Oleh: Atik Hermawati
(Ibu Rumah Tangga, Bogor)

Mediaoposisi.com- Kementrian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan pangan dan komoditas hortikultura mencukupi pasaran sehingga harga tidak akan bergejolak menjelang Natal dan tahun baru 2019. Jenis pangan dan hortikultura yang dijamin aman tersebut di antaranya daging ayam, daging sapi, telur, cabai keriting dan rawit, maupun beras.

I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, saat diwawancarai di Jakarta (15/12/2018) mengatakan bahwa ketersediaan daging sapi dan kerbau menghadapi Natal dan tahun baru 2019 mencukupi. Berdasarkan perhitungan ketersediaan dan kebutuhan terdapat surplus sebanyak 11.219 ton. Ayam umur sehari (DOC) di tingkat akhir pedagang ayam sebanyak 3.281.345.300. Pemerintah telah melakukan sinergi dengan kepolisian di setiap daerah guna memantau di pasaran (Liputan6.com, 15/12/2018).

Direktur Jenderal Holtikultura Kementan, Suwandi, pun mengungkapkan bahwa ketersediaan berbagai macam cabai di Jabodetabek pun melimpah. Senada dengan Tri Wahyudi, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog yang mengatakan bahwa instansinya kini memiliki stok digudang mencapai 2,4 juta ton (Liputan6.com, 15/12/2018).

Melimpahnya jumlah pangan di berbagai daerah mengindikasikan suburnya lahan dan produktivitas para petani. Namun masyarakat ataupun petani tidak dapat merasakan kemakmuran atas hal ini. Inflasi sudah tak aneh di negeri ini. Kenaikan harga drastis menjelang hari raya atau pergantian tahun pun sudah tradisi. Gejolak ekonomi ini sangat dirasakan masyarakat.

Dampaknya daya beli turun, peningkatan pengangguran, dan daya saing melemah. Membuat para ibu menjerit. Nunung misalnya, seorang ibu rumah tangga berdomisili di Pamijahan, Bogor, mengakui bahwa harga kebutuhan pokok semakin melejit dari tahun ke tahun. Membuat ia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama untuk makan sehingga tak jarang ia berutang atau meminta pada tetangganya.

Masyarakat mengalami goncangan ekonomi secara langsung meskipun mereka tidak tahu tentang kondisi keterpurukan ekonomi negara karena hal itu diluar nalar mereka. Dengan terjun ke lapangan, bisa dipastikan semakin sulitnya kehidupan mereka. Walaupun demikian, pemerintah seolah abai dan tetap menutupi dengan 1001 alasan.

Dilansir dari detik.com, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengaku jengkel dengan keluhan para ibu rumah tangga akan naiknya harga. Menurutnya, mereka harus bisa mandiri mengatasi masalah itu seperti dengan mengambil 2-3 pohon untuk ditanam di halaman rumah. Lanjutnya, hal itu tidak memerlukan lahan yang luas, cukup ditanam di kantung plastik. Hal itu ia tuturkan dalam outlook Agribisnis 2019 di Ritz Carlton, Jakarta pada Rabu (13/12/2018).

Anjloknya Nilai Tukar Rupiah
Menurut INDEF, melemahnya nilai tukar rupiah akan berdampak serius pada perekonomian Indonesia. Aliran modal asing yang keluar semakin tinggi, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor menjadi melemah, beban pembayaran cicilan serta bunga utang luar negeri semakin besar, dan kenaikan harga BBM serta barang atau pangan impor lainnya akibat penyesuaian harga dengan dolar tak terelakkan.

Menurut Bhima Yudhistira, Ekonom INDEF, melemahnya nilai tukar rupiah mengakibatkan cadangan devisa (cadev) Indonesia tergerus akibat digunakan untuk pencegahan lebih parahnya pelemahan rupiah.
“Negara dengan cadev yang rendah dibanding PDB paling rentan terpapar krisis ekonomi. Batas psikologis cadev Indonesia adalah 100 miliar dolar AS. Sekarang posisinya 118,3 miliar dolar AS. Kurang dari itu jadi lampu kuning,” ujar Bhima (Republika.co.id, 02/09/2018).

Pelemahan rupiah ini tidak terlepas dari pemberlakuan mata uang kertas (fiat money) yang nilainya tidak bersandar pada logam murni. Sehingga ketika ekonomi dan politik negara melemah, maka rupiah melemah. Pasokan fiat money yang dapat ditambah dengan otoritas moneter pemerintah, mendorong kenaikan inflasi. Lagi-lagi kenaikan harga pangan yang tak henti. Menyengsarakan masyarakat akibat hajatnya tidak terpenuhi.

Liberalisasi Perdagangan dan Investasi
 Tidak adanya visi negara yang tangguh dan mandiri, membuat produk-produk asing membanjiri negeri. Walaupun SDA begitu melimpah. Produsen lokal dibiarkan bersaing mandiri tanpa ada perlindungan atau dukungan yang memadai. Petani dan lokal harus bergelut dengan alat dan bahan yang harganya semakin tinggi. serta pendistribusian yang sulit atas hasil mereka. Terkadang hasil pertanian mereka hanya dibayar murah oleh mafia atau pemerintah, tak sebanding dengan jerih payah. 

Di saat yang sama para investor asing diberi keleluasaan penuh untuk mendominasi dalam sektor hajat orang banyak. Dilansir dari katadata.co.id (19/12/2018), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Panjaitan, mengatakan pertemuan tahunan IMF –WB di Bali pada Oktober lalu telah meningkatkan kepercayaan dunia kepada Indonesia. Upaya pemerintah menarik investasi pun menjadi lebih mudah. Ia mengatakan bahwa mengejar para investor asing sudah tidak sulit lagi. Hal itu diungkapkan saat berada di Forum Merdeka Barat, Jakarta (18/12/2018).

Akhirnya semua barang yang penting seperti pangan dan produk industri harus mengandalkan impor di tengah melimpahnya produksi dan pangan lokal. Tak peduli dengan keluhan para produsen dan petani dalam negeri.

Kenaikan Permintaan
Dalam kacamata ekonomi kapitalis, tingginya permintaan menyebabkan harga naik. Hal ini biasanya terjadi menjelang hari raya dan tahun baru. Tidak sedikit, kesempatan ini diambil oleh para penimbun untuk menjual bahan-bahan pokok yang telah ditimbunnya.  

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, meminta pemerintah daerah memantau persediaan dan stabilitas harga kebutuhan pokok khususnya menjelang natal dan tahun baru. Menurutnya ada dua periode yang harus diwaspadai terkait kenaikan permintaan kebutuhan pokok, yang dapat menyebabkan lonjakan harga yaitu memasuki Ramadan dan menjelang akhir tahun (Beritasatu.com, 12/11/2018).

Solusi Islam
Islam memiliki sistem ekonomi luar biasa, dimana ketika diterapkan sempurna mampu mengurusi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Dalam Islam, negara mengadopsi standar mata uang emas dan perak baik berupa kedua logam murni tersebut maupun uang kertas yang nilainya ditopang oleh keduanya (uang kertas substitusi). 

Keuntungan sistem uang emas yang paling penting di antaranya yaitu meniscayakan kebebasan pertukaran emas baik impor maupun ekspor, kurs pertukaran mata uang antarnegara bersifat tetap, bank- bank dan pemerintah tidak mungkin memperluas peredaran kertas uang, setiap mata uang di dunia dibatasi standar emas, dan setiap negara akan menjaga kekayaan emas.

Dunia secara keseluruhan telah mempraktikkan sistem uang emas dan perak sejak ditemukannya uang hingga Perang Dunia I. Para imperialis mengubahnya menjadi fiat money sebagai alat penjajahan mereka. Dengan demikian, seharusnya negara ini melirik sistem uang emas dan perak ini. Sehingga inflasi pasti terkendali dan kenaikan harga yang menyengsarakan masyarakat tidak terjadi.

Dalam pandangan Islam pula kebijakan liberalisasi ekonomi dan investasi diharamkan. Negara akan menutup rapat liberalisasi ekonomi ini. Semua sektor terikat dengan hukum syara dan di bawah pengawasan negara. Tidak semua negara diizinkan bekerjasama atau bertransaksi dalam perdagangan, seperti negara yang jelas menjajah dan memusuhi kaum muslim (kafir harbi). Semua barang-barang yang memperkuat penjajahan pun dilarang untuk diimpor. Objek investasi tidak boleh menyentuh kepemilikan umum. Namun demikian, kegiatan investasi di sektor lain menjadi kondusif akibat tidak adanya penarikan pajak. Pajak hanya diambil pada kondisi mendesak (tidak tercukupi kebutuhan pokok masyarakat) dan dari muslim yang mampu. Sehingga daya saing masyarakat tinggi dan produktif.

Selanjutnya untuk kenaikan permintaan yang sering membuat harga melonjak dalam sistem kapitalis saat ini, Islam menyelesaikannya dengan pemenuhan kebutuhan pokok bahkan sekunder dan tersier. Negara berfungsi sebagai pengurus dan penjamin masyarakat. 

Sebenarnya kebutuhan- kebutuhan primer (basic needs) tersebut bersifat terbatas. Kekayaan dan jerih payah (tenaga) yang mereka sebut dengan barang dan jasa di dunia, itu sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan primer ini. Seluruh kebutuhan primer tersebut bisa saja dipenuhi secara menyeluruh oleh masing- masing konsumen. Dengan begitu, tidak akan ada masalah apapun dalam pemenuhan kebutuhan- kebutuhan primer (basic needs) tersebut, apalagi dengan menganggapnya sebagai problem ekonomi yang senantiasa akan dihadapi oleh masyarakat. Problem ekonomi itu sebenarnya hanya terletak pada distribusi harta dan jasa tersebut pada setiap individu, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan primer mereka secara menyeluruh serta membantu mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekunder hingga kebutuhan tersier (Taqiyuddin An Nabhani, Sistem Ekonomi Islam, 33-34).

Adapun intervensi para pemodal dan mafia terhadap kenaikan harga, maka Rasulullah SAW telah mengecamnya dan bersabda, “Siapa saja yang mengintervensi harga di tengah-tengah kaum muslim hingga dia bisa menaikkan harga dan memaksakannya kepada mereka maka kewajiban Allahlah untuk mendudukkannya dengan sebagian besar (tempat duduknya) di atas sebagian besarnya api neraka pada hari kiamat nanti” (H.R. Ahmad). Negara akan memberikan sanksi tegas dan memotong panjangnya rantai suplai para mafia, serta memberikan dukungan berupa dana atau prasarana dan perlindungan kepada para petani dan produsen lokal. Sehingga mereka tidak sulit mendistribusikan hasil panennya yang melimpah. Masyarakat pun dapat menjangkau dengan harga yang sangat murah.

Sudah saatnya sistem ekonomi Islam diterapkan negara secara komprehensif. Menjadikan negara ini kokoh dari intervensi imperialis, mandiri, dan mampu mengurusi urusan masyarakatnya. Selain itu keberkahan dari langit dan bumi akan tercurah. Inilah istimewanya sistem Islam. Aturan yang terpancar berasal dari perintah Allah, Sang Pengatur yang Maha Adil. WalLahu a’lam bi ash-shawab.[MO/sr]

Posting Komentar