Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Bencana beruntun telah menimpa Negeri ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa ada 3 bencana alam yang di nilai sebagai bencana fenomena langka yakni gempa beruntun di NTB, Sulteng gempa di susul tsunami dan likuifaksi yang terbesar di dunia dan tsunami Selat Sunda yang di picu longsor bawah laut.

Donasi Save Muslim Uighur

Di Sulteng terjadi gempa yang  memicu tsunami  dan dalam kurun waktu 4 menit terjadi likuifaksi. Tsunami yang terjadi di Selat Sunda menjadi fenomena yang langka karena di picu oleh longsoran bawah laut dan erupsi dari gunung anak Krakatau. Bencana tanah longsor juga terjadi di Kampung Pangkalan, Desa Sukaratu, Kecamatan Malangbong.

Ketika terjadi bencana alam, maka akan ada 3 hal yang dapat di analisis, pertama azab dari Allah karena kemaksiatan telah merajalela. Kedua, sebagai ujian dari Allah terutama untuk orang beriman. Ketiga, Sunnatullah yang berarti hukum alam.

Jika di kaitkan dengan kemungkinan pertama maka faktanya terbukti dari jajaran penguasa sampai rakyat telah menjauhkan Agama dari kehidupan (Sekulerisme).

Ironisnya Negeri ini menerapkan sebuah sistem yang memetak-metakkan urusan Agama dalam kehidupan sehingga wajar saja jika Allah memberi teguran berupa bencana beruntun. Alam semesta pun tak suka jika  penduduk di bumi tidak taat kepada Allah dan merusak alam semesta.

Seperti firman Allah “Jika kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’ : 16)

Pada saat Rosulullah bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman naik ke bukit uhud, tiba-tiba bukit itu bergoncang. Maka Rosulullah bersabda “ Tenanglah wahai uhud, tidak ada di atasmu kecuali seorang Nabi, Ash Shiddiq dan asy Syahid.’ (HR. Bukhari)

Sebagaimana seruan Umar yang di abadikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.
 Di masa kekhalifahan Umar, tiba-tiba Madinah berguncang. Umar kemudian mengetukkan tongkatnya ke bumi dan mengatakan :

“ Wahai bumi, apakah aku berbuat tidak adil ?” Lalu beliau melanjutkan dengan lantang, “ Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa ? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian.”

Jika di kaitkan dengan ujian, maka Allah menghendaki menguji orang-orang beriman agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani menampakkan serta mewujudkan identitasnya sebagai muslim.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan di biarkan begitu saja mengatakan : ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi.” (QS. Al-Ankabut : 2)

Jika di kaitkan dengan Sunnahtullah maka secara keseluruhan bumi yang di huni oleh manusia rawan terjadi bencana, sebab hukum alam yang di tetapkan Allah atas bumi ini mempunyai hikmah di dalamnya.  Harus ada kesadaran menuju perubahan dengan tunduk pada hukum Syara’.

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di sebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96)[MO/ge]

Posting Komentar