pemimpin umat.

Sebuah sistem pemerintahan yang menjalankan syariat secara kaffah dan mengemban dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia.

Lantas bagaimana mungkin sebuah konsep bisa dikonotasikan negatif sementara sistem pemerintahan Islam ini nyata tercatat dalam sejarah belasan abad lamanya telah berhasil mengantarkan umat manusia pada kebaikan. Tidak hanya bagi umat Islam tapi juga non muslim.

Sebagai contoh dalam naungan khilafah rakyat begitu sejahtera. Pendidikan dan kesehatan gratis. Kaum perempuan begitu dimuliakan. Fokus melahirkan generasi intelektual dengan kepribadian Islam. Keadilan tegak tanpa pandang sara. Negara aman terkendali. Sumber daya alam dikelola negara dimana hasilnya dikembalikan untuk kepentingan rakyat.

Dan siapapun tidak bisa semena-mena bertindak menurutkan hawa nafsu dan kepentingannya karena kedaulatan tertinggi berada ditangan syariat. Sungguh sebuah gambaran peradaban yang gemilang.
3. Sebuah seruan menegakan syariat  dituduh anti pancasila. Bukankah justru nilai-nilainya akan terjaga. Karena apa yang terkandung dalam pancasila selaras dengan Islam.

Komprador kekuatan neoimperialisme dan neoliberalisme nyata mengancam keberlangsungan negeri ini. Menguatnya cengkraman kapitalisme global. Sumber daya alam dikuasai asing. Aset negara banyak dijual. LGBT merajalela. Para koruptor menggila. Kriminilisasi ulama. Hukum karut marut. Degradasi moral generasi semakin mengkhawatirkan. Negara terbelit utang ribuan triliun dsb.

Tidak cukupkah permasalahan yang membelit negeri membuat mata kita terbuka bahwa inilah yang sebenarnya mengancam keberlangsungan sebuah negara. Belum lagi kelompok-kelompok yang jelas ingin memerdekaan diri keluar dari NKRI.

Mengapa hal-hal tersebut diatas tidak dianggap anti pancasila? 
Mengapa justru HTI menjadi tertuduh padahal selalu istiqomah menolak paham liberalisme dan imperialisme yang seharusnya kita sadari bersama sebagai ancaman nyata, yang merupakan bentuk penjajahan baru dalam berbagai sektor kehidupan.

Hal ini seolah mengesankan di rezim ini narasi "anti Pancasila" hanya disematkan kepada orang atau kelompok yang dengan gigih berjuang menyelamatkan negeri dengan ide-ide Islam.

4. Adalah pendapat yang keliru jika menganggap HTI sebagai partai politik yang " mempolitisasi agama" untuk mencapai tujuan politiknya.

Islam merupakan panduan hidup yang sempurna. Sebagai agama syamil (menyeluruh) mengatur berbagai aspek kehidupan.  Tidak hanya masalah ritual ibadah,  moralitas ataupun persoalan-persoalan individu. Tetapi berbagai hal secara detail seperti muamalah dalam berpolitik, ekonomi sosial budaya, pendidikan dsb juga diatur didalamnya.

Hal ini menegaskan bahwa Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Jika demikian dimana letak kesalahannya ketika HTI menyerukan dan menjadikan agama sebagai dasar dalam pengaturan politik. Karena ini bukanlah politisasi agama. Tetapi hal yang memang diperintahkan dalam Islam.

" Politisasi agama" adalah jika agama hanya dipakai sebagai alat kepentingan politik jangka pendek untuk memenangkan pemilu. Dimana oknum elit politik banyak yang "mendadak Islami" tetapi setelah menang justru  menolak Islam sebagai dasar politik dengan berbagai alasan.

Jika Gerakan Jaga Indonesia (GJI) benar-benar peduli dengan negeri ini harusnya bisa menyikapi ini dengan jernih. Mampu melihat dengan jelas apa dan siapa sesungguhnya yang menjadi ancaman nyata di negeri ini. Bukan justru paranoid dengan sebuah ide yang sesungguhnya bisa menjadi solusi dari setiap persoalan dan mendatangkan kemaslahatan untuk umat manusia.[MO/ge]

Posting Komentar