Oleh: Tety Kurniawati 
( Anggota Akademi Menulis Kreatif ) 

Mediaoposisi.com-Tak ada asap jika tak ada api. Tak ada akibat jika tanpa sebab yang menyertai. Maka sia-sia kiranya menghalau asap tanpa berupaya memadamkan api. Hanyalah aksi tanpa reaksi.

Save uyghur

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku jengkel ketika mendengar banyak ibu rumah tangga yang berteriak harga pangan saat ini mahal. Menurut Moeldoko, ibu-ibu rumah tangga tersebut seharusnya bisa lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya dengan menanam sayur-sayuran di rumah. ( eramuslim.com 14/12/18)

Faktanya, harga sejumlah barang kebutuhan pokok disinyalir mulai naik menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru. Komoditas itu di antaranya beras, minyak goreng, cabai, bawang, ayam, telur, daging, dan gula.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyatakan sinyal kenaikan  harga bahan pokok terlihat sejak dua pekan terakhir. Mansuri menjelaskan, lonjakan harga mulai terlihat pada telur yang dua pekan lalu harganya mulai menyentuh Rp 25.700 per kilogram di pasar. Namun sekarang sudah mulai naik tipis  sebesar Rp 26.500 per kilogram. Harga daging ayam juga konsisten berada pada level Rp 40 ribu per kilogram.

Kemudian, harga bawang merah berada pada kisaran Rp 29 ribu per kilogram, bawang putih Rp 27.500 per kilogram, cabai merah besar Rp 39 ribu per kilogram serta cabai rawit merah Rp 34.500 per kilogram. Ikappi mencatat harga beras juga masih stabil tinggi. Mansuri menuturkan, harga beras premium berada pada level Rp 12.500 sampai Rp 12.700 per kilogram. Beras medium juga masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang mencapai Rp 10 ribu per kilogram. ( katadata.co.id 10/12/18)

Bahkan, warga rela antre sejak subuh demi mendapat nomor antrean pengambilan pangan murah di RPTRA Sungai Bambu. Ada 1100 nomor antrean dibagikan RPTRA Sungai Bambu untuk pengambilan pangan murah KJP. ( tribun.jakarta 13/12/18)

Jeritan ibu-ibu kiranya  mewakili suara rakyat yang tengah didera berbagai kesulitan hidup. Mahalnya biaya pendidikan, kesehatan, listrik, pajak dan beraneka biaya lainnya. Tingginya harga BBM dan kini harga kebutuhan pangan yang ikut melambung. Mau tidak mau menguras pikiran dan menambah beban penderitaan. Lantas kemana rakyat berharap solusi dan kepedulian? 

Jika jeritan tak lagi dianggap alarm tuk mengupayakan perbaikan. Tapi justru dianggap sebuah ketidakmandirian.

Matinya rasa empati. Hobi berkelit atas fakta yang dihadapi. Sesungguhnya merupakan bukti kegagalan rezim dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Semua berpangkal dari diembannya sistem ekonomi liberal-kapitalis. Sistem yang meniscayakan terakomodirnya kepentingan para pemilik kapital. Meski harus menghadirkan kesengsaraan bagi warga kebanyakan.

Wajar jika kemudian siklus kenaikan harga pangan terus berulang  karena ancaman inflasi yang dipicu kebijakan kenaikan bahan bakar minyak ( BBM) dan tarif dasar listrik ( TDL).

Impor senantiasa dijadikan senjata andalan atasi kelangkaan pangan. Ketidakvalidan data jadi penyebab masalah dalam penentuan kebijakan. Di rantai distribusi penimbunan, permainan harga merupakan kelaziman. Komoditas dikuasai oleh para pemilik kapital hingga negara tak mampu mengendalikan pasokan. Alih-alih segera berupaya mencari solusi, berkelit jadi tameng kelemahan diri.
Islam sebagai petunjuk hidup yang sempurna.

Memiliki tata kelola pangan yang menjamin ketersediaan dan kemudahan akses terhadap bahan pangan. Adalah tugas penguasa muslim untuk memastikan pemenuhannya. Baik melalui pengembangan aktifitas produksi lewat pembinaan skill petani maupun budidaya komoditas pangan. Penerapan aturan yang tegas terkait penggunaan lahan dan alih fungsi lahan. Memupuk kemandirian dalam produksi pangan. Impor boleh selama diperlukan dan tidak menimbulkan ancaman kedaulatan.

Islam juga mengharamkan penimbunan, permainan harga, dan liberalisasi yang menjadi jalan neoimperialisme. Pelanggaran terhadanya pun dikenai sangsi tegas. Sabda Rasulullah SAW : " Siapa yang turut campur dari harga kaum muslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada hari kiamat kelak" ( HR Ahmad, al-Baihaqi, ath-Thabarani)

Demikianlah keseriusan Islam menangani masalah pangan. Hingga tak ada celah bagi tumbuh suburnya kemaksiatan. Kesejahteraan umat pun mewujud nyata dalam kehidupan. Seiring diterapkannya syariah mengatur segala aspek kehidupan.

Posting Komentar