Oleh: Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com- Reuni Akbar 212 kemarin yang berlangsung di Monas Ahad 2 Desember 2018, nampak nya masih menjadi pembicaraan publik, baik yang pro maupun yang kontra. Peristiwa yang patut dijadikan bagian dari sejarah persatuan umat islam, sayang nya memang tidak di beritakan oleh media Nasional, hanya segelintir media yang memuatnya. Yang tentu saja bertujuan menenggelamkan peristiwa bersejarah tersebut. Namun sayangnya, reuni 212 terlalu besar massa nya dan terlalu kuat dampak nya jadi sangat mustahil luput dari perhatian masyarakat bahkan mancanegara. 

Pihak-pihak yang kontra tanpa sadar sudah mempertontonkan kebodohan mereka, justru mereka telah melancarkan serangan yang menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Contoh nya media nasional yang bungkam, maka masyarakat akan menilai keberpihakan media tersebut dan bersiap untuk meninggalkannya. Apa jadi nya media tanpa pembaca? 

Belum lagi aparat yang menyebutkan jumlah yang tidak rasional , tokoh-tokoh yang menyindir aksi hanya sebuah kegiatan yang sia-sia dan politisi yang mengeluarkan statement tanpa data,yang mudah sekali di patahkan oleh warganet. Pada akhirnya akan menjadi bahan tertawaan. Dan itu semua mereka lakukan hanya karena membela rezim. Sehingga seolah kehilangan akal sehat dengan mengeluarkan statement yang membabibuta. ibarat perahu yang hendak karam, mereka gugup dan akhir nya melompat ke laut. 

Jika ada yang menganggap reuni 212 tersebut agenda kampanye, maka dengan tegas Banwaslu menyatakan tidak menemukan alat peraga kampanye dan calon presiden yang kebetulan di undang itu sama sekali tidak menyampaikan visi misi dan tidak memakai atribut partai. Jadi tudingan itu sudah dijawab sendiri oleh Banwaslu, bukan oleh panitia. 

Jika ada yang mempersoalkan jumlah peserta yang hanya berkisar 40 ribu atau ratusan ribu saja. berdasarkan berbagai info bahwa peserta yang hadir pada kisaran 3 juta sampai 5 juta orang, bahkan jika berdasarkan imei handpone yang tercatat pada saat kejadian mencapai 13 juta.. Ini mengindikasikan bahwa peserta memang dalam jumlah jutaan. 

Bahkan ada lagi yang lebih menyakitkan pernyataan segolongan orang yang mengaitkan kegiatan tersebut dengan Surah Al Baqarah ayat 12 yang menganggap bahwa peserta telah membuat kerusakan. Tentu saja ini tuduhan yang menyakitkan sekaligus tidak masuk akal. Kerusakan apa yang sudah peserta buat, bahkan rumput pun tidak mereka injak. 

Apa sebenarnya yang mendasari para peserta ini untuk datang?. Mengorbankan waktu, tenaga dan materi. Tentu saja ada motivasi yang kuat yang mendasari mereka untuk hadir. Apalagi yang datang dari jauh, bahkan yang dekat pun harus berangkat dari malam hari demi mendapat tempat di monas. Ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan, ada kenyerian yang belum terobati didalam dada umat. 

Banyak nya tudingan radikal, intoleran, anti pancasila dan lain-lain sungguh suatu tuduhan yang paling menyakitkan. Belum lagi persekusi bahkan kriminalisasi kepada ulama yang vokal terhadap kebijakan pemerintah. Dan moment 212 adalah wadah untuk mereka melepaskan semuanya, kerinduan akan persatuan yang mendasari mereka untuk saling bertemu sekaligus pembuktian kepada rezim bahwa umat islam itu mencintai negeri ini dan jauh dari apa yang sudah mereka tuduhkan. 

Peristiwa bersejarah ini seolah menyikap tabir sehingga terang benderang bagaimana sikap rezim sesungguhnya kepada umat islam. Pemcekalan, intimidasi dan diam nya media menjadi bukti bahwa memang persatuan umat islam lah yang mereka takutkan. 

Saat ini umat sudah menorehkan sejarah emas bersatu nya islam dalam kalimat tauhid. Kelak umat akan semakin yakin dan bersatu dibawah satu aturan  yang di turun kan Allah yaitu bersumber pada AL Qur’an dan As Sunnah. [MO/sr]

Posting Komentar