Oleh : Sri Retno Ningrum 

Mediaoposisi.com-Islam merupakan agama yang sempurna karena mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan orang lain.

Islam pada hakikatnya memuliakan para pemeluknya dan ketika Islam berkuasa juga menyejahterakan pemeluk agama lain/ non muslim yang bersedia hidup di bawah Islam. Namun, Islam yang mampu mensejahterakan itu akhir-akhir ini sering di cap negatif bagi pemeluknya.Isu Islam teroris, Islam kuno, islam ekstrim dan Islam radikal di sematkan oleh sekelompok orang. Dan para aktivis Islam juga tak luput dari tuduhan seperti kelompok radikal.

Makna radikal
Radikal kata dasar radik berarti akar. Dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti secara mendasar ( sampai kepada prinsip atau sampai ke akar-akarnya. Dapat di artikan sikap maju dalam hal pola pikir/ tindakan) Jika kata radikal di sematkan pada pemahaman agama berarti radikal adalah memahami agama hingga pada prinsip atau ke akanya. Sehingga dapat di artikan Islam bukan hanya agama ritual tapi juga di terapkan dalam bentuk Pemerintahan.

Kebencian barat kepada Islam sungguh luar biasa, terlihat semakin masifnya upaya mereka untuk menjauhkan kaum muslim dari ajaran Islam yang sebenarnya. Lewat Para Penguasa Negeri ini mereka melakukan aksinya.

Hal ini dapat di lihat dari pemberitaan di lansir dari detik.news Badan Intelijen Negara ( BIN) menyebut ada 41 Masjid di lingkungan Pemerintah Wilayah Jakarta terpapar radikalisme. Dengan rincian 11 masjid di Lembaga kementrian , 11 masjid di Lembaga Pemerintahan dan 21 d BUMN. Kemudian menurut Kepala BIN ( Wawan Heri Purwanto) mengatakan kategorian tersebut berdasarkan konten yang di paparkan Penceramah.

Ada 3 pembagian kelompok menurut BIN:

1. 7 Masjid level rendah

2.17 Masjid level sedang

3. 17 Masjid level tinggi

Kepala DMI ( Dewan Masjid Indonesia) Bapak Yusuf Kalla berharap semua pihak dapat membedakan mana materi ceramah yang menyampaikan materi amar ma'ruf nahi munkar dan mana yang di nilai radikal ktika memberikan sambutan di acara pembukaan Rakernas DMI, jumat 23 november 2018(detik.news).

Untuk itu, upaya mencegah radikalisme semakin meluas di Masjid- masjid, Pemerintah khususnya DMI akan melakukan pendekatan dan batasan untuk ceramah di Masjid yakni dengan  memberkan kurikulum bagi Penceramah ketika memberi ceramah di Masjid.

Jusuf Kalla mengatakan di tahun olitik saat ini sangat sulit membedakan materi ceramah yang mengkritik dan memberi saran. Une itu, perlu ada diskusi lebih dalam dengan Pengurus Masjid ( detik.news).

Namun pernyataan Jusuf Kalla berbeda dengan Din Syamsudin,  mengatakan umat Islam jangan percaya tentang Masjid radikal. Utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban Din Syamsudin meragukan hasil survey yang mengungkapkan 41 Masjid terpapar radikalisme . (repubika.co.id. Jakarta).

Din Syamsudin meminta masyarakat tidak mudah mempercayai penilaian yang dapat menimbulkan perpecahan Bangsa, sebab penilaian tersebut bisa di lakukan dengan paradigma salah pada paham radikalisme.

Sejatinya musuh-musuh Islam tidak rela bila umat ini bangkit. Terlebih akan di adakan reuni 212 yang terbukti mampu menyatukan umat Islam meski berbeda madzab, suku, bahasa.Tentu saja, Isu-isu yang di gelontarkan tersebut dapat melemahkan keyakinan umat Islam bahwa Islam dapat berkuasa kembali di muka bumi.

Allah berfirman dalam surah an nur ayat 55 artinya Allah berjanji kepada orang yang beriman dan mengerjakan amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akab menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikab orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhoi-Nya untuk mereka, dan akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.

Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.[MO/ge]

Posting Komentar