Oleh: Harumi, S.Pd
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Mediaoposisi.com-Setara Institute kembali merilis publikasi "Indeks Kota Toleran" pada tahun 2018. Hasil publikasi tersebut menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Salah satunya Walikota Banda Aceh, yang tidak segan-segan menuntut lembaga yang melabeli Banda Aceh sebagai kota intoleran hampir disetiap tahunnya. Karena ketidakjelasan landasan yang dipakai dalam riset tersebut. Hingga kini pihak Setara Institute pun, juga tidak kunjung memberikan penjelasan terhadap hasil riset yang menghebohkan masyarakat.

Dari kalangan tokoh lintas agama juga tidak tinggal diam terhadap label banda aceh sebagai kota intoleran. Mereka membantah bahwa selama bertahun-tahun tinggal di Aceh sebagai kalangan minoritas, kerukunan umat beragama tetap terjaga. Hasil riset tersebut sungguh terlalu memaksakan label intoleran kepada Banda Aceh, padahal fakta justru berbicara sebaliknya. Sebagai pihak luar Setara justru mengusik kerukunan yang terjalin di Banda Aceh melalui riset tersebut.

Justin Lewis, dalam Constructing Public Opinion (2001) mengatakan bahwa menciptakan satu survey menurutnya tak mungkin dilepaskan dari aspek ideologis sang surveyor. Teori ini juga berlaku pada penelitian yang dilakukan oleh Setara Institute. Mereka dikenal sebagai lembaga yang mengusung ide kebebasan HAM dan pluralisme.

Oleh karena itu tak heran apabila mereka kerap kali menyudutkan aktivitas kaum muslim dan mengecapnya sebagai intoleran, apabila dipandang tidak sesuai dengan kacamata pluralisme dan HAM. Sebagaimana pandangan mereka tentang aksi 212, yang dinilai memperburuk kualitas keagamaan di Indonesia. Sekalipun aksi tersebut pada faktanya berjalan dengan tertib,damai dan semakin memperkokoh ukhuwah islamiyah.

Di sisi lain kita bisa mengamati bagaimana sikap Setara Institute terhadap kasus-kasus lainnya yang mengusik umat islam. Misalnya, kasus penistaan agaman terhadap Al Maidah : 51. Mereka berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah termasuk penistaan agama. Pun dengan sikap mereka terhadap LGBT, mereka justru mendukung perilaku menyimpang tersebut dengan dalih anti diskriminasi.

Dari berbagai sikap Setara Institute tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, label toleran dan intoleran merupakan nilai-nilai yang diambil dari sudut pandang pluralisme dan liberalisme. Padahal kedua gagasan tersebut notabenenya bertentangan dengan ajaran islam. Misalnya, agar suatu kota dikatakan toleran maka harus menerima dan melindungi perilaku seks menyimpang atas nama hak asasi manusia.

Hasil publikasi tersebut tidak lain hanyalah untuk menabuh genderang perang kepada kaum muslimin. mereka nyata-nyata memusuhi islam dengan mendiskreditkan ajaran islam kaffah. Mereka memfilter syariat islam dengan standar pluralisme, demi menjauhkan umat kepada ajaran islam yang hakiki. Umat Islam dikatakan toleran apabila sesuai dengan kehendak mereka dan akan dimusuhi apabila bertentangan.

Disinilah pentingnya masyarakat kita perlu berpikir kritis terhadap setiap peristiwa yang menyudutkan Syariat Islam. Musuh Islam tidak akan pernah berhenti dalam melakukan serangan demi serangan untuk mejauhkan masyarakat dari ajaran islam kaffah, kemudian meracuni mereka dengan ide-ide sesat ala barat. Sehingga menjadikan output umat islam yang sesuai dengan pesanan barat. Wallahu alam bishawab.[MO/sr]

Posting Komentar