Oleh: Ayunin Maslacha 
(Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya)

Mediaoposisi.com-Boni Hargens berasumsi dalam aksi 212 tahun ini terdapat masa Hizbut Tahrir dengan jumlah besar, meski tidak bisa menyertakan data bukti terkait itu seperti yang ditantang Fadli Zon.

Apapun asumsi yang berawal dari kegugupan dan irasionalitas hanya akan membawa khayalan-khayalan, berupa ketakutan-ketakutan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal. Seperti halnya kekhawatiran akan masa 212 yang mungkin saja kedepannya mengancam keutuhan NKRI dan Pancasila, adalah sebatas imajinasi.

Lagipula, bukankah selama ini Hizbut Tahrir selalu dituduh sebagai kelompok garis keras, radikal, ekstrimis, teroris dan intoleran? Sedangkan tidak satupun terdapat keributan dalam aksi 212, bahkan tahun ini tidak sedikit umat non-Islam yang turut hadir juga. Jadi begitukah wajah-wajah radikal itu? Ekstrimis itu? Teroris itu? Intoleran itu?

Jika begitu, sama saja rezim ini menelan kembali ludahnya, Getir! Tapi jika masa sebanyak itu bukan dari masa Hizbut Tahrir, dengan alasan apa lagi rezim ini dapat mendiskreditkan orang-orang yang mencintai Islam dan menuntut keadilan bagi kaum Muslim dinegrinya sendiri?

Selain pada akhirnya, opini mereka terkait radikalisme, ekstrimisme, terorisme dan intoleransi terpatahkan juga dengan akhlak perilaku masa 212. yang pada kenyataannya semua orang harus mengakui itu. Bukankah ini menjadi pilihan sulit bagi mereka untuk membuat arus opini perlawanan terhadap dakwah?

Pembahasan terkait 212 sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Hizbut Tahrir. Memangnya siapa Hizbut Tahrir dibandingkan dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di negri ini? Jika dilihat dari segi seberapa lama menginjakkan dakwah di Nusantara. Saya sendiri terheran-heran, mengapa diotak Boni terlintas nama Hizbut Tahrir untuk disebut-sebut dalam ILC. Setidaknya itu adalah bukti bahwa meski BHP dicabut, namanya membekas kuat dalam memori.

Agaknya apa yang disampaikan Rocky Gerung lebih realistis bagi saya. Bahwa berkumpulnya masa 212 adalah reuni akal sehat, diluar interpretasi apapun. Terdapatnya kepemimpinan intelektual disana, ungkap Rocky Gerung, telah memberikan keyakinan bagi umat Islam bahwa, meskipun hanya dari "IDE" atau gagasan, akan mampu membawa perubahan besar.

Ide tersebut telah diperlihatkan oleh kaum Muslimin dalam bentuk jumlah yang amat fantastis dalam aksi 212. Tidak hanya berhenti pada kuantitas, namun bertransformasi menjadi kualitas yang mengagumkan banyak mata dunia. Saya hendak menjawab Ide yang dimaksudkan oleh Rocky Gerung supaya tidak kabur, bahwa benar berkumpulnya mereka adalah tersebab ide, yakni Aqidah Islam.

Disaat seorang Muslim telah membawa segenap kesadarannya tentang jati diri sebagai Muslim, yang memiliki konsekuensi untuk menjalankan taklif hukum, maka disaat itulahhubungan seorang manusia dengan Allah menjadi jelas. Yakni antara hamba yang sudah sepatutnya menghamba pada Al-Khaliq wa Al-Mudabbir (Pencipta dan Pengatur kehidupannya).

Adanya penuntutan pada 2016 terhadap penistaan agama, kemudian pada tahun ini terkait pembakaran bendera tauhid, dan keinginan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah merupakan wujud kesadaran tersebut diatas yang hanya dimiliki oleh seorang Muslim.

Dan hal ini tak mungkin dilakukan oleh masa bayaran, atau dengan sebutan lain seperti "politisasi masa". Tidak ada satupun kekuatan politik yang mampu menggerakkan masa sebesar itu. Tetapi "IDE" lah, yang kemudian melahirkan kesadaran untuk bergerak dan melakukan perubahan. Inilah yang terjadi pada aksi 212, meski momen telah berlalu ditahun 2016, namun tetap terus berkelanjutan sampai nanti. Rocky Gerung membahasakannya sebagai "momen yang menjadi monumen."

Sepatutnya kita belajar dari apa yang telah dibekaskan oleh sejarah. Jika bukan dari "IDE", seorang Bilal bin Rabbah akan sesegera mungkin menjadi murtad saat merasakan dirinya disiksa sebegitu pedih oleh Umayyah, namun tetap berucap "Ahadun Ahad!". Padahal tidak ada satupun yang membelanya! Bukankah ini sekilas nampak gila? Tentu gila bagi mereka yang enggan berpikir cemerlang dan akalnya hanya dipenuhi perhitungan untung-rugi materi.

Bukankah berawal dari sebuah "IDE", lelaki bernama Muhammad itu berhasil merubah wajah kejahilan Arab menjadi peradaban baru yang bernilai, berkembang, perlahan maju dan melakukan banyak futuhat pada masa-masa selanjutnya karena menyebar risalah Islam?

Maka terkait "IDE" yang menggerakkan umat Islam untuk hadir di aksi 212 bukan hal baru. Sebab itu telah terjadi bahkan dimasa Rasulullah sendiri. Akankah masuk akal, jika Ide yang seperti itu (yakni aqidah Islam) menjadi sumber kehancuran negara ini?

Sehingga pantaskah isu-isu Islam radikal, Islam intoleran disematkan pada kaum Muslimin dengan berbaju apapun mereka? Semua ini tidak lain hanya ingin menyebar phobia terhadap Islam dan syari'ah. Supaya para bedebah itu tetap leluasa memanjangkan tangannya demi meraup keuntungan, jadi Syari'ah tidak boleh diterapkan. Bukankah Islam teramat keras melawan kebatilan?

Jadi, mempeributkan tentang jumlah masa dalam aksi 212 bukanlah hal krusial. Pun mempeributkannya sebagai aktifitas politis menjelang pilpres bukanlah esensinya. Melainkan bahwa dalam aksi 212 adalah pembuktian, bahwa tidak mungkin umat Islam tidak bisa bersatu, justru dalil-dalil syar'i terkait ukhuwah Islamiyah terbukti bukan omong kosong. Umat Islam hanya mampu berbeda dalam hal furu', tapi Allah sendiri menjanjikan keutuhan mereka selaksa satu tubuh, yakni dengan sebuah ide yang bernama Aqidah Islam.

Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, apakah menjadi mustahil tegaknya kembali Peradaban Islam itu? Sedangkan peradaban itu hanya mampu berdiri diatas ide atau gagasan yang ditopang oleh banyak tubuh.[MO/ge]

Posting Komentar